Puasa Disebut Jaga Kesehatan Reproduksi hingga Tingkatkan Peluang Hamil, Begini Penjelasannya
Reporter
Jumat, 27 Februari 2026 / 1:17 pm
Puasa Ramadan disebut membantu menyeimbangkan hormon reproduksi sekaligus meningkatkan peluang kehamilan pasangan. Foto: Repro iStockphoto
JAKARTA, TELISIK.ID - Selama Ramadan, puasa tak hanya bermakna ibadah, tetapi juga disebut membantu menjaga kesehatan reproduksi serta meningkatkan peluang kehamilan pasangan.
Perubahan ritme makan dan istirahat selama berpuasa membuat tubuh menyesuaikan kembali sistem metabolisme secara bertahap. Dalam proses tersebut, sejumlah fungsi biologis, termasuk keseimbangan hormon dan kerja organ reproduksi, ikut mengalami penataan ulang.
Kondisi ini dinilai berpengaruh terhadap kesehatan kesuburan, baik pada perempuan maupun pria, terutama jika pola makan tetap terkontrol dan kebutuhan gizi terpenuhi.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Ganot Sumulyo, menjelaskan bahwa puasa memiliki keterkaitan dengan stabilitas hormon reproduksi.
Ia menerangkan, jeda makan dalam periode tertentu membantu tubuh memperbaiki sensitivitas insulin sehingga metabolisme menjadi lebih efisien. Menurutnya, kondisi ini mendukung fungsi ovarium serta proses ovulasi yang lebih teratur.
Ganot menyebut pengendalian kadar insulin penting bagi perempuan, khususnya yang mengalami gangguan hormonal seperti polycystic ovary syndrome atau PCOS. Resistensi insulin yang tinggi dapat mengganggu keseimbangan hormon dan berdampak pada siklus menstruasi yang tidak teratur.
Karena itu, pengaturan pola makan selama puasa dinilai memberi ruang bagi tubuh untuk memperbaiki respons metaboliknya.
"Puasa, khususnya puasa intermiten atau puasa Ramadan, dapat memberikan manfaat yang cukup besar bagi penderita PCOS, seperti membantu meningkatkan sensitivitas insulin sehingga kadar insulin dalam darah menjadi lebih stabil," jelasnya, seperti dikutip dari Validnews, Jumat (27/2/2026).
Baca Juga: Dorongan Hubungan Ranjang saat Bulan Puasa Naik, Begini Penjelasan Medis dan Cara Tangkalnya
Ia menambahkan, kadar insulin berlebih dapat memicu ovarium menghasilkan androgen atau hormon testosteron dalam jumlah tinggi. Produksi hormon tersebut berpotensi memperparah gejala PCOS serta menghambat pelepasan sel telur. Gangguan ini kemudian memengaruhi peluang terjadinya pembuahan secara alami.
"Puasa juga dapat menurunkan kadar luteinizing hormone (LH) dan androgen, serta membantu menyeimbangkan hormon estrogen dan progesteron yang dapat memperbaiki siklus menstruasi dan mendukung ovulasi yang lebih teratur," ungkap dr Ganot.
Dampak puasa, kata dia, tidak hanya dirasakan perempuan. Pada pria, perbaikan metabolisme juga berhubungan dengan kualitas hormon testosteron serta pembentukan sel sperma. Ia menyebut pria dengan obesitas, resistensi insulin, atau kadar testosteron rendah berpotensi merasakan perubahan positif selama menjalani puasa, dengan catatan asupan nutrisi tetap dijaga.
"Yang penting adalah menjaga asupan protein, lemak sehat, serta mikronutrien seperti zinc dan vitamin D saat puasa," ujarnya.
Ganot mengingatkan bahwa kebutuhan gizi saat sahur dan berbuka perlu diperhatikan secara seimbang. Kekurangan nutrisi dapat berdampak pada penurunan energi sekaligus memengaruhi kualitas reproduksi.
Karena itu, ia menyarankan konsumsi makanan dengan kandungan protein cukup, lemak sehat, serta vitamin dan mineral esensial.
Bagi pria yang memiliki gangguan kualitas sperma, ia menyarankan menghindari kebiasaan yang dapat memperburuk kondisi tersebut.
Rokok, alkohol, makanan bakaran, serta stres berkepanjangan disebut dapat mengganggu proses spermatogenesis atau pembentukan sel sperma.
Dalam konteks pasangan yang menjalani program hamil atau promil, pengaturan konsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan gula sederhana juga menjadi perhatian. Menurutnya, pola makan dengan indeks glikemik tinggi dapat memengaruhi kadar gula darah sekaligus berdampak pada kualitas sperma dan keseimbangan hormon.
"Makanan berlemak seperti gorengan, gula berlebih, dan makanan dengan indeks glikemik tinggi perlu dihindari karena dapat menurunkan kualitas sperma," paparnya.
Ia kemudian merekomendasikan beberapa jenis makanan yang dinilai mendukung kesehatan reproduksi, antara lain protein berkualitas dari daging tanpa lemak, ikan berlemak, telur, tahu, dan tempe.
Baca Juga: Beda Ciri Khas Ruam Sifilis dan HIV, Berikut Fakta Medisnya
Lemak sehat seperti omega-3, minyak zaitun extra virgin, serta alpukat juga dianjurkan untuk membantu fungsi sel tubuh. Sementara itu, karbohidrat kompleks seperti oat, quinoa, dan beras merah dapat menjaga kestabilan gula darah.
Sayur dan buah kaya antioksidan, sumber zinc dan folat, selenium, CoQ10, serta produk fermentasi seperti yogurt, kefir, dan tempe turut disarankan sebagai pelengkap pola makan. Menurutnya, kombinasi nutrisi tersebut berperan dalam menjaga kualitas sel telur, sperma, serta kesehatan organ reproduksi secara umum.
Ganot menegaskan, menjaga berat badan ideal tetap menjadi faktor penting dalam perencanaan kehamilan. Obesitas maupun berat badan terlalu rendah sama-sama dapat menurunkan peluang kesuburan.
Karena itu, puasa yang dijalankan dengan pengaturan gizi, istirahat cukup, dan pengendalian stres dinilai dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan reproduksi secara menyeluruh. (C)
Penulis: Ahmad Jaelani
Editor: Kardin
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS