Membaca Isra Miraj di Era Digital
Penulis
Sabtu, 17 Januari 2026 / 12:34 pm
Dr. H. Muh. Ikhsan, M.Ag, Dosen Pemikiran Islam IAIN Kendari. Foto: Ist.
Oleh: Dr. H. Muh. Ikhsan, M.Ag
Dosen Pemikiran Islam IAIN Kendari
DUNIA hari ini bergerak secara horizontal. Manusia berpindah dari satu layar ke layar lain, dari satu ruang digital ke ruang digital berikutnya, tanpa pernah benar-benar berhenti. Jari lebih sering menunduk daripada kepala yang menengadah.
Informasi berlimpah, tetapi keheningan semakin langka. Di tengah lanskap seperti ini, peristiwa Isra Miraj hadir bukan sekadar sebagai kisah mukjizat masa lalu, melainkan sebagai cermin kritis bagi kesadaran manusia modern.
Isra Miraj adalah perjalanan ganda: Isra sebagai gerak horizontal menyusuri bumi, sejarah, dan realitas sosial; Miraj sebagai gerak vertikal mendaki langit kesadaran menuju Tuhan. Keduanya tidak dapat dipisahkan.
Sayangnya, peradaban digital hari ini terlalu mahir dalam Isra, tetapi gagap dalam Miraj. Kita tahu cara terhubung ke seluruh dunia, tetapi sering lupa bagaimana terhubung dengan Yang Maha Dalam.
Baca Juga: Ketika Hutan Menjadi Korban Pembangunan Berkelanjutan
Era digital menjanjikan kedekatan, namun justru melahirkan keterasingan. Media sosial memproduksi kehadiran semu: ramai komentar, sepi makna. Manusia sibuk membangun citra, tetapi rapuh dalam batin.
Dalam konteks inilah Isra Miraj mengajarkan bahwa hidup bukan hanya tentang bergerak ke samping, melainkan juga tentang naik ke atas menemukan orientasi transenden yang memberi arah pada seluruh aktivitas duniawi.
Hadiah utama Isra Miraj adalah shalat. Ia bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan latihan kesadaran vertikal. Shalat memaksa manusia berhenti dari arus distraksi, menanggalkan ego, dan menghadapkan diri pada Tuhan.
Di tengah budaya scrolling tanpa henti, shalat adalah jeda sakral; di tengah dunia real time, shalat adalah pengingat akan Yang Abadi. Ia mengajarkan fokus, ketundukan, dan kehadiran penuh nilai-nilai yang justru semakin langka di era digital.
Namun, Miraj Nabi Muhammad tidak berakhir di langit. Ia kembali ke bumi. Ini pesan penting: spiritualitas sejati tidak mengasingkan diri dari dunia, tetapi memurnikan cara berada di dalamnya.
Kesadaran vertikal harus melahirkan tanggung jawab horizontal. Dalam konteks digital, ini berarti etika bermedia, kejujuran informasi, empati dalam perbedaan, dan keberanian melawan hoaks serta ujaran kebencian. Tanpa itu, spiritualitas hanya menjadi kosmetik, bukan transformasi.
Baca Juga: Merawat Misi Keadaban Universitas: Marhaban UIN Sultan Qaimuddin Kendari
Isra Miraj juga menjadi kritik halus atas peradaban yang mengukur kemajuan semata dengan kecepatan dan produktivitas. Nabi naik bukan untuk melarikan diri dari realitas sosial, tetapi untuk kembali dengan beban amanah yang lebih berat. Artinya, kedekatan dengan Tuhan selalu berbanding lurus dengan kepedulian pada sesama. Di era digital, semakin tinggi klaim religius seseorang, seharusnya semakin rendah hatinya dalam berinteraksi.
Membaca Isra Miraj di era digital berarti menyadari bahwa manusia bukan sekadar pengguna teknologi, tetapi makhluk bermakna yang membutuhkan orientasi ruhani. Algoritma boleh mengatur preferensi, tetapi tidak boleh menentukan nilai. Dunia boleh bergerak horizontal sejauh apa pun, tetapi tanpa spiritualitas vertikal, ia hanya akan berputar tanpa arah.
Pada akhirnya, Isra Miraj adalah undangan abadi: naiklah sejenak ke langit kesadaran, lalu turunlah kembali untuk memanusiakan bumi. Di dunia yang terlalu sibuk bergerak ke samping, manusia justru paling membutuhkan keberanian untuk menengadah. (*)
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS