BBM Subsidi Paksa Warga Kendari Rela Antre 4 Jam di SPBU
Reporter
Senin, 24 Agustus 2026 / 6:39 pm
Antrean kendaraan yang akan mengisi BBM di SPBU Teratai Kota Kendari, Senin (24/8/2026). Foto : Wa Ode Marfat /Telisik
KENDARI,TELISIK.ID - Panas matahari belum terlalu tinggi, tapi antrean kendaraan di SPBU Teratai, Kota Kendari, sudah mengular sepanjang hampir 1 kilometer, Senin (24/8/2026). Dari motor sampai mobil pribadi, semua mengantre dengan tujuan hanya untuk mengisi BBM bersubsidi.
Sudah hampir sepekan ini pemandangan serupa terjadi di berbagai SPBU di Kendari. Mulai dari SPBU Rabam, SPBU Anduonohu, SPBU THR, SPBU Tapak Kuda, hingga SPBU Teratai. Antrean bukan hanya panjang, tapi juga memakan waktu berjam-jam.
Selisih Harga Jadi Alasan Utama
Mahalnya harga BBM nonsubsidi membuat warga berbondong-bondong memilih Pertalite. Dengan selisih harga yang cukup jauh, banyak warga merasa lebih hemat meski harus mengorbankan waktu.
Baca Juga: 17 Paguyuban Ramaikan Lomba Kemerdekaan IWSS Sultra, Adu Kreativitas hingga Kuliner Khas Sulsel
"Kalau isi Pertamax bisa habis 100 ribu lebih. Kalau Pertalite kan lebih murah. Mending ngantre 3-4 jam, lumayan selisihnya bisa buat beli beras," ujar Rina, ibu rumah tangga yang sudah sejak pukul 06.00 Wita mengantre di SPBU Anduonohu.
Hal senada disampaikan oleh Suhadi yang bekerja sebagai driver ojek online. Baginya, selisih beberapa ribu rupiah per liter sangat terasa di akhir bulan.
Rudi, pengawas SPBU Teratai, membenarkan bahwa antrean panjang dipicu oleh perbedaan harga yang belum normal.
"Memang antrean ini penyebabnya adalah perbedaan harga yang saat ini masih belum normal. Jadi warga banyak memilih harga yang hemat dan rela mengantre berjam-jam di bahu jalan," katanya.
Menurut Rudi, stok BBM di SPBU-nya tidak kosong. Namun jumlah kendaraan yang datang jauh lebih banyak dari biasanya. Petugas terpaksa harus mengatur antrean sampai ke badan jalan agar tidak menimbulkan keributan.
Bagi sebagian warga, waktu 4 jam di antrean adalah "investasi" demi penghematan. Tapi bagi pekerja harian, waktu itu adalah ongkos yang hilang.
Banyak pengendara mengaku berangkat subuh agar kebagian antrean depan. Ada juga yang membawa bekal dan jas hujan, karena antrean bisa molor sampai siang.
Hingga saat ini warga berharap ada solusi dari pemerintah dan Pertamina. Entah itu penambahan kuota, pengawasan distribusi, atau kebijakan lain agar selisih harga tidak terlalu jauh dan antrean bisa kembali normal.
Karena bagi warga Kendari saat ini, pilihannya sederhana: hemat uang, atau hemat waktu. (A)
Penulis : Wa Ode Marfat
Editor: Mustaqim
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS