Dosen Universitas Pelita Ibu Kenalkan Merarangi Sehat di Wawonii, Tradisi Lokal Ibu Nifas Tetap Dipertahankan

Ahmad Jaelani, telisik indonesia
Minggu, 23 Agustus 2026
0 dilihat
Dosen Universitas Pelita Ibu Kenalkan Merarangi Sehat di Wawonii, Tradisi Lokal Ibu Nifas Tetap Dipertahankan
Dosen Universitas Pelita Ibu mengenalkan Merarangi Sehat kepada masyarakat Wawonii, memadukan tradisi lokal dengan prinsip kesehatan ibu nifas. Foto: Ist.

" Dosen Universitas Pelita Ibu mengenalkan Merarangi Sehat kepada masyarakat Wawonii melalui Posyandu sebagai pengembangan tradisi perawatan ibu nifas berbasis kearifan lokal "

KONAWE KEPULAUAN, TELISIK.ID - Dosen Universitas Pelita Ibu mengenalkan Merarangi Sehat kepada masyarakat Wawonii melalui Posyandu sebagai pengembangan tradisi perawatan ibu nifas berbasis kearifan lokal.

Tim dosen Universitas Pelita Ibu melaksanakan sosialisasi dan edukasi Merarangi Sehat kepada masyarakat Wawonii melalui kegiatan Posyandu di wilayah kerja Puskesmas Langara.

Kegiatan yang berlangsung di Desa Wawolaa, Kabupaten Konawe Kepulauan, tersebut menjadi tahap awal pengembangan kearifan lokal dalam perawatan ibu masa nifas dengan tetap mempertahankan nilai budaya serta memperhatikan prinsip keselamatan dan kesehatan.

Kegiatan dipimpin Dr. Ns. Fajar Kurniawan, S.Kep., M.Kes. selaku ketua tim, bersama Sekretaris Bdn. Sulfianti A. Yusuf, SST., MH.Kes. dan Bd. Indah, SST., M.Kes. Kegiatan juga didampingi Ketua Program Studi S1 Kebidanan Universitas Pelita Ibu, Bd. Putri Rosanti Caesaria, S.Keb., M.Keb., serta melibatkan mahasiswa dan kader Posyandu.

Berkoordinasi dengan Lembaga Adat

Sebelum sosialisasi kepada masyarakat, tim dosen terlebih dahulu melakukan konsultasi dan koordinasi dengan Lembaga Adat Kabupaten Konawe Kepulauan.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan pengembangan Merarangi Sehat tetap menghormati nilai, pengetahuan, dan praktik budaya yang berkembang di tengah masyarakat Wawonii.

Baca Juga: Dosen Universitas Pelita Ibu Transformasi Tradisi Merarangi Warga Wawonii untuk Kesehatan Ibu Nifas

Dalam sosialisasi, masyarakat diberi ruang untuk menyampaikan pengalaman serta pengetahuan mengenai praktik Merarangi yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Masukan masyarakat tersebut menjadi bagian dari proses pengembangan Merarangi Sehat agar tetap memiliki keterkaitan dengan budaya lokal dan dapat disesuaikan dengan prinsip kesehatan.

Merarangi Sehat Bukan Menghapus Tradisi

Tim dosen menjelaskan bahwa Merarangi Sehat merupakan pengembangan dari praktik tradisional, bukan upaya menghapus tradisi Merarangi yang telah dikenal masyarakat Wawonii.

Sejumlah unsur positif, seperti kehangatan, perhatian keluarga, dukungan sosial, dan penggunaan bahan herbal tetap dipertahankan. Pelaksanaannya kemudian ditata dengan prosedur yang lebih terukur serta memperhatikan keselamatan ibu.

Dalam penerapannya, Merarangi Sehat diawali dengan skrining kondisi ibu dan pemeriksaan tanda vital. Jika ditemukan tanda bahaya atau kondisi yang tidak memungkinkan, tindakan tidak dilanjutkan dan ibu mendapatkan evaluasi atau rujukan sesuai kebutuhan.

Jika kondisi ibu dinyatakan stabil, proses dilanjutkan dengan persiapan alat, bahan, dan ruangan. Selanjutnya diberikan uap herbal hangat dengan suhu terkontrol 40–42 derajat Celsius selama 15–20 menit.

Selama pemberian uap, kondisi ibu tetap dipantau. Apabila muncul pusing, mual, lemas, jantung berdebar, sesak, atau keluhan lainnya, tindakan segera dihentikan untuk dilakukan evaluasi.

Jika kondisi ibu tetap stabil, rangkaian dilanjutkan dengan pemberian minuman herbal hangat sebanyak 200–250 mililiter,u istirahat selama 20–30 menit, kemudian mandi menggunakan air hangat.

Setelah seluruh rangkaian selesai, dilakukan pemantauan ulang, edukasi kepada ibu dan keluarga, dokumentasi, serta tindak lanjut sesuai kondisi ibu.

Dosen Tekankan Keselamatan Ibu

Ketua tim dosen, Dr. Ns. Fajar Kurniawan, S.Kep., M.Kes., mengatakan pengembangan Merarangi Sehat merupakan upaya mempertemukan kearifan lokal dengan pendekatan kesehatan.

"Nilai budaya yang baik tetap kita pertahankan, tetapi pelaksanaannya perlu memperhatikan keselamatan ibu. Karena itu, Merarangi Sehat dikembangkan dengan skrining, pengaturan suhu dan durasi, pemantauan kondisi ibu, edukasi, serta dokumentasi," ujar Fajar dalam keterangan tertulis, Minggu (23/8/2026).

Sementara itu, Ketua Program Studi S1 Kebidanan Universitas Pelita Ibu, Bd. Putri Rosanti Caesaria, S.Keb., M.Keb., mengatakan kegiatan tersebut masih berada pada tahap sosialisasi dan edukasi awal.

"Kegiatan ini masih dalam tahap sosialisasi. Kami sedang mempersiapkan proses pengkajian bersama para pakar yang telah dilibatkan agar pengembangannya dilakukan secara bertahap dan memiliki dasar akademik yang kuat. Setelah melalui proses tersebut, Merarangi Sehat diharapkan dapat dikembangkan untuk diarahkan dalam asuhan kebidanan komplementer," jelasnya.

Menurut Putri, pengembangan Merarangi Sehat sejalan dengan arah Program Studi S1 Kebidanan Universitas Pelita Ibu dalam mengembangkan kompetensi lulusan di bidang asuhan kebidanan komplementer pada masyarakat pesisir dan kepulauan.

"Kami melihat Merarangi Sehat memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut. Namun, prosesnya harus dilakukan secara bertahap dengan melibatkan masyarakat, lembaga adat, tenaga kesehatan, dan para pakar agar tetap sesuai dengan budaya Wawonii serta memiliki dasar akademik yang dapat dipertanggungjawabkan," tambahnya.

Baca Juga: Pengabdian S1 Farmasi Universitas Pelita Ibu Perkuat Kader Posyandu Dampingi Pasien Prolanis

Libatkan Masyarakat hingga Tenaga Kesehatan

Sosialisasi Merarangi Sehat melibatkan berbagai unsur, mulai dari Lembaga Adat Kabupaten Konawe Kepulauan, Puskesmas Langara, kader Posyandu, masyarakat Wawonii, dosen, mahasiswa, hingga para pakar.

Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari proses pengembangan agar aspek budaya lokal, kebutuhan masyarakat, dan ilmu kebidanan dapat dipertimbangkan secara bersama.

Bagi mahasiswa, kegiatan ini juga menjadi pengalaman pembelajaran lapangan untuk memahami bahwa asuhan kebidanan tidak hanya berkaitan dengan aspek klinis, tetapi juga perlu memperhatikan karakteristik sosial dan budaya masyarakat.

Sosialisasi perdana tersebut menjadi bagian dari kontribusi Universitas Pelita Ibu dalam pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat berbasis kebidanan komplementer serta kearifan lokal masyarakat pesisir dan kepulauan.

Pengembangan Merarangi Sehat selanjutnya akan dilakukan melalui tahapan kajian, evaluasi, dan kolaborasi. Tahapan tersebut diperlukan sebelum Merarangi Sehat diarahkan menjadi bagian dari pembelajaran maupun pengembangan asuhan kebidanan komplementer. (D-Adv)

Penulis: Ahmad Jaelani

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga