Menkes Mau Pengidap TB jadi Penerima Program MBG, Ini Alasannya
Reporter
Selasa, 23 Juni 2026 / 8:39 am
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengusulkan pasien TB masuk Program Makan Bergizi Gratis. Foto: Repro Kemensesneg
JAKARTA, TELISIK.ID - Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin, mengusulkan agar penderita tuberkulosis (TB) masuk dalam kelompok prioritas penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Usulan tersebut disampaikan karena Indonesia masih mencatat sekitar satu juta kasus TB setiap tahun.
Menurut Budi, pemenuhan gizi yang baik memiliki peran penting dalam membantu proses penyembuhan pasien TB. Karena itu, selain anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, penderita TB dinilai layak menjadi sasaran program yang dijalankan pemerintah tersebut.
Usulan tersebut disampaikan usai peluncuran Komisi The Lancet Regional Health-Western Pacific: Reimagining Healthcare in Indonesia for 2045 di Kementerian Kesehatan, Jakarta. Dalam kesempatan itu, Budi menyoroti masih tingginya angka kasus dan kematian akibat TB di Indonesia.
"Orang-orang yang sakit tuberkulosis 1 juta loh di Indonesia setiap tahun. Meninggal 160 ribu, jadi kita ngomong 5 menit meninggal dua orang," kata Budi, seperti dikutip dari CNBC Indonesia, Selasa (23/6/2026).
Ia menjelaskan, upaya penanganan TB tidak cukup hanya melalui pemberian obat. Dukungan asupan gizi yang memadai juga diperlukan agar proses pemulihan pasien dapat berlangsung lebih baik.
Baca Juga: Purbaya Naikan Anggaran Transfer Daerah Rp 90 Triliun di 2027
Budi mengungkapkan bahwa usulan tersebut telah disampaikan kepada Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S Deyang. Menurutnya, kombinasi antara pengobatan dan pemenuhan kebutuhan gizi dapat meningkatkan peluang kesembuhan pasien TB.
"Kalau kita obati dan gizinya disuplai, ditambah, kemungkinan sembuhnya lebih besar," ujarnya.
Selain pasien TB, Budi juga meminta perhatian lebih terhadap tiga kelompok yang selama ini menjadi fokus peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Menurutnya, ibu hamil membutuhkan asupan gizi yang cukup untuk menjaga kesehatan selama masa kehamilan sekaligus mendukung pertumbuhan janin. Setelah melahirkan, kebutuhan gizi ibu menyusui juga harus terpenuhi agar proses pemberian ASI berjalan optimal.
Sementara itu, balita merupakan kelompok yang berada pada masa emas pertumbuhan atau golden period. Pada fase tersebut, pemenuhan gizi dinilai sangat penting karena berpengaruh terhadap perkembangan fisik dan kemampuan kognitif anak.
"Jadi ibu hamil, ibu menyusui, yang ketiga balita, dan yang keempat saya titip juga karena program Bapak Presiden itu tuberkulosis," kata Budi.
Ia mengatakan usulan tersebut telah mendapat respons positif dari Badan Gizi Nasional. Menurutnya, skema penerima manfaat Program MBG masih memungkinkan untuk disesuaikan agar dapat menjangkau kelompok masyarakat yang memiliki kebutuhan gizi tinggi.
Baca Juga: Aston Villa Siap Hadapi Indonesia All-Stars di SUGBK
"Beliau menyukainya. Nanti mungkin akan ubah Perpres sedikit, karena sekarang kan diberikan ke anak-anak sekolah, dan bukan berarti saya menolak yang untuk di sekolah ya," ujarnya.
Saat ini pemerintah masih membahas penguatan sasaran Program Makan Bergizi Gratis bersama Badan Gizi Nasional dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Evaluasi program akan dilakukan melalui data pemeriksaan kesehatan dan status gizi penerima manfaat.
Menurut Budi, pendekatan berbasis data diperlukan agar pelaksanaan program dapat terus diperbaiki sesuai kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, manfaat MBG diharapkan dapat dirasakan lebih luas oleh kelompok yang membutuhkan dukungan gizi, termasuk pasien tuberkulosis yang sedang menjalani pengobatan. (C)
Penulis: Ahmad Jaelani
Editor: Kardin
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS