Neraca Perdagangan Sulawesi Tenggara Defisit 9,24 Juta US Dolar di Juni 2026, Ini Penyebabnya
Wa Ode Marfat, telisik indonesia
Senin, 03 Agustus 2026
0 dilihat
Ahli Statistisi Madya BPS Sultra, Erra Septy Vibriane, menyampaikan laporan perkembangan ekspor-impor Sultra, Senin (3/8/2026). Foto: Wa Ode Marfat/Telisik
" Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai neraca perdagangan Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) pada Juni 2026 mengalami defisit sebesar US$9,24 juta. Kondisi ini jauh berbeda dengan periode yang sama di tahun sebelumnya yang mengalami surplus sebesar US$254,37 juta "

KENDARI, TELISIK.ID - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai neraca perdagangan Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) pada Juni 2026 mengalami defisit sebesar US$9,24 juta. Kondisi ini jauh berbeda dengan periode yang sama di tahun sebelumnya yang mengalami surplus sebesar US$254,37 juta.
Ahli Statistisi Madya BPS Sultra, Erra Septy Vibriane, menjelaskan defisit neraca perdagangan ini disebabkan pertumbuhan nilai impor Sultra jauh lebih besar dibanding nilai ekspor dalam periode yang sama.
Nilai ekspor Sultra pada Juni 2026 tercatat sebesar US$321,05 juta atau mengalami peningkatan 1,25 persen dibanding Juni 2025 yang tercatatat sebesar US$317,07 juta.
"Sementara, nilai impor pada Juni 2026 tercatat US$330,29 juta atau mengalami peningkatan sebesar 426,77 persen dibanding impor Juni 2025 yang tercatat US$62,70 juta," jelas Erra, Senin (3/8/2026).
Di sisi lain, volume ekspor tercatat sebesar 198,85 ribu ton (turun 15,35 persen) dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 235,02 ribu ton.
Erra menjelaskan, ekspor Sultra dibedakan berdasarkan ekspor langsung dan ekspor tidak langsung. Jika dicermati perkembangannya, nilai ekspor langsung pada Juni 2026 sebesar US$288,40 juta atau turun 2,84 persen dibanding Juni 2025 yang tercatat sebesar US$296,84 juta.
Baca Juga: SD Negeri 48 Kendari Cetak Prestasi, Perkuat Kemitraan untuk Tingkatkan Mutu Pendidikan
"Sejalan dengan itu, volume ekspor langsung turun sebesar 18,33 persen dari 227,32 ribu ton pada Juni 2025 turun menjadi 185,65 ribu ton pada Juni 2026," sebutnya.
Sedangkan ekspor menurut golongan barang utama, sambung Erra, didominasi oleh kelompok komoditas besi dan baja dengan nilai US$1.888,68 juta; kelompok komoditas ikan dengan nilai US$19,15 juta; dan kelompok komoditas daging dan ikan olahan senilai US$5,80 juta.
"Peningkatan terbesar ekspor Sulawesi Tenggara Juni 2026 dibandingkan Juni 2025 terjadi pada komoditas besi dan baja senilai US$2,71 juta, naik 0,87 persen," ungkap Erra.
Adapun negara tujuan ekspor utama Sultra pada bulan Januari–Juni 2026 yaitu Tiongkok, India, Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Puerto Rico. Peranan kelima negara tersebut mencapai 99,75 persen dari total ekspor Sultra selama periode ini.
"Total ekspor Sultra Januari–Juni 2026 didominasi oleh sektor industri pengolahan sebesar US$1.919,56 juta atau 99,83 persen. Di posisi kedua adalah sektor pertanian sebesar US$3,19 juta atau 0,17 persen.
BPS Sultra juga mencatat, nilai impor pada Juni 2026 tercatat US$330,29 juta atau mengalami peningkatan sebesar 426,77 persen dibanding impor Juni 2025 yang tercatat US$62,70 juta.
Sejalan dengan itu, volume impor pada Juni 2026 tercatat sebesar 600,02 ribu ton atau naik 150,53 persen dibanding volume impor Juni 2025 yang tercatat sebesar 239,50 ribu ton.
Baca Juga: Lahan Warga di Puuwatu Kendari Tiba-tiba Digusur, SHM 2002 Masih Diklaim Aktif
Erra menyebutkan, Impor Sultra antara lain dari komoditas mesin-mesin/pesawat mekanik, bahan bakar mineral, mesin/peralatan listrik, bijih, kerak, dan abu logam, dan kendaraan dan bagiannya.
"Selama periode Januari 2024–Juni 2026, nilai impor Sulawesi Tenggara tertinggi tercatat pada April 2026 dengan nilai mencapai US$453,05 juta dan terendah tercatat di Juni 2025 yaitu US$62,70 juta. Sementara itu, volume impor tertinggi tercatat pada Mei 2026 yang mencapai 776,11 ribu ton dan terendah di Juli 2024 dengan volume 205,36 ribu ton," bebernya.
Menurut golongan barang, impor Sultra Januari–Juni 2026 didominasi oleh kelompok komoditas mesin-mesin/pesawat mekanik senilai US$914,56 juta (45,50 persen), dan di urutan kedua adalah kelompok komoditas bahan bakar mineral senilai US$756,20 juta (37,62 persen).
"Dilihat dari peranannya, total lima golongan barang memberikan kontribusi sebesar 92,96 persen terhadap total impor Sulawesi Tenggara Januari–Juni 2026," ungkapnya.
Kemudian menurut negara asal barang, sebut Erra, tercatat peningkatan nilai impor tahunan dari negara Tiongkok senilai US$217,19 juta atau naik 885,26 persen, dan negara Singapura naik senilai US$31,86 juta atau naik 322,47 persen. Di sisi lain, nilai impor dari negara Malaysia turun senilai 0,57 juta atau turun 2,55 persen.
"Dilihat dari peranannya, total dari lima negara utama selama Januari–Juni 2026 adalah 97,50 persen terhadap total impor dengan rincian Tiongkok sebesar 62,50 persen, diikuti Singapura sebesar 20,58 persen, dan Malaysia sebesar 8,49 persen," sebutnya. (C)
Penulis :Wa Ode Marfat
Editor: Mustaqim
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS