Budaya Unik Jelang Idul Fitri di Sulawesi Tenggara
Content Creator
Senin, 16 Maret 2026 / 9:32 am
Masyarakat Muna dan Buton masih setia menjaga haroa atau baca-baca. Foto: Repro Antara
KENDARI, TELISIK.ID - Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 H, masyarakat Sulawesi Tenggara (Sultra) tak hanya sibuk menyiapkan ketupat dan opor, tapi juga menghidupkan ragam tradisi adat yang kental dengan nilai silaturahmi, syukur, dan kebersamaan.
Dari Kota Kendari hingga pulau-pulau terpencil seperti Binongko di Wakatobi dan Muna, tradisi lokal ini menjadi daya tarik tersendiri yang terus dilestarikan turun-temurun.
Salah satu yang paling khas di Kota Kendari adalah Masiara, tradisi saling berkunjung antar keluarga, tetangga, dan handai tolan.
Setelah Salat Id, warga berbondong-bondong mengunjungi rumah satu sama lain untuk saling memaafkan, bertukar kabar, dan menikmati hidangan lebaran.
Tradisi ini tak sekadar open house, tapi sarana merajut tali persaudaraan yang kadang renggang karena kesibukan sehari-hari, dilansir dari Panduan Rakyat, Senin (16/3/2026).
Baca Juga: Tradisi Unik Peringatan Nuzulul Quran di Nusantara
Sementara itu, di Kabupaten Muna, khususnya Kota Raha, masyarakat masih setia menjaga Haroa atau “baca-baca”. Tradisi syukuran ini dimulai sejak pagi.
Para ibu menyiapkan aneka makanan khas seperti lapa-lapa, kue cucur, pisang goreng srikaya, wajik, ayam parende, dan ayam kagule.
Semua ditata rapi di dalam tudung (anyaman) berbentuk lingkaran, ditutup kain putih, dan dialasi daun pisang. Setelah salat Magrib, para tetua kampung memimpin doa bersama sambil duduk bersila.
Tak kalah unik, di Pulau Binongko, Kabupaten Wakatobi, ada Polei Lei atau Polelei. Tradisi turun-temurun ratusan tahun ini dilakukan pada siang hari Lebaran.
Warga berkumpul di satu titik, lalu menggelar pawai keliling kampung sambil bertamu dari rumah ke rumah di Kelurahan Palahidu dan Rukuwa.
Mereka singgah di setiap rumah tanpa pandang dekat atau jauh, saling berjabat tangan, bertukar cerita, dan menyantap kudapan bersama.
Baca Juga: Kuliner Buka Puasa Viral Ramadan 2026, dari Takjil Unik hingga Sajian Kekinian
Selain itu, malam takbiran di berbagai daerah Sultra seperti Kolaka dan Kendari juga dimeriahkan dengan pawai takbir keliling kampung, lengkap dengan obor dan lantunan takbir yang menggema hingga larut malam menciptakan suasana khidmat sekaligus meriah.
Tradisi-tradisi ini bukan hanya warisan leluhur, tapi juga pengingat bahwa Lebaran di Sultra lebih dari sekadar hari libur.
Di tengah modernisasi, nilai kebersamaan dan syukur tetap hidup kuat, terutama saat masyarakat adat Tambrauw, Muna, Buton dan Wakatobi bersatu dalam kegembiraan Idul Fitri. (C)
Penulis: Merdiyanto
Editor: Kardin
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS