Kekerasan dalam Hubungan Intim Disebut Biang PTSD, Begini Penjelasannya

Ahmad Jaelani, telisik indonesia
Jumat, 06 Februari 2026
0 dilihat
Kekerasan dalam Hubungan Intim Disebut Biang PTSD, Begini Penjelasannya
Kekerasan dalam hubungan intim memicu trauma mendalam dan meningkatkan risiko gangguan stres pascatrauma korban. Foto: Repro Alta Loma

" Dampaknya bukan hanya fisik, tetapi trauma psikologis mendalam yang memicu gangguan stres pascatrauma "

JAKARTA, TELISIK.ID - Kasus kekerasan dalam hubungan intim terus terungkap. Dampaknya bukan hanya fisik, tetapi trauma psikologis mendalam yang memicu gangguan stres pascatrauma pada korban secara luas berkelanjutan.

Peristiwa kekerasan dalam relasi personal kerap tersembunyi di ruang privat dan sulit terdeteksi lingkungan sekitar. Banyak korban memilih diam karena rasa takut, malu, atau tekanan dari pelaku yang memiliki kedekatan emosional.

Situasi tersebut membuat dampak psikologis berkembang perlahan tanpa penanganan memadai. Dalam sejumlah laporan kesehatan mental, kekerasan seksual maupun fisik dalam hubungan intim disebut sebagai salah satu pemicu utama munculnya post-traumatic stress disorder atau PTSD.

Melansir Halodoc, Jumat (6/2/2026), PTSD merupakan gangguan mental yang muncul setelah seseorang mengalami atau menyaksikan kejadian traumatis. Kondisi ini tidak hanya dialami korban bencana atau konflik, tetapi juga individu yang mengalami kekerasan seksual.

Tenaga medis menyebut trauma akibat pelanggaran batas tubuh dan persetujuan dapat meninggalkan ingatan mendalam yang sulit dihapus. Dampaknya, korban mengalami ketakutan berulang, kecemasan, serta reaksi emosional yang muncul tiba-tiba saat mengingat peristiwa tersebut.

Sejumlah penelitian kesehatan menunjukkan proporsi korban kekerasan seksual yang mengalami trauma tergolong tinggi. Dalam publikasi ilmiah yang dikutip tenaga medis, sebagian besar korban melaporkan gejala trauma berkepanjangan, sementara sebagian lainnya berkembang menjadi PTSD.

Baca Juga: Puber Kedua Dimulai Usia 40 Tahun dan Dorongan Hubungan Ranjang Deras? Begini Fakta Medisnya

Gejala tersebut dapat berlangsung berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun apabila tidak mendapatkan pendampingan psikologis. Kondisi ini berpotensi mengganggu pekerjaan, relasi sosial, serta aktivitas harian.

Secara klinis, gejala PTSD tidak selalu terlihat secara langsung. Korban dapat tampak baik-baik saja, namun mengalami tekanan batin yang intens. Beberapa orang menghindari tempat atau situasi yang mengingatkan pada kejadian traumatis.

Sebagian lainnya mudah terkejut, sulit tidur, atau mengalami mimpi buruk berulang. Reaksi ini muncul sebagai bentuk pertahanan diri tubuh terhadap memori yang dianggap mengancam.

Selain gejala psikologis, keluhan fisik juga sering menyertai. Tubuh dapat merespons stres berkepanjangan melalui sakit kepala, kelelahan, gangguan pencernaan, hingga ketegangan otot.

Tenaga kesehatan menyebut kondisi tersebut sebagai dampak hubungan erat antara pikiran dan tubuh. Karena itu, penanganan PTSD tidak hanya berfokus pada aspek mental, tetapi juga kesehatan fisik secara menyeluruh.

Penanganan medis biasanya dilakukan melalui pendekatan terapi psikologis. Psikoterapi dinilai efektif membantu korban memahami kembali pengalaman traumatis tanpa merasa terancam.

Dalam proses ini, pasien didampingi tenaga profesional untuk mengenali pola pikir negatif dan membangun respons yang lebih adaptif. Terapi dilakukan bertahap agar korban merasa aman selama proses pemulihan.

Berikut sejumlah langkah penanganan yang umum direkomendasikan tenaga kesehatan:

1. Psikoterapi, termasuk terapi pemrosesan kognitif untuk membantu mengubah cara pandang terhadap ingatan traumatis.

2. Prolonged-exposure therapy, untuk melatih respons terkendali terhadap situasi yang memicu kecemasan.

3. Konseling rutin, guna memantau perkembangan emosi serta memberikan dukungan berkelanjutan.

4. Olahraga teratur, membantu menstabilkan hormon stres dan memperbaiki suasana hati.

Baca Juga: Ini Bahan Alami Andalan untuk Kulit Sehat dan Bebas Masalah

5. Aktivitas hobi, sebagai saluran ekspresi emosi dan relaksasi.

6. Pemenuhan gizi dan istirahat cukup, menjaga kondisi fisik agar proses pemulihan lebih optimal.

Tenaga medis menekankan pentingnya deteksi dini ketika gejala mulai terasa. Korban atau keluarga disarankan segera berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater apabila muncul gangguan tidur, kecemasan berkepanjangan, atau kilas balik kejadian traumatis. Pendampingan sejak awal dinilai dapat mencegah kondisi berkembang menjadi lebih berat.

Fenomena kekerasan dalam hubungan intim menunjukkan bahwa dampaknya melampaui luka fisik semata. Trauma psikologis yang tidak tertangani dapat menetap lama dan memengaruhi kualitas hidup korban. Karena itu, pemahaman mengenai PTSD serta akses terhadap layanan kesehatan mental menjadi bagian penting dalam upaya perlindungan dan pemulihan korban kekerasan. (C)

Penulis: Ahmad Jaelani

Editor: Kardin

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Artikel Terkait
Baca Juga