BOMBANA, TELISIK.ID - Investigasi Satya Bumi bersama Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sulawesi Tenggara (Sultra) mengungkap pencemaran lingkungan serius di Pulau Kabaena, Kabupaten Bombana. Sejak ditetapkan sebagai kawasan pertambangan bijih nikel pada 2010, kondisi kesehatan warga setempat dilaporkan terus memburuk.
Hasil penelitian menunjukkan kadar logam berat jenis nikel dalam urine warga berkisar antara 4,77 hingga 36,07 mikrogram per liter (µg/L), dengan rata-rata 16,65 µg/L. Angka ini jauh melebihi ambang batas normal bagi populasi umum yang tercatat hanya 1,11 µg/L, menurut data National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) Amerika Serikat.
Sebagai perbandingan, kadar nikel dalam urine masyarakat di kota-kota besar seperti Beijing dan Shanghai hanya mencapai 3,63 µg/L, dan di komunitas dekat smelter nikel di Norwegia sebesar 3,4 µg/L.
“Artinya, warga Kabaena terpapar nikel 5 hingga 30 kali lebih tinggi dari populasi umum, dan 1,5 hingga 10 kali lebih tinggi dari komunitas yang tinggal dekat industri nikel aktif,” kata Salma Inaz, dari Tim Kampanye Satya Bumi, Senin (30/6/2025).
Baca Juga: Gubernur Sultra Sentil Pemilik Tambang, Ambil Untung tapi Tak Bayar Pajak
