Puasa, Sabar, dan Cahaya Ilmu di Ruang Kelas
Muh. Ikhsan, telisik indonesia
Sabtu, 07 Maret 2026
0 dilihat
Dr H Muh. Ikhsan AR, M.Ag, Dosen Sejarah Pemikiran Islam Pascasarjana IAIN Kendari. Foto: Ist.
" Wajah-wajah mahasiswa tampak lebih tenang, tetapi juga lebih lelah "

Oleh: Dr H Muh. Ikhsan AR, M.Ag
Dosen Sejarah Pemikiran Islam Pascasarjana IAIN Kendari
RUANG kelas pada bulan Ramadan sering menghadirkan suasana yang berbeda. Wajah-wajah mahasiswa tampak lebih tenang, tetapi juga lebih lelah. Energi yang biasanya hidup dalam diskusi kadang terasa redup.
Bagi seorang dosen yang datang dengan semangat penuh untuk mengajar, situasi ini bisa menjadi pengalaman yang tidak mudah. Harapan akan kelas yang dinamis terkadang bertemu dengan realitas mahasiswa yang kurang bergairah mengikuti perkuliahan.
Namun justru di situlah Ramadan memperlihatkan wajahnya sebagai madrasah kesabaran.
Mengajar di ruang kelas pada bulan puasa bukan sekadar aktivitas akademik; ia juga bisa menjadi bentuk dakwah yang sunyi. Dakwah yang tidak selalu diiringi tepuk tangan, tidak selalu disambut antusias, tetapi tetap dijalankan dengan ketulusan. Seorang dosen yang tetap berdiri di depan kelas dengan kesungguhan, meskipun respon mahasiswa tidak terlalu hidup, sesungguhnya sedang mempraktikkan nilai inti dari puasa: kesabaran.
Allah mengingatkan dalam Al Quran: “Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153).
Ayat ini tidak hanya relevan untuk menghadapi ujian besar dalam hidup, tetapi juga untuk menghadapi situasi-situasi kecil yang menguji kesabaran sehari-hari—termasuk di ruang kelas.
Baca Juga: Dari Tilawah ke Tajalli: Ramadan dan Epifani Ahl Al Quran
Dalam perspektif yang lebih dalam, Ramadhan mengajarkan bahwa dakwah tidak selalu berlangsung di mimbar masjid. Ia juga terjadi di ruang kuliah, di tengah papan tulis, di sela-sela diskusi, bahkan dalam sikap seorang dosen yang tetap sabar dan tulus ketika mahasiswa terlihat kurang antusias. Dakwah bisa hadir dalam bentuk keteladanan: bagaimana seorang pendidik tetap menjaga adab, tetap menjelaskan dengan tenang, dan tetap menyalakan cahaya ilmu meskipun suasana kelas terasa redup.
Rasulullah pernah bersabda: “Puasa adalah perisai.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Perisai yang dimaksud bukan hanya melindungi manusia dari dosa, tetapi juga melatihnya untuk mengendalikan emosi. Bagi seorang pendidik, perisai itu bisa berupa kemampuan menahan rasa kecewa ketika kelas tidak berjalan sesuai harapan.
Sering kali kita mengukur keberhasilan mengajar dari respons langsung: banyaknya pertanyaan, hidupnya diskusi, atau antusiasme mahasiswa. Padahal pendidikan tidak selalu bekerja secara instan. Ilmu sering kali menanamkan benih yang tumbuh perlahan. Apa yang tampak sunyi hari ini mungkin akan berbuah pemahaman di masa depan.
Di sinilah letak dimensi sufistik dari pengabdian seorang pendidik. Ia tidak semata-mata mengajar untuk mendapatkan respons atau pengakuan, tetapi karena ia memandang mengajar sebagai amanah. Ketika niat ini tertanam kuat, maka ruang kelas tidak lagi sekadar tempat transfer pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang ibadah.
Baca Juga: Antara Gerak dan Makna: Niat sebagai Nafas Ihsan dalam Ibadah
Ramadan mengajarkan bahwa nilai sebuah amal tidak hanya diukur dari hasil yang terlihat, tetapi juga dari keikhlasan dalam menjalaninya. Seorang dosen yang tetap mengajar dengan dedikasi meskipun kelas terasa lesu sebenarnya sedang menanamkan pelajaran yang lebih dalam daripada materi kuliah itu sendiri: pelajaran tentang ketekunan, kesabaran, dan tanggung jawab.
Barangkali mahasiswa tidak selalu menyadarinya saat itu. Tetapi suatu hari mereka mungkin akan mengingat bahwa pernah ada seorang dosen yang tetap mengajar dengan penuh kesungguhan, bahkan ketika suasana kelas tidak begitu hidup.
Pada akhirnya, Ramadan mengingatkan kita bahwa dakwah tidak selalu harus lantang. Kadang ia hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: seorang pendidik yang tetap menyalakan cahaya ilmu di ruang kelas yang sunyi.
Dan mungkin justru dalam kesunyian itulah nilai pengabdian menemukan maknanya yang paling dalam. (*)
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS