Viral Menu MBG Lele Mentah Ditolak Sekolah, BGN Klaim Komponen Gizinya Lengkap

Ahmad Jaelani

Reporter

Rabu, 11 Maret 2026  /  10:43 am

Menu MBG berisi lele mentah yang ditolak sekolah di Pamekasan viral di media sosial. Foto: Repro Kaltimedia

JAKARTA, TELISIK.ID - Video yang menampilkan menu program Makan Bergizi Gratis berupa lele mentah di sebuah sekolah memicu perbincangan di media sosial.

Badan Gizi Nasional, memberikan klarifikasi dan menyatakan paket makanan yang disiapkan sebenarnya terdiri dari beberapa komponen gizi.

Peristiwa tersebut terjadi di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, ketika paket makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didistribusikan ke sekolah menengah atas menjadi sorotan publik.

Video yang beredar hanya memperlihatkan ikan lele mentah di dalam kotak makanan, sehingga memunculkan berbagai reaksi dari masyarakat.

Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S Deyang menjelaskan bahwa video tersebut tidak menampilkan keseluruhan isi paket makanan yang disiapkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pamekasan Pademawu Buddagan. Menurutnya, paket MBG yang didistribusikan sebenarnya terdiri dari beberapa jenis makanan.

“Berdasarkan laporan yang kami terima, menu yang disiapkan SPPG sebenarnya lengkap. Namun dalam video yang beredar hanya terlihat sebagian menu karena pihak sekolah menolak mengeluarkan paket makanan dari kendaraan distribusi,” ujar Nanik dalam keterangannya, seperti dikutip dari Kompas, Rabu (11/2/2026).

Nanik menyebutkan bahwa paket MBG yang disiapkan oleh SPPG tersebut terdiri dari beberapa komponen menu yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi penerima manfaat. Komponen tersebut meliputi lele marinasi, tahu dan tempe ungkep, roti pizza, telur rebus, susu full cream, serta buah naga.

Ia menegaskan bahwa setiap menu dalam program MBG disusun dengan mempertimbangkan keseimbangan gizi dan standar keamanan pangan. Pemerintah, melalui Badan Gizi Nasional, terus melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan program tersebut di berbagai daerah.

Baca Juga: Purbaya Pangkas Anggaran MBG jika Defisit APBN 2026 Lewat Batas 3 Persen dan Harga Minyak Kacau

“Program MBG menempatkan keamanan pangan dan kualitas gizi sebagai prioritas utama. Kami terus melakukan pemantauan serta evaluasi agar seluruh proses penyiapan hingga distribusi makanan berjalan sesuai standar yang telah ditetapkan,” tuturnya.

Penjelasan tambahan juga disampaikan oleh Ahli Gizi SPPG Pamekasan Pademawu Buddagan, Fikri Kuttawakil. Ia mengatakan bahwa penggunaan lele marinasi dalam menu MBG memiliki pertimbangan khusus terkait kandungan gizi dan ketahanan pangan selama proses distribusi.

“Kenapa kami menggunakan lele marinasi, pertama untuk mencegah berkurangnya gizi di lele itu dan menambah protein di hari itu. Dimarinasi, lele juga bisa bertahan sampai satu hari,” jelas Fikri.

SPPG Pamekasan Pademawu Buddagan diketahui melayani ribuan penerima manfaat program MBG di wilayah tersebut. Total penerima manfaat yang dilayani mencapai 3.329 orang yang berasal dari berbagai kelompok masyarakat.

Penerima manfaat tersebut terdiri dari siswa tingkat SMA, SMK, dan MA; siswa SMP dan MTs; anak-anak PAUD dan TK; siswa sekolah luar biasa; tenaga pendidik; serta kelompok masyarakat lain seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

Sebelumnya, paket MBG yang didistribusikan ke SMA Negeri 2 Pamekasan sempat ditolak oleh pihak sekolah. Penolakan tersebut dilakukan karena menu yang diterima dinilai tidak layak untuk diberikan kepada siswa.

Kepala SMA Negeri 2 Pamekasan Moh Arifin menyampaikan bahwa paket makanan tersebut berisi ikan lele mentah yang bahkan masih terlihat hidup di dalam kotak makanan. Kondisi tersebut membuat pihak sekolah memutuskan untuk tidak menerima paket tersebut.

“Ada dua iris tempe dan tahu. Ikan lelenya amis, mentah bahkan ada yang masih hidup dan bergerak di dalam kotak plastik,” kata dia.

Baca Juga: Heboh SPPG Menu MBG Ramadan Tak Layak Konsumsi Distop, Roti Berjamur dan Buah Berulat hingga Telur Mentah

Menurut Arifin, paket makanan yang ditolak tersebut merupakan jatah makan untuk siswa selama tiga hari ke depan. Namun pihak sekolah memilih mengembalikannya karena khawatir kondisi makanan dapat membahayakan siswa.

Ia juga menjelaskan bahwa bau amis dari ikan tersebut cukup kuat sehingga dikhawatirkan akan membusuk dalam waktu singkat. Selain itu, kondisi tersebut berpotensi membuat siswa tidak ingin membawa pulang makanan tersebut.

“Baunya sangat amis. Siswa pun tidak ingin menerimanya,” kata dia.

Kasus ini kemudian menjadi perhatian publik setelah video mengenai menu tersebut beredar di media sosial. Badan Gizi Nasional menyatakan akan terus melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG di berbagai daerah untuk memastikan proses penyiapan dan distribusi makanan berjalan sesuai standar yang ditetapkan. (C)

Penulis: Ahmad Jaelani

Editor: Kardin

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS