Bisnis Digital Menjamur di Sultra, BPS Bongkar Wajah Ekonomi 2026
Reporter
Selasa, 04 Agustus 2026 / 10:21 am
Statistisi Ahli Madya BPS Sultra, Erra SeptyVibriane, saat memberikan penjelasan terkait pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 di Sulawesi Tenggara. Foto: Erni Yanti/Telisik
KENDARI, TELISIK.ID - Perkembangan bisnis digital menjadi salah satu fenomena yang ikut dibidik dalam Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) di Sulawesi Tenggara (Sultra).
Setelah satu dekade sejak sensus ekonomi terakhir pada 2016, perubahan pola masyarakat dalam menjalankan usaha semakin terlihat. Aktivitas perdagangan yang sebelumnya banyak berlangsung secara konvensional kini bergeser ke ruang digital melalui berbagai platform e-commerce.
Statistisi Ahli Madya BPS Sultra, Erra SeptyVibriane mengatakan, perkembangan ekonomi digital menjadi salah satu hal yang akan tergambar melalui pelaksanaan SE2026.
“Kalau usaha industri digital atau e-commerce sekarang kan booming sekali. Kita mau catat, kita mau melihat seberapa besar ekonomi dari digital tersebut,” kata Erra, Senin (3/8/2026).
Perkembangan teknologi membuat aktivitas usaha kini tidak selalu ditandai dengan keberadaan toko atau tempat usaha secara fisik.
Masyarakat dapat menjalankan bisnis dari rumah, memasarkan produk melalui platform digital, hingga melayani konsumen dari berbagai daerah.
Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus bagian penting yang perlu dipotret dalam sensus ekonomi.
Baca Juga: Neraca Perdagangan Sulawesi Tenggara Defisit 9,24 Juta US Dolar di Juni 2026, Ini Penyebabnya
Erra menyebut, berbagai platform perdagangan digital seperti Shopee dan Tokopedia menjadi contoh perubahan pola bisnis yang berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir.
BPS ingin melihat seberapa besar aktivitas ekonomi tersebut telah menjadi bagian dari perekonomian Sultra.
Namun, Erra menegaskan pihaknya belum dapat menyimpulkan sektor mana yang paling dominan karena proses pengumpulan data masih berlangsung.
Petugas BPS melakukan pendataan secara door to door, menyasar rumah tangga maupun pelaku usaha yang belum terjangkau.
Pendataan tersebut dijadwalkan berlangsung hingga 31 Agustus 2026. BPS Sultra optimistis seluruh usaha maupun bangunan rumah keluarga yang menjadi sasaran dapat didatangi.
“Alhamdulillah sejauh ini untuk warga di Sulawesi Tenggara itu responsif. Kalau ditanya petugas, mereka mau menjawab, mau mengisi,” ujarnya.
Menurut Erra, SE2026 memiliki arti penting karena sensus ekonomi dilakukan setiap 10 tahun.
Sementara itu, kondisi ekonomi Sultra telah mengalami banyak perubahan sejak 2016. Karena itu, sensus kali ini diharapkan menghasilkan potret ekonomi yang lebih relevan dengan kondisi saat ini.
Selain ekonomi digital, BPS juga memperhatikan keterlibatan usaha dalam ekonomi hijau.
Data yang terkumpul nantinya diharapkan dapat menggambarkan sektor-sektor ekonomi yang berkembang, termasuk perubahan struktur usaha di Sultra.
Erra menegaskan, BPS berperan menyediakan data, sedangkan pemerintah dan pembuat kebijakan dapat menggunakan data tersebut sebagai dasar dalam menentukan arah pembangunan.
“BPS itu kerjanya mendata, ibaratnya kalau BPS itu cuma tukang foto. Kita lihat, kita foto, kondisinya seperti ini, kemudian hasil foto itu akan digunakan oleh pemerintah atau pembuat kebijakan,” jelasnya. (C)
Penulis: Erni Yanti
Editor: Kardin
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS