Puluhan Penambang Lokal Demo PT SLG di Pomalaa Kolaka, Tolak Kenaikan Royalti 15 USD
Gusti Kahar, telisik indonesia
Jumat, 13 Februari 2026
0 dilihat
Massa aksi membentangkan replika keranda sebagai simbol penolakan aktivitas tambang, dikawal aparat kepolisian. Foto: Ist
" Kenaikan royalti yang dinilai memberatkan dan tidak disosialisasikan "

KOLAKA, TELISIK.ID - Puluhan penambang lokal yang merupakan mitra PT Surya Lintas Gemilang (PT SLG), berdemonstrasi di area tambang Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra), Kamis (12/2/2026).
Aksi tersebut dipicu kebijakan kenaikan royalti yang dinilai memberatkan dan tidak disosialisasikan terlebih dahulu kepada para penambang lokal.
Salah satu penambang lokal mitra PT SLG, Erwan mengungkapkan, kenaikan royalti dilakukan secara bertahap dalam waktu berdekatan tanpa pemberitahuan yang jelas kepada seluruh mitra tambang.
“Tadi itu terkait adanya kenaikan royalti dari pihak PT SLG, lalu kemudian itu tidak disosialisasikan kepada penambangnya. Akhirnya penambang lokal merasa kenaikan royalti ini semena-mena,” ujarnya saat dikonfirmasi telisik.id via WhatsApp, Kamis (12/2/2026).
Ia menjelaskan, awalnya royalti berada di angka 10 USD (Dollar Amerika Serikat), kemudian naik menjadi 13 USD. Namun selang lebih dari satu Minggu, kembali mengalami kenaikan menjadi 15 USD.
Menurutnya, saat kenaikan dari 10 USD ke 13 USD saja para penambang sudah menyampaikan keberatan. Bahkan kata dia, dalam rencana pertemuan untuk proses negosiasi, pihak perusahaan disebut telah menyampaikan angka 13 plus 2, yang berarti total 15 USD.
“Pada saat mau pertemuan untuk tahap negosiasi, mereka sudah sampaikan 13 plus 2. Artinya, yang 13 saja mau dinego, tiba-tiba kami dikagetkan lagi dengan pernyataan bahwa sudah 15 USD,” jelasnya.
Baca Juga: RJ di Polda Sultra Tak Capai Kesepakatan, Kuasa Hukum Sebut Oknum Advokat SK Ancam Pelapor Cabut Laporan
Erwan menilai, tidak adanya sosialisasi membuat para penambang merasa dirugikan dan seolah-olah dijebak dengan kebijakan baru tersebut.
“Kalau mungkin disosialisasikan dengan baik, harusnya bisa didudukkan bersama. Bisa dibahas dalam briefing dan jadi kesepakatan bersama, sehingga tidak menimbulkan polemik seperti ini,” katanya.
Lebih lanjut, Erwan mengatakan, terkait tuntutan pengusiran Jodico dan Arya dari wilayah Pomalaa yang dianggap sebagai sumber kegaduhan, ia menyebut hal itu merupakan akumulasi dari berbagai keresahan penambang selama ini.
“Mungkin ada perilaku-perilaku yang terakumulasi sehingga muncul kejengkelan. Teman-teman berharap ada sinergi dan kerja sama yang lebih baik,” ujarnya.
Ia menambahkan, para penambang berharap para stakeholder di wilayah PT SLG dapat menjadi jembatan komunikasi antara manajemen perusahaan dan penambang di lapangan, sehingga tidak terjadi miskomunikasi.
“Harusnya segala bentuk keluh kesah penambang bisa dijembatani. Informasi dari bawah tersalurkan dengan baik ke atas, dan dari atas juga tersampaikan dengan baik ke penambang. Kalau tidak, akhirnya terjadi miskomunikasi,” pungkas Erwan.
Selain persoalan kenaikan royalti, para penambang juga menyoroti tuntutan terkait pengurusan cargo yang hingga kini belum diselesaikan.
Salah satu penambang lokal lainnya, Awal menyebut, pihak PT Indonesia Pomalaa Industrial Park (PT IPIP), PT Rimau New World (PT RNW), dan PT Kolaka Nikel Indonesia (PT KNI) sebelumnya berjanji akan menyelesaikan persoalan tersebut sejak Januari, namun hingga kini belum ada realisasi.
“Tuntutan soal pengurusan cargo itu sampai hari ini belum diselesaikan, padahal sudah ada janji sejak bulan satu,” ungkap Awal kepada telisik.id.
Dalam aksi tersebut, massa menyampaikan sejumlah tuntutan, di antaranya:
Baca Juga: KPPN Raha Kabupaten Muna Realisasi Belanja APBN 2025 96 Persen, Penilaian IKPA Lampaui Target
1. Mendesak managemen PT SLG untuk mengusir Jodico dan Arya dari tanah Pomalaa karena dianggap sebagai sumber kegaduhan.
2. Mendesak managemen PT SLG untuk menurunkan royalti 15 USD ini adalah bentuk kapitalisme dan penjajahan gaya baru.
3. Stop monopoli SI dan stop kandang paksa mitra SLG dengan membeli kargo dengan harga murah.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak media masih berupaya melakukan konfirmasi kepada manajemen PT SLG dan pihak-pihak terkait lainnya. (B)
Penulis: Gusti Kahar
Editor: Kardin
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS