4.057 Warga Sultra Telah Rapid Test di Labkesda Sultra, Semuanya Negatif

Siswanto Azis

Reporter

Minggu, 21 Juni 2020  /  9:10 am

Suasana rapid test di Lab Dinkes Sultra. Foto: Siswanto Azis/Telisik

KENDARI, TELISIK.ID - Memasuki hari ke-2 rapid test gratis oleh Dinas Kesehatan Sulawesi Tenggara di Lab di Dinkes Sultra, 4.057 orang berhasil dirapid.

Plt Dinas Kesehatan Sulawesi Tenggara, dr. H. Muhammad Ridwan, M.Si mengatakan, dari 4.057 orang yang telah mengikuti rapid test sejak tanggal 30 Mei 2020 hingga hari ini, hasilnya semuanya non reaktif atau negatif.

“Semua warga yang telah dirapid test, Alhamdulillah hasilnya non reaktif. Dan ini akan terus berjalan sampai benar-bebar wabah COVID-19 hilang dari Sultra,” ujar dr. Ridwan Kepada Telisik.id, Minggu (22/6/2020).

dr. Ridwan mengatakan, pemerintah akan terus melakukan tes masif massal melalui rapid test untuk menemukan kasus COVID-19 di tengah masyarakat.

Namun menurutnya, ada sejumlah masyarakat justru takut untuk melakukan rapid test, bahkan, di beberapa daerah terjadi penolakan pelaksanaan rapid test massal.

dr Muh Ridwan menegaskan, rapid test ini tidak perlu ditakuti. Tes ini hanya proses skrining untuk menemukan kasus positif COVID-19. Penemuan kasus positif atau negatif alurnya sudah jelas.

Baca juga: Wawancara Khusus Ketua DPRD: Telusuri Visa 500 TKA Akan Masuk Sultra

Kalau ada ditemukan reaktif maka akan langsung dilanjutkan pada swab test melalui metode polymerase chain reaction (PCR). Jika PCR negatif, bisa berkegiatan seperti biasa.

"Kalau sudah negatif, ya sudah berarti bisa beraktivitas. Aktivitas yang memang diperbolehkan dan harus selalu menjalankan protokol kesehatan," jelasnya

Tetapi jika dalam rapid test tersebut ditemukan kasus positif maka akan dilanjutkan lagi dengan tes PCR untuk memastikan terinfeksi COVID-19 atau tidak.

Sehingga, bisa segera dilakukan isolasi atau rawatan. dr Ridwan pun meminta selama menunggu hasil tes PCR, harus melakukan isolasi untuk mencegah terjadinya penularan COVID-19.

"Selama menunggu hasil tes PCR, mereka harus isolasi. Isolasinya kan bisa isolasi mandiri dulu di rumah, tidak pergi kemana-mana" tutup dr. Ridwan

Repoter: Siswanto Azis

Editor: Haerani Hambali