Launching Program LISA, SMPN 10 Kendari Peduli Lingkungan Sekolah
Reporter
Selasa, 03 Februari 2026 / 1:05 pm
Kepala SMPN 10 Kendari, Attia Yuliana Djamal, saat launching program LISA (Liat Sampah Ambil) sebagai bentuk kepedulian terhadap kebersihan lingkungan sekolah. Foto: Ist.
KENDARI, TELISIK.ID - SMPN 10 Kendari resmi melaunching program kebersihan sekolah bertajuk LISA (Lihat Sampah Ambil) yang dilaksanakan pada siang hari, sebagai upaya membangun budaya positif peduli lingkungan di sekolah, Senin (2/2/2026).
Launchingnya program tersebut ditandai dengan peresmian bak sampah LISA dan menjadi bagian dari komitmen sekolah dalam mendukung kebijakan pemerintah daerah, provinsi, hingga Pemerintah Pusat terkait pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, khususnya di satuan pendidikan.
Melalui program ini, setiap siswa diminta mengambil sampah non-organik di sekitar sekolah, kemudian membuangnya ke tempat yang telah disediakan. Sampah itu berfungsi sebagai “tiket” agar siswa bisa keluar dari lingkungan sekolah. Jika tidak membawa sampah, gerbang sekolah belum akan dibuka.
Kepala SMPN 10 Kendari, Attia Yuliana Djamal mengatakan, program LISA ini sudah berjalan sekitar dua pekan. Ia menyebut, pendekatan ini dipilih agar siswa tidak hanya paham teori kebersihan, tetapi juga terbiasa mempraktikannya dalam keseharian.
Baca Juga: SDN 6 Kendari Konsisten Lestarikan Budaya Lokal, Musik Bambu jadi Ikon Sekolah
"Melalui program ini, kita latih kepekaan atau refleks para siswa. Begitu melihat sampah, mereka langsung ambil dan simpan, lalu dibuang sebelum pulang dan itu menjadi tiket pulang mereka,” ujar Attia.
Menurut Attia, kebijakan tersebut bukan bertujuan untuk membatasi siswa, melainkan membentuk kebiasaan baik sejak dini. Ia berharap, kepedulian terhadap lingkungan bisa tumbuh secara alami tanpa harus terus diingatkan oleh guru.
Baca Juga: SDN 7 Kendari Tingkatkan Keamanan dan Potensi Siswa di Bawah Kepemimpinan Ruwaedah
Pihak sekolah juga mulai mengelola sampah plastik seperti botol dan gelas minuman melalui dua skema, yakni dimanfaatkan sebagai bahan kegiatan eco print serta dijual ke pihak pengepul yang telah menjalin kerja sama dengan sekolah. Ke depan, sekolah juga akan mengembangkan program pemilahan sampah organik dan non-organik secara bertahap.
Ia juga menegaskan bahwa sekolah menerapkan sanksi yang bersifat edukatif dan normatif, bukan fisik, bagi siswa yang melanggar aturan kebersihan.
"Alhamdulilah sekarang sudah terlihat perubahan cukup signifikan. Lingkungan sekolah menjadi lebih bersih, tertib, dan nyaman,” pungkasnya. (C)
Penulis: Gede Suyana Sriski
Editor: Kardin
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS