Nilai Tukar Rial Iran Jatuh Parah, Rp 20 Ribu Setara Jutaan

Ahmad Jaelani, telisik indonesia
Jumat, 16 Januari 2026
0 dilihat
Nilai Tukar Rial Iran Jatuh Parah, Rp 20 Ribu Setara Jutaan
Nilai tukar rial Iran terus melemah tajam, membuat Rp 20.000 kini setara jutaan rial di pasar terbuka. Foto: Repro AP Photo.

" Nilai tukar rial Iran terus terperosok ke titik terendah, membuat Rp 20.000 kini setara jutaan rial di tengah tekanan inflasi, sanksi internasional, dan krisis ekonomi "

TEHERAN, TELISIK.ID - Nilai tukar rial Iran terus terperosok ke titik terendah, membuat Rp 20.000 kini setara jutaan rial di tengah tekanan inflasi, sanksi internasional, dan krisis ekonomi.

Nilai tukar mata uang Iran, rial, kembali mencatatkan pelemahan tajam dan menjadi sorotan global. Per Kamis, 15 Januari 2026, kurs rial di pasar terbuka menembus kisaran 1.065.000 per dolar Amerika Serikat.

Posisi ini menandai rekor terendah sepanjang sejarah mata uang tersebut dan mencerminkan tekanan ekonomi yang kian berat.

Jika dibandingkan dengan awal 2025, pelemahan ini tergolong drastis. Saat itu, nilai tukar rial masih berada di kisaran 42.000 per dolar AS. Artinya, dalam kurun waktu sekitar satu tahun, rial melemah lebih dari 2.400 persen.

Penurunan tajam ini berdampak langsung pada daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi domestik.

Baca Juga: Trump Ngotot Caplok Greenland, NATO Kirim Pasukan: Perang Dunia III di Depan Mata?

Melansir dari Kompas, Jumat (16/1/2026), dampak pelemahan juga terasa pada kurs terhadap rupiah. Data menunjukkan, Rp 1 setara sekitar 63,06 rial Iran. Dengan demikian, Rp 20.000 kini bernilai lebih dari 1,26 juta rial. Kondisi ini memperlihatkan betapa dalamnya depresiasi mata uang Iran di pasar global.

Kejatuhan rial terjadi di tengah krisis ekonomi yang berlarut. Inflasi tahunan Iran dilaporkan telah melampaui 42 persen, dipicu kenaikan harga pangan, perumahan, serta barang impor. Tekanan harga tersebut membuat biaya hidup melonjak, sementara pendapatan masyarakat tidak mengalami penyesuaian sepadan.

Dalam setahun terakhir, rial tercatat kehilangan sekitar 45 persen nilainya. Situasi ini memicu keresahan sosial di sejumlah kota. Aksi protes muncul sebagai respons atas mahalnya kebutuhan pokok dan ketidakpastian ekonomi yang terus membayangi kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Unik: Pria India Ini Klaim Minum 8 Liter Oli Mesin Bekas Tiap Hari Selama 33 Tahun

Ketidakstabilan nilai tukar juga mendorong perubahan perilaku masyarakat dan pelaku usaha. Banyak warga beralih menyimpan aset dalam bentuk dolar AS, emas, atau properti. Peralihan ini semakin mempersempit peredaran rial di dalam negeri dan menambah tekanan di pasar valuta.

Pelemahan rial tidak terlepas dari faktor struktural. Sanksi internasional yang kembali diperketat sejak September 2025 menjadi salah satu pemicu utama. Embargo, pembekuan aset, serta pembatasan sektor energi membatasi ruang gerak ekonomi Iran, khususnya pada sektor minyak yang selama ini menjadi penopang utama pendapatan negara.

Data menunjukkan, Iran kehilangan sebagian potensi pendapatan ekspor minyak akibat pembatasan tersebut. Meski ekspor masih berlangsung melalui jalur tidak langsung, harga jual yang lebih rendah berdampak pada penerimaan negara. Kondisi ini memperkuat tekanan fiskal dan memperpanjang fase perlambatan ekonomi yang tengah dihadapi Iran. (C)

Penulis: Ahmad Jaelani

Editor: Kardin

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS 

Baca Juga