3 Maret Jadi Sejarah Runtuhnya Khilafah Islamiyah

Fitrah Nugraha

Reporter

Kamis, 03 Maret 2022  /  8:40 pm

Salah satu aksi perjuangan Syariah dan Khilafah. Foto: Repro AFP PHOTO

KENDARI, TELISIK.ID - Sebagian umat Islam hari ini, Kamis (3/3/2022), mengenang runtuhnya negara Islam, yakni Khilafah Islamiyah pada 3 Maret 1924.

Muballigh Sulawesi Tenggara (Sultra), Ustadz Yuslan Abu Fikri mengungkapkan, pada 3 Maret 2022 tepat 98 tahun atau 101 Tahun silam berdasarkan hitungan kalender hijriah, Khilafah Islamiyah secara resmi dihapuskan pada 3 Maret 1924 M/28 Rajab 1342 H, yang saat itu berpusat di Istambul, Turki.

Menurutnya, hilangnya sistem Kekhilafahan berarti hilangnya sebuah peradaban Islam yang menyatukan dunia Islam di bawah satu kepemimpinan berlandaskan syariah Islam.

"Lenyapnya sistem Kekhilafahan berarti lenyapnya penerapan syariat Islam secara total dan terhapusnya sistem Kekhilafahan berarti tak ada lagi institusi Islam yang mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia," katanya, Kamis (3/3/2022).

Ia melanjutkan, Kekhilafahan Islam berlangsung kurang lebih 14 abad lamanya. Adalah usia yang sangat panjang untuk ukuran sebuah negara ideologis dan peradaban global yang sangat besar.

Wilayah kekuasaan Khilafah Islam pernah meliputi hampir 2/3 bagian dunia. Mencakup seluruh Timur Tengah, sebagian Afrika, dan Asia Tengah. Di sebelah timur sampai ke negeri Cina. Di sebelah barat sampai ke Andalusia (Spanyol), selatan Prancis, serta Eropa Timur yang meliputi Hungaria, Beograd, Albania, Yunani, Rumania, Serbia, Bulgaria, serta seluruh kepulauan di Laut Tengah.

Baca Juga: Pesawat Pengangkut WNI dari Ukraina Tiba di Tanah Air

"Khilafah pun pernah menjadi pusat kejayaan dan kemajuan peradaban dunia yang sangat besar selama ratusan tahun, menebarkan berbagai kebaikan, kemuliaan dan kesejahteraan yang luar biasa," ujarnya.

Keagungan peradaban Islam di bawah naungan Khilafah ini telah banyak diakui oleh para ilmuwan dan intelektual dunia, termasuk dari Barat. Bahkan di Nusantara Indonesia, adanya jejak Khilafah tak bisa terbantahkan. Memberikan pengaruh politik dan spritual yang luar biasa, khususnya dalam melawan kaum penjajah.

Hanya saja, ia menyayangkan, Khilafah yang dulunya pernah menjaga Nusantara dari serangan penjajah mendapatkan tuduhan negatif dan citra buruk dari kaum sekuler dan liberal dengan berbagai propaganda.

Padahal, kata dia, semua itu merupakan bagian dari konspirasi barat untuk menghadang tegaknya kembali Khilafah. Sedangkan sistem Kapitalisme Barat yang dijajakan di negeri-negeri kaum muslim telah terbukti gagal dalam mensejahterakan dan memuliakan manusia di dunia.

"Karena memang Kapitalisme adalah sistem yang rusak dan merusak serta rapuh sejak dari asasnya, sehingga apapun yang terbangun diatasnya hanya menghasilkan kerusakan dan malapetaka bagi kehidupan manusia," ujarnya.

Olehnya itu, ia melanjutkan, sistem Islam yang tegak dalam naungan Khilafah pada hakikatnya adalah jawaban dan solusi yang haq, tuntas dan hakiki atas setiap problematika dunia.

Baca Juga: Diserang Rusia, Warga Ukraina Jadi Pengungsi Terbesar di Abad 21

Tegaknya Khilafah, tambah dia, juga menjadi bentuk perlawanan atas penjajahan dan hegemoni kapitalisme barat, sehingga perjuangan penegakkan Khilafah harusnya dibaca oleh semua pihak sebagai bentuk kecintaan dan kepeduliaan yang amat nyata terhadap negeri ini, agar negeri ini bisa keluar dari kunkungan dan belenggu penjajahan Kapitalisme Barat, yang telah banyak menyengsarakan kehidupan umat.

Atas dasar tersebut, ia menegaskan bahwa Khilafah adalah ajaran Islam yang oleh para ulama menyebutnya sebagai Tajul Furud (mahkota kewajiban). Perjuangan bagi tegaknya kembali sistem kekhilafahan adalah sebuah kewajiban syariat dan kebutuhan yang sangat mendesak.

Metode perjuangannya pun, Ustadz Yuslan mengatakan, haruslah mengikuti metode yang telah dicontohkan Rasulullah Saw, dengan terus membangun opini dan kesadaran umum di tengah masyarakat tanpa sama sekali menggunakan kekerasan. 

Tegaknya Khilafah adalah suatu hal yang pasti, telah menjadi bagian dari janji Allah SWT dan kabar gembira yang telah disampaikan Rasulullah Saw.

"Umat Islam yang beriman dan bertakwa haruslah mengambil peran aktif dan terdepan dalam upaya mewujudkannya, sehingga umat Islam bisa melihat kembali terbangunnya peradaban Islam yang agung dan mulia, di mana kerahmatan islam bisa dirasakan di seluruh alam," pungkasnya. (C)

Reporter: Fitrah Nugraha

Editor: Kardin