Sejak Ada Tragedi Kematian, Tradisi Tolak Bala Jadi Agenda Tahunan Warga Baubau

Elfinasari

Reporter

Selasa, 23 Januari 2024  /  7:17 pm

Tradisi tolak Ba’la yang berlangsung di Masjid Kelurahan Kadolo. Foto: Elfinasari/Telisik

BAUBAU, TELISIK.ID - Masyarakat Kelurahan Kadolo, Kecamatan Kokalukuna, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara menjalankan ritual tolak ba’la agar terhindar dari musibah.

Ritual ini dilakukan melalui doa bersama dan memiliki akar istilah Tolak Ba'la yang diambil dari masyarakat suku Muna, yang artinya menolak musibah.

Tradisi Tolak Ba'la merupakan warisan turun-temurun dari para leluhur. Kegiatan ini rutin dilaksanakan saat terjadi pergantian musim dari Timur ke Barat, dengan melibatkan doa bersama dan melantunkan Sholawat Nabi Muhammad Saw.

Ketua RW setempat, Rusdin menyampaikan, ritual ini telah menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat setempat.

Baca Juga: Bali Blessing, Wisata Baubau yang Wajib Dikunjungi Saat Weekend

Ia menjelaskan, sejarah tragis di Lorong Pecek, Kota Baubau, di mana sering terjadi kematian mendadak.

“Sekitar beberapa tahun lalu, selama sebulan, hampir ada orang yang meninggal dunia setiap harinya. Tentu ini menimbulkan ketakutan di kalangan masyarakat,” tutur Rusdin, Selasa (23/1/2024).

Kejadian tersebut menciptakan ketakutan di kalangan masyarakat, bahkan membuat sebagian warga pindah ke tempat lain.

Dalam musyawarah tokoh masyarakat dan imam masjid, mereka sepakat untuk membaca doa Tolak Ba'la guna mencari solusi atas kejadian tersebut.

Sejak saat itu, ritual ini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Kadolo, dijalankan setiap tahun dengan harapan agar terhindar dari musibah.

Prosesi ritual melibatkan tahlilan dan melibatkan imam dari Keraton, serta didampingi oleh dua imam masjid setempat. Ritual juga mencakup pengambilan air yang kemudian diminum sebagai langkah Tolak Ba'la.

Lurah Kadolo, Abdurrahman Zakir Maulana Afie menjelaskan, di Kelurahan Kadolo terdapat 8 RT dan 2 RW. Untuk sementara, kegiatan ini dilaksanakan secara bergiliran antara RW 1 dan RW 2. Rencananya, tahun depan akan dilaksanakan di setiap RT yaitu delapan RT sehingga akan dibuat delapan talang.

Ia menekankan, kegiatan ini adalah kegiatan swadaya masyarakat. Jika direalisasikan dengan baik, akan dikemas dalam berbagai kegiatan sebagai ajang silaturahmi antar sesama warga.

Baca Juga: Belum Banyak yang Tahu, Tempat Wisata di Buton Ini Mirip Rumah Pohon di Film Heart

Ia menjelaskan Tolak Ba’la ini menjadi permohonan kepada Tuhan agar dihindarkan dari berbagai musibah, terutama di musim hujan.

Salah seorang warga Kelurahan Kadolo, Nuriyati B mengatakan, saat ini memasuki angin Barat sehingga dilaksanakan Tolak Ba’la agar terhindar dari penyakit dan ini dilaksanakan setiap tahun, biasanya akhir atau awal tahun

“Jadi kita kumpul uang, jadi ibu-ibu RT menagih, dan kita kumpul untuk memasak bersama,” ucapnya.

Yang dimasak itu isi haroa, diantaranya makanan seperti lapa-lapa, cucur, waje dan lainnya. (A)

Penulis: Elfinasari

Editor: Fitrah Nugraha

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS