Usia 30 Testosteron Pria Turun 1 Persen Setiap Tahun, Begini Penjelasan Dokter Boyke

Ahmad Jaelani

Reporter

Jumat, 27 Maret 2026  /  10:28 am

Dokter Boyke Dian Nugraha menyebut testosteron pria mulai menurun setiap tahun. Foto: Repro KabarJombang

JAKARTA, TELISIK.ID - Perubahan hormon perlahan terjadi seiring bertambahnya usia; pada pria, penurunan testosteron mulai terlihat sejak memasuki usia 30 tahun.

Penurunan kadar hormon testosteron pada pria menjadi salah satu fenomena biologis yang berlangsung secara alami. Hal ini disampaikan oleh Boyke Dian Nugraha, yang menjelaskan bahwa tubuh pria mengalami penurunan hormon sekitar satu persen setiap tahun setelah usia 30 tahun.

Kondisi tersebut tidak dapat dihindari, tetapi dampaknya dapat dirasakan dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Dalam penjelasannya, ia menyebut bahwa proses penurunan ini merupakan bagian dari mekanisme penuaan tubuh.

“Penurunan ini wajar, tapi dampaknya cukup signifikan,” kata dr Boyke dalam sebuah podcast di kanal YouTube dr Reisa Broto Asmoro, seperti dikutip dari Tribunnews, Jumat (27/3/2026).

Testosteron sendiri memiliki peran penting dalam tubuh pria. Hormon ini tidak hanya berpengaruh terhadap fungsi reproduksi, tetapi juga berkaitan dengan energi, massa otot, hingga kondisi psikologis. Ketika kadarnya menurun, sejumlah perubahan fisik dan mental dapat mulai muncul secara bertahap.

“Stamina menurun, hasrat seksual berkurang, dan energi sehari-hari juga ikut menurun," lanjutnya. Penjelasan tersebut menggambarkan dampak yang dirasakan secara langsung oleh banyak pria, terutama ketika memasuki usia produktif yang semakin matang.

Lebih lanjut, dr Boyke menguraikan beberapa dampak utama dari penurunan hormon testosteron. Pertama, terjadi penurunan hasrat seksual atau libido, yang umumnya mulai dirasakan pada pria usia 30 tahun ke atas. Kondisi ini dapat memengaruhi hubungan pasangan jika tidak dipahami dengan baik.

Kedua, fungsi ereksi juga dapat mengalami penurunan. Dalam beberapa kasus, kondisi ini muncul dalam bentuk disfungsi ereksi ringan hingga sedang. Penurunan hormon menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap perubahan tersebut, meskipun bukan satu-satunya penyebab.

Baca Juga: Fakta dari Tanda-tanda Wanita Ejakulasi, Begini Penjelasan Medisnya

Ketiga, stamina dan energi tubuh ikut menurun. Pria menjadi lebih mudah merasa lelah, baik saat bekerja maupun ketika melakukan aktivitas fisik seperti olahraga. Hal ini berkaitan langsung dengan peran testosteron dalam menjaga metabolisme dan kekuatan otot.

Keempat, aspek psikologis juga terdampak. Testosteron diketahui memiliki hubungan dengan motivasi, konsentrasi, dan ketahanan mental. Penurunan hormon dapat membuat seseorang mengalami penurunan fokus serta perubahan dalam pengambilan keputusan.

“Kalau tidak dijaga, efeknya bisa terasa pada kehidupan seksual dan fisik,” ujar dr Boyke. Pernyataan ini menegaskan bahwa meskipun alami, kondisi tersebut tetap memerlukan perhatian melalui pola hidup yang tepat.

Untuk menjaga keseimbangan hormon, dr Boyke menekankan pentingnya gaya hidup sehat. Ia menyebut olahraga teratur sebagai salah satu cara yang dapat membantu menjaga kadar testosteron. Aktivitas fisik ringan hingga sedang dinilai efektif, sementara olahraga berlebihan justru berpotensi menurunkan hasrat seksual.

Selain itu, konsumsi makanan bergizi juga menjadi faktor penting. Asupan protein yang cukup, termasuk dari sumber alami seperti ikan, dapat membantu proses produksi hormon dalam tubuh. Pola makan seimbang menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan secara menyeluruh.

Ia juga menyinggung penggunaan herbal tradisional, salah satunya purwoceng, yang disebut dalam sejumlah penelitian dapat membantu mendukung produksi testosteron secara alami.

“Purwoceng membantu menjaga stamina, vitalitas, dan fungsi seksual pria secara alami,” kata dr Boyke.

Ia menambahkan bahwa penggunaan bahan alami tersebut tidak menimbulkan efek samping kimia jika digunakan secara tepat.

Selain itu, menghindari kebiasaan buruk menjadi langkah penting lainnya. Merokok, begadang, serta pola makan tidak sehat dapat mempercepat penurunan hormon testosteron. Oleh karena itu, perubahan gaya hidup menjadi bagian dari upaya pencegahan yang dapat dilakukan sejak dini.

“Ini penting tidak hanya untuk kehidupan seks, tapi juga kebugaran dan energi sehari-hari.” Pernyataan tersebut menekankan bahwa hormon testosteron memiliki peran luas dalam kualitas hidup pria secara keseluruhan, bukan hanya terbatas pada fungsi reproduksi.

Dalam kesempatan lain, dr Boyke juga menyinggung isu infertilitas pada pasangan. Ia menjelaskan bahwa pasangan baru dikategorikan infertil jika dalam waktu satu tahun belum memperoleh kehamilan meskipun telah melakukan hubungan secara teratur tanpa kontrasepsi.

“Normalnya, sekitar 80 persen pasangan suami istri yang berhubungan seks teratur selama setahun akan mendapatkan kehamilan. Jadi, kalau sudah lewat setahun tanpa hasil, barulah pasangan itu masuk kategori infertil,” jelas dr Boyke.

Baca Juga: 10 Mitos Keliru dari Hubungan Ranjang, Berikut Fakta Medis Sebenarnya

Ia menegaskan bahwa infertilitas bukan hanya disebabkan oleh satu pihak. Data menunjukkan sekitar 45 persen kasus berasal dari faktor pria, sementara 55 persen lainnya dari faktor wanita. Oleh karena itu, pemeriksaan medis sebaiknya dilakukan oleh kedua belah pihak.

“Jangan langsung menyalahkan salah satu pihak. Infertilitas itu faktor bersama. Itu sebabnya, pemeriksaan medis harus dilakukan pada suami dan istri,” kata dr Boyke. Pernyataan ini menjadi pengingat penting dalam memahami persoalan kesuburan secara menyeluruh.

Selain faktor medis, kondisi psikologis juga memengaruhi peluang kehamilan. Stres dan tekanan berlebihan dapat mengganggu proses ovulasi maupun kualitas hubungan pasangan. “Jangan terlalu dibawa stres. Kadang pasangan yang santai dan tidak terlalu memikirkan cepat hamil justru lebih mudah mendapatkan kehamilan,” ungkapnya.

Dengan demikian, kesadaran terhadap penurunan testosteron dan dampaknya menjadi penting sejak usia 30 tahun. Upaya menjaga kesehatan melalui pola hidup seimbang, pemeriksaan dini, serta pemahaman yang tepat menjadi bagian dari langkah menjaga kualitas hidup pria secara berkelanjutan. (C)

Penulis: Ahmad Jaelani

Editor: Kardin

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS