Dari Tilawah ke Tajalli: Ramadan dan Epifani Ahl Al Quran

Muh. Ikhsan

Penulis

Minggu, 01 Maret 2026  /  7:53 am

Dr H Muh. Ikhsan, M.Ag, Dosen Sejarah Pemikiran Islam dan Direktur Puncak IAIN Kendari. Foto: Ist.

Oleh: Dr H Muh. Ikhsan, M.Ag

Dosen Sejarah Pemikiran Islam dan Direktur Puncak IAIN Kendari

RAMADAN selalu dimulai dengan suara. Suara adzan yang lebih syahdu. Suara ayat-ayat yang lebih sering dilantunkan. Suara tilawah yang menggema dari masjid hingga ruang-ruang sunyi rumah. Namun pertanyaannya, apakah suara itu berhenti di telinga, atau ia menembus hingga ke jiwa?

Allah SWT menegaskan: "Bulan Ramadan adalah untuk (pertama kali) diturunkan Al Quran menjadi petunjuk bagi manusia dan penjelasan dari petunjuk itu dan sebagai pembeda (antara yang hak dan batil)" (QS. Al-Baqarah, 2: 185)

Ramadan bukan sekadar bulan puasa, tetapi bulan turunnya wahyu. Ia adalah ruang waktu ketika langit menyapa bumi dengan cahaya. Karena itu, Ramadan sejatinya bukan hanya musim tilawah, melainkan musim tajalli—musim ketika makna-makna ilahi menyingkap dalam kesadaran manusia.

Tilawah: Gerbang Kesadaran

Tilawah adalah langkah pertama. Ia adalah gerakan lisan yang membuka pintu hati. Dalam tradisi nabi, setiap Ramadan malaikat Jibril datang untuk mudarasah Al Quran bersama beliau. Ini bukan sekadar rutinitas bacaan, tetapi dialog antara wahyu dan kesadaran.

Namun tilawah tanpa tadabbur hanya akan menjadi gema. Ia terdengar, tetapi tidak mengubah. Di sinilah kita sering terjebak: menyelesaikan juz demi juz, tetapi tidak menyelesaikan kegelisahan batin. Mengkhatamkan mushaf, tetapi belum mengkhatamkan ego.

Menurut M. Quraish Shihab, Al Quran adalah petunjuk hidup—ia harus dibaca dengan hati yang ingin berubah. Tanpa kesiapan batin, ayat hanya menjadi teks; dengan kesiapan, ia menjadi cahaya.

Baca Juga: Antara Gerak dan Makna: Niat sebagai Nafas Ihsan dalam Ibadah

Tajalli: Ketika Ayat Menjelma Realitas

Tajalli dalam tradisi sufistik berarti tersingkapnya cahaya Ilahi dalam batin. Ia bukan pengalaman mistik yang jauh dari realitas, tetapi perubahan konkret dalam akhlak dan kesadaran.

Ketika seseorang membaca ayat tentang kejujuran lalu berhenti berdusta—itulah tajalli. Ketika ia membaca tentang sabar lalu mampu menahan amarah—itulah tajalli. Ketika ia membaca tentang rahmat lalu memaafkan—itulah tajalli.

Ahl Al Quran adalah mereka yang mengalami proses ini. Rasulullah bersabda: “Ahl al-Qur’an adalah keluarga Allah dan orang-orang pilihan-Nya.” (HR. Ibn Majah)

Menjadi Ahl Al Quran bukan sekadar fasih melafalkan huruf, tetapi menjadikan diri sebagai cermin nilai-nilai wahyu. Sebagaimana ditegaskan oleh Ibn Kathir, Al Quran diturunkan sebagai petunjuk dan pembeda. Ia harus membedakan antara diri lama dan diri yang diperbarui.

Epifani: Pencerahan yang Mengubah Arah

Epifani adalah momen tersingkapnya makna secara tiba-tiba dan mendalam. Dalam Ramadan, epifani itu bisa hadir di malam-malam sunyi, saat ayat tertentu terasa “berbicara” langsung kepada kita.

Mungkin pada ayat tentang kematian kita tersadar akan kefanaan. Mungkin pada ayat tentang ampunan kita menangis karena harapan. Mungkin pada ayat tentang keadilan kita tergerak untuk memperbaiki diri.

Ramadan adalah laboratorium jiwa. Puasa melembutkan hati, Al Quran menerangi hati. Ketika keduanya bersatu, lahirlah epifani—kesadaran baru tentang siapa kita dan ke mana kita menuju.

Baca Juga: Anak Gantung Diri, Siapa Bisa Atasi?

Dari Musiman ke Eksistensial

Bahaya terbesar Ramadan adalah menjadikannya musiman. Tilawah meningkat selama sebulan, lalu redup sebelas bulan berikutnya. Tajalli yang sempat terasa, kembali tertutup oleh rutinitas dunia.

Padahal, tujuan Ramadan adalah melahirkan manusia qurani—mereka yang hidup bersama Al Quran, bukan hanya membacanya. Di era digitalisasi yang riuh dan penuh distraksi, menjadi Ahl Al Quran berarti menjadikan wahyu sebagai kompas etika, penyaring informasi, dan penuntun nurani.

Ramadan mengajarkan kita bahwa cahaya tidak datang dari luar, tetapi dari dalam—ketika ayat-ayat Allah menemukan ruangnya di hati.

Tilawah adalah awal. Tajalli adalah tujuan. Dan Ahl Al Quran adalah mereka yang menjadikan Ramadan bukan sekadar kalender ibadah, tetapi titik balik eksistensial.Sebab pada akhirnya, yang kita cari bukan hanya khatam bacaan, tetapi khatam kegelapan dalam diri. (*)

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS