adplus-dvertising

Hadapi Pandemi, Pemerintah Disarankan Siapkan Skenario Terburuk

Marwan Azis, telisik indonesia
Senin, 12 Juli 2021
1891 dilihat
Hadapi Pandemi, Pemerintah Disarankan Siapkan Skenario Terburuk
Ketua Banggar DPR, Said Abdullah. Foto: Ist.

" Bila pandemi COVID-19 berlangsung lama, Pemerintahan Jokowi disarankan menyiapkan skenario terburuk atau worst case scenario. "

JAKARTA, TELISIK.ID - Bila pandemi COVID-19 berlangsung lama, Pemerintahan Jokowi disarankan menyiapkan skenario terburuk atau worst case scenario.

Saran tersebut disampaikan Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI MH Said Abdullah di Jakarta, Senin (12/7/2021).

Menurutnya, skenario terburuk diperlukan bilamana kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat tidak cukup efektif menekan tingkat positif harian COVID-19.


Meski demikian, diakuinya worst case scenario membutuhkan dukungan anggaran sangat besar sehingga berkonsekuensi pada perubahan arah kebijakan dan sasaran dari postur APBN 2021 dan Rancangan APBN 2022.

“Mencermati keadaan dunia dan dalam negeri kita akibat COVID-19 dengan tingkat uncertainty tinggi, dan bila tidak terkelola dengan cukup baik, maka akan berdampak luas terhadap kehidupan sosial, ekonomi dan kesehatan rakyat. Bila keadaan seperti ini berlangsung lama, maka akan berkonsekuensi mendalam terhadap APBN kita,” ujarnya.

Sejauh ini kata Said, skenario APBN di tahun 2021 dan 2022 adalah skenario pemulihan segala hal, terutama sosial, ekonomi dan kesehatan. Namun demikian, APBN belum memitigasi skenario gelombang demi gelombang dan pandemi berlangsung lebih lama.

“Minggu lalu saya telah menyarankan pemerintah untuk mulai melakukan refocusing anggaran. Akan tetapi melihat situasi dan potensi risiko yang ada, selain refocusing, pemerintah perlu melakukan kebijakan lebih jauh yang komprehensif,” imbuhnya.

Baca juga: Politisi Demokrat Soroti Kebijakan Pemerintah Komersialkan Vaksin COVID-19

Politisi PDI-Perjuangan ini mengatakan, jika harus membuat kebijakan-kebijakan lanjutan, yang berdampak luas baik ekonomi, sosial dan kesehatan, termasuk dalam pelaksanaan worst case scenario, maka pemerintah harus menjalin komunikasi dengan banyak pihak.

Termasuk dengan para pelaku bisnis dan keuangan, dengan persiapan waktu komunikasi yang cukup.

Langkah ini penting guna mengantisipasi guncangan pada bisnis dan pasar keuangan yang sejauh ini masih berjalan dengan sehat.  

“Saya mendukung penuh langkah pemerintah, khususnya terkait persetujuan anggaran terkait pelaksanaan segala daya upaya dalam penanggulangan COVID-19, termasuk bila dalam pelaksanaan worst case scenario tersebut harus membutuhkan dukungan pembiayaan. Misalnya seperti penerbitan surat utang negara (SUN) karena dampak turunnya penerimaan perpajakan,” tuturnya.

Said menegaskan, perang total terhadap COVID-19 ini harus terus dilakukan.

Apalagi, pandemi telah setahun lebih mendera negeri ini dengan dampaknya yang begitu luas terhadap segenap umat manusia di planet bumi ini. Tercatat sebanyak 170 negara mengalami kontraksi ekonomi, 44 negara di antaranya berlanjut dengan resesi panjang.

Sementara beberapa negara di antaranya kontraksi ekonominya begitu dalam.

“Kita tidak menyangka kawasan Eropa yang selama ini penuh kemakmuran, layanan kesehatan yang sangat memadai, namun beberapa negara seperti Italia, Spanyol, dan Inggris dibuat limbung akibat pandemi,” ungkap Anggota Komisi XI DPR RI itu.

Baca juga: Jokowi Bakal Bagikan Paket Obat untuk Pasien Isoman

Hingga saat ini, dunia masih menghadapi bayang-bayang akan penyebaran virus Corona, tidak hanya Varian Delta tetapi juga Varian Peru. Sejauh ini para peneliti mengidentifikasi Varian Lambda ini memiliki tingkat infeksius yang sangat tinggi, termasuk kemampuannya mengelabui serangan imun tubuh. Varian inilah yang sekarang menyerang sebagian besar di kawasan Amerika Latin.

Untuk itu, Said meminta pemerintah mulai mengerahkan sumber daya yang ada, termasuk kerja sama internasional dalam penanganan COVID-19 di tanah air. Selama ini, kerja sama internasional memang telah terbangun, khususnya dalam pemberian vaksin, dan obat serta pertukaran informasi terkait pandemi.

Namun keadaan di tanah air seiring meningkatnya gelombang kedua COVID-19 membutuhkan banyak sumber daya.

Sekadar contoh, pengambilan spesimen virus harian di Indonesia belum menyentuh jutaan spesimen, masih sekitar 200-an ribu per hari. Padahal pengambilan spesimen yang banyak dan memenuhi standar epidemologi akan menghasilkan data akurat terhadap objektifnya rakyat yang terkena COVID-19.

Langkah ini sekaligus akan memperkuat kerja tracing, dan penyusunan kebijakan kebijakan lanjutan, termasuk prediksi berakhirnya gelombang kedua dan masuknya varian baru seperti varian Lambda.

“Oleh sebab itu mobilisasi sumber daya baik nasional maupun internasional untuk segala kebutuhan penopang pencegahan dan penanganan COVID-19 harus mulai dilakukan,” ujarnya.

Dalam upaya segenap kekuatan nasional dalam penanganan Corona, Said mengaku sangat mendukung penuh langkah pemerintah melakukan penegakan hukum pro justicia terhadap para spekulan, baik di sektor riil maupun keuangan yang menimbulkan panic buying dan selling. Kegiatan spekulasi itu sungguh merusak dan bahkan menghancurkan sendi ekonomi masyarakat yang sedang susah.

“Karena itu, hukum mereka seberat-beratnya,” pungkasnya. (C)

Reporter: Marwan Azis

Editor: Haerani Hambali

Artikel Terkait
Baca Juga