Beda Ciri Khas Ruam Sifilis dan HIV, Berikut Fakta Medisnya
Reporter
Jumat, 13 Februari 2026 / 9:30 am
Ruam kulit sering menjadi tanda awal infeksi menular seksual dengan ciri berbeda yang perlu dikenali. Foto: Repro iStockphoto
JAKARTA, TELISIK.ID - Perubahan pada kulit sering menjadi tanda awal infeksi menular seksual. Ruam sifilis dan HIV kerap tampak serupa, namun memiliki pola klinis berbeda yang penting dikenali sejak dini.
Ruam pada kulit kerap menjadi sinyal awal gangguan kesehatan yang tidak selalu disadari penderitanya. Dalam kasus infeksi menular seksual, kemunculan bercak atau bintik kemerahan dapat menimbulkan kebingungan karena gejalanya terlihat mirip.
Kondisi ini sering terjadi pada sifilis dan HIV, dua penyakit dengan penyebab berbeda tetapi sama-sama dapat memunculkan kelainan kulit pada fase tertentu.
Secara medis, sifilis disebabkan oleh bakteri yang menyerang jaringan tubuh melalui aliran darah, sedangkan HIV disebabkan oleh virus yang merusak sistem kekebalan. Perbedaan agen infeksi tersebut memengaruhi bentuk ruam, lokasi kemunculan, hingga waktu terjadinya gejala.
Karena itu, identifikasi karakteristik ruam menjadi langkah awal untuk menentukan pemeriksaan lanjutan di fasilitas kesehatan.
Melansir dari Alodokter, Jumat (13/2/2026), pada praktik klinis, dokter menilai ruam berdasarkan distribusi, tekstur, serta keluhan penyerta. Pemeriksaan fisik biasanya dilanjutkan dengan tes darah atau tes laboratorium lain guna memastikan diagnosis. Tanpa pemeriksaan tersebut, ruam berisiko disalahartikan sebagai alergi, dermatitis, atau penyakit kulit biasa.
Baca Juga: Kekerasan dalam Hubungan Intim Disebut Biang PTSD, Begini Penjelasannya
Berikut sejumlah perbedaan utama antara ruam sifilis dan ruam HIV yang dapat dikenali dari aspek medis:
1. Lokasi kemunculan ruam
Ruam sifilis paling sering muncul di telapak tangan dan telapak kaki. Area ini menjadi ciri khas pada fase sekunder sifilis. Bercak dapat menyebar ke badan, namun dominan terlihat pada ekstremitas.
Sebaliknya, ruam HIV cenderung muncul di wajah, dada, punggung, atau menyebar luas di tubuh, serta jarang ditemukan di telapak tangan maupun kaki.
2. Bentuk dan penampakan
Ruam sifilis umumnya berupa bintik kecil berwarna merah kecokelatan dengan permukaan agak kasar dan kering. Keluhan gatal atau nyeri biasanya minimal.
Pada HIV, ruam lebih sering berupa bercak merah datar menyerupai alergi atau biduran, sebagian penderita merasakan gatal atau perih, sementara sebagian lain tidak merasakan keluhan apa pun.
3. Waktu munculnya gejala
Pada sifilis, ruam muncul beberapa minggu setelah infeksi awal, biasanya pada rentang dua hingga delapan minggu. Sementara itu, ruam HIV dapat timbul pada fase akut ketika infeksi baru terjadi atau pada fase kronis saat daya tahan tubuh melemah dan infeksi sekunder berkembang.
4. Gejala penyerta
Sifilis kerap disertai demam, lemas, nyeri tenggorokan, pembengkakan kelenjar getah bening, serta kerontokan rambut. Pada HIV, gejala tambahan bisa berupa demam berkepanjangan, penurunan berat badan, sariawan sulit sembuh, dan infeksi kulit berulang. Pada tahap lanjut, gangguan kulit dapat berkaitan dengan infeksi oportunistik atau kanker tertentu.
Baca Juga: Puber Kedua Dimulai Usia 40 Tahun dan Dorongan Hubungan Ranjang Deras? Begini Fakta Medisnya
5. Penyebab medis
Ruam sifilis dipicu penyebaran bakteri Treponema pallidum ke jaringan kulit. Ruam HIV tidak selalu langsung disebabkan virusnya, tetapi juga dapat muncul akibat reaksi obat, alergi, atau infeksi lain ketika imunitas menurun.
Tenaga kesehatan mengingatkan bahwa ruam tidak boleh dianggap sepele, terutama bila disertai riwayat hubungan seksual berisiko. Pemeriksaan dini membantu mencegah komplikasi dan penularan lebih lanjut. Konsultasi dapat dilakukan secara langsung di fasilitas kesehatan atau melalui layanan telemedis yang tersedia. (C)
Penulis: Ahmad Jaelani
Editor: Kardin
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS