Sempat Anjlok, Menkeu Sebut Rupiah Kembali Menguat

Ibnu Sina Ali Hakim

Reporter

Sabtu, 09 Mei 2020  /  8:28 pm

Uang kertas rupiah dan dolar AS. Foto: Repro TribunManado.co.id

KENDARI, TELISIK.ID - Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani menyebut mata uang Rupiah sudah lebih baik dibanding kondisi pada bulan sebelumnya.

Sri Mulyani menuturkan bahwa, mata uang Rupiah sudah terdepresiasi sebesar 8,9% terhadap dolar Amerika Serikat (USD) hingga hari ini. 

"Rupiah sudah lebih menguat dibanding Maret lalu. Meskipun secara year to date (ytd), masih terdepresiasi sebesar 8,9%," ujar dia pada telekonferensi di Jakarta.

Sri juga menambahkan pada April, kondisi mata uang Rupiah sudah menemukan perspektif baru di tengah pandemi COVID-19. Namun, pihaknya, masih mewaspadai sejumlah hal yang dapat mengguncang Rupiah.

"Apabila dibandingkan volatilitas yang terjadi bulan Maret, bulan April relatif sudah agak lebih menemukan suatu presfektif baru. Meskipun kita tidak underestimate bahwa, gejolak mungkin masih akan terus terjadi karena ketidakpastian COVID-19 masih berjalan," ungkapnya, dilansir Okezone.com, Sabtu (9/5/2020).

Baca juga: Bertambah Satu Positif COVID-19 di Sultra, Satu PDP Meninggal

Sebelumnya, sejak isu COVID-19 muncul pada pekan ke empat Januari, rupiah langsung nosedive alias terjun bebas.

Mata uang tanah air sempat berada di posisi terlemah secara intraday sejak Juni 1998, kala Indonesia bergelut dengan krisis ekonomi-sosial-politik yang membuat Orde Baru tumbang setelah nyaris 32 tahun berkuasa.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, faktor teknikal seperti news bisa mempengaruhi pergerakan nilai tukar. Dalam jangka pendek, Rupiah akan naik turun dipengaruhi oleh faktor teknikal seperti faktor news.

"Hari ini juga banyak berita positif yang Insya Allah buat Rupiah kita di bawah Rp 15 ribu," kata Perry.

Faktor positif antara lain, sejumlah wilayah di AS mulai membuka kegiatan bisnisnya. Kemudian statment The Federal Reserve yang mengatakan bahwa ekonomi AS akan membaik di semester II meskipun di semester I mengalami resesi.

Reporter: Ibnu Sina Ali Hakim

Editor: Sumarlin