Pelita Ibu Naik Status jadi Universitas, Dunia Kampus Diingatkan Agar Tidak Tertinggal Zaman
Reporter
Sabtu, 20 Juni 2026 / 3:41 pm
Perubahan status Universitas Pelita Ibu memunculkan sorotan terhadap kesiapan kampus menghadapi tantangan zaman. Foto: Ist.
KENDARI, TELISIK.ID - Perubahan status STIKES Pelita Ibu menjadi Universitas Pelita Ibu menandai babak baru bagi pendidikan tinggi di Sulawesi Tenggara.
Namun, di balik seremoni penyerahan Surat Keputusan perubahan bentuk perguruan tinggi tersebut, muncul pesan tegas mengenai tantangan yang masih dihadapi banyak kampus di Indonesia dalam menghadapi perubahan zaman yang berlangsung semakin cepat.
Transformasi kelembagaan itu berlangsung dalam acara penyerahan SK perubahan bentuk yang digelar di Aula Universitas Pelita Ibu, Sabtu, 12 Juni 2026.
Momentum tersebut tidak hanya menjadi perayaan atas lahirnya sebuah universitas baru, tetapi juga menjadi ruang refleksi mengenai arah pendidikan tinggi di tengah perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, serta kebutuhan dunia kerja yang terus berubah.
Kepala LLDIKTI Wilayah IX Sultan Batara, Dr. Drs. Andi Lukman, M.Si., menyampaikan kegelisahannya terhadap kondisi sejumlah perguruan tinggi yang dinilai masih lamban melakukan pembaruan dalam tata kelola maupun kurikulum. Menurutnya, perubahan status kelembagaan tidak boleh berhenti pada aspek administratif semata.
"Perguruan tinggi tidak boleh lagi merasa cukup hanya dengan meluluskan mahasiswa. Pertanyaan yang harus dijawab adalah: setelah lulus, apakah mereka mampu mendapatkan pekerjaan yang baik? Apakah mereka mampu bersaing secara global? Apakah mereka mampu menciptakan pekerjaan bagi orang lain?" kata Andi Lukman, dalam keterangan tertulis, Sabtu (20/6/2026).
Baca Juga: BPR Bahteramas Kendari Raih Penghargaan Bergengsi Bintang 5 Top 100 BPR Award 2026
Ia menjelaskan bahwa tantangan pendidikan tinggi saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan beberapa tahun lalu. Revolusi digital dan perkembangan kecerdasan buatan telah mengubah kebutuhan kompetensi tenaga kerja.
Karena itu, perguruan tinggi dituntut mampu menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut.
Menurut Andi Lukman, transformasi sesungguhnya tidak hanya ditandai dengan perubahan nama atau bertambahnya program studi. Yang lebih penting adalah perubahan cara pandang dalam mengelola pendidikan dan menyiapkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
Ia mendorong perguruan tinggi menerapkan Outcome-Based Education (OBE), yakni pendekatan pendidikan yang menempatkan capaian kompetensi lulusan sebagai fokus utama seluruh proses pembelajaran.
Dalam model tersebut, mahasiswa didorong lebih banyak memperoleh pengalaman nyata melalui dunia kerja, proyek industri, penelitian terapan, kegiatan kewirausahaan, hingga kolaborasi internasional.
"Mahasiswa harus lebih banyak berada di ruang praktik kehidupan nyata daripada sekadar mendengarkan teori di ruang kelas," ujarnya.
Pesan serupa juga disampaikan Prof. Dr. Ir. Drs. Jasruddin Daud, M.Si., yang hadir dalam kegiatan tersebut. Mantan Kepala LLDIKTI Wilayah IX Sultan Batara itu menilai tantangan terbesar pendidikan tinggi saat ini bukan lagi persoalan perizinan atau perubahan bentuk kelembagaan, melainkan keberanian untuk melakukan transformasi secara menyeluruh.
Menurut Jasruddin, masih banyak perguruan tinggi yang terjebak dalam rutinitas akademik dan kurang responsif terhadap perkembangan kebutuhan dunia kerja maupun kemajuan teknologi.
"Jangan sampai perguruan tinggi hanya menjadi penonton perubahan. Lebih buruk lagi kalau menjadi penghambat perubahan," ujar Jasruddin.
Ia menegaskan bahwa perguruan tinggi harus berperan sebagai penggerak perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi melalui pendidikan, penelitian, serta inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat.
"Perguruan tinggi harus menjadi pendekar perubahan, dari hulu hingga hilir. Dari perubahan pola pikir, kurikulum, tata kelola, riset, hingga hilirisasi inovasi yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat dan dunia industri," katanya.
Lebih lanjut, Jasruddin menilai ukuran keberhasilan perguruan tinggi saat ini tidak lagi hanya ditentukan oleh jumlah mahasiswa atau banyaknya program studi yang dimiliki. Yang menjadi perhatian utama adalah kualitas lulusan serta kemampuan mereka memasuki dunia kerja dan menciptakan peluang ekonomi baru.
Baca Juga: Daftar Harta Kekayaan 10 Bakal Calon Rektor UHO Kendari 2026-2030, Tertinggi Rp 14 Miliar
Ia juga menyoroti masih adanya lulusan perguruan tinggi yang menghadapi kesulitan memperoleh pekerjaan. Kondisi tersebut, menurutnya, harus menjadi perhatian serius seluruh institusi pendidikan tinggi.
"Kalau kurikulum tidak berubah, lulusan akan terus mengejar pekerjaan yang sudah berubah atau bahkan sudah tidak ada lagi," ujarnya.
Karena itu, perguruan tinggi didorong melakukan reorientasi kurikulum yang selaras dengan perkembangan industri, teknologi, dan kebutuhan global. Penguasaan bahasa asing, literasi digital, kecerdasan buatan, sertifikasi profesi, serta pengalaman internasional dinilai perlu menjadi bagian penting dalam proses pendidikan.
Dalam kesempatan yang sama, Rektor Universitas Pelita Ibu, Dr. Hj. Rosmawati, M.Kes., menyampaikan bahwa perubahan status menjadi universitas bukanlah akhir dari perjalanan institusi yang dipimpinnya. Menurutnya, tantangan yang lebih besar justru dimulai setelah SK perubahan bentuk diterima.
Rosmawati menjelaskan bahwa proses transformasi menuju universitas telah diawali melalui penguatan sumber daya manusia, termasuk peningkatan jumlah dosen bergelar doktor yang selama ini menjadi perhatian dalam pengembangan institusi.
Kini, Universitas Pelita Ibu menghadapi agenda lanjutan berupa penguatan riset, pengembangan inovasi, penerapan tata kelola modern, serta penyusunan kurikulum berbasis capaian yang relevan dengan kebutuhan zaman. (D-Adv)
Penulis: Ahmad Jaelani
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS