Penentuan Awal Ramadan Berbeda, Begini Penjelasan Ulama
Merdiyanto , telisik indonesia
Jumat, 13 Februari 2026
0 dilihat
Penentuan awal Ramadan atau puasa sering berbeda dan menjadi perbincangan kaum muslim. Foto: Repro britannica.com
" Menjelang bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, perbedaan penentuan awal puasa kembali menjadi topik hangat di kalangan umat Islam Indonesia "

JAKARTA, TELISIK.ID - Menjelang bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, perbedaan penentuan awal puasa kembali menjadi topik hangat di kalangan umat Islam Indonesia.
Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal.
Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) dan Nahdlatul Ulama (NU) diprediksi akan memulai puasa pada Kamis, 19 Februari 2026, atau bahkan Jumat, 20 Februari jika hilal tidak terlihat, mengikuti hasil sidang isbat yang dijadwalkan pada 17 Februari 2026.
Fenomena perbedaan ini bukan hal baru dan disebabkan oleh variasi pendekatan dalam menentukan awal bulan Hijriah.
Perbedaan utama muncul dari penggunaan kriteria hilal global oleh Muhammadiyah dan hilal lokal oleh pemerintah dan NU.
Baca Juga: Pengaturan Jadwal Kerja PNS Selama Ramadan 2026, Berikut Acuan Resmi Pemerintah
Hal ini membuat potensi selisih satu hari, meskipun posisi hilal secara astronomis sama, dilansir dari CNN Indonesia, Jumat (13/2/2026).
Metode yang digunakan Muhammadiyah
mengandalkan hisab hakiki wujudul hilal melalui Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Hilal dianggap ada jika sudah wujud di atas ufuk saat matahari terbenam, bahkan jika ketinggiannya sangat rendah.
Metode ini menekankan kepastian astronomi modern dan berlaku secara global, tanpa bergantung pada pengamatan langsung.
Sedangkan pemerintah dan NU menggunakan rukyatul hilal yang didukung hisab sebagai alat bantu, dengan kriteria imkanur rukyat dari MABIMS (minimal ketinggian hilal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat).
Keputusan final melalui sidang isbat yang melibatkan ulama, astronom, dan saksi rukyat dari berbagai daerah.
Penjelasan Ulama tentang Perbedaan Ini
Ulama dari berbagai kalangan menegaskan bahwa perbedaan ini adalah bagian dari keragaman ijtihad dalam fikih Islam yang sah dan tidak membatalkan ibadah.
KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), ulama NU, pernah menyatakan bahwa "perbedaan metode seperti hisab dan rukyat adalah rahmat, asal didasari dalil yang kuat dari Al-Qur'an dan hadits," dikutip dari NU Online, Jumat (13/2/2026)
Sementara itu, Prof. Dr. Syamsul Anwar dari Majelis Tarjih Muhammadiyah menjelaskan bahwa hisab hakiki lebih sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan, merujuk pada pandangan ulama seperti Ibnu Suraij yang membolehkan hisab sebagai dasar penetapan.
Baca Juga: Pencairan THR PNS dan Karyawan Swasta 2026, Berikut Penjelasan Jadwal Resminya
Mayoritas ulama mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi'i, Hanbali) cenderung pada rukyat berdasarkan hadits Nabi SAW:
"Berpuasalah karena melihat hilal, dan berbukalah karena melihatnya" (HR Bukhari-Muslim).
Namun, ulama seperti Taqiyyuddin al-Subki membuka ruang untuk hisab dalam kondisi tertentu.
Ulama mendorong umat untuk mengikuti organisasi atau pemerintah sesuai keyakinan, sambil menjaga ukhuwah Islamiyah.
"Inti puasa adalah taqwa, bukan tanggal," ujar KH Cholil Nafis dari MUI.
Dengan sidang isbat tinggal hitungan hari, umat diimbau mempersiapkan diri secara spiritual. (C)
Penulis: Merdiyanto
Editor: Mustaqim
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS