Dulu Primadona, Kini Wisata Bungkutoko dan Mangrove Kebi Mulai Sunyi
Reporter
Jumat, 21 Agustus 2026 / 3:25 pm
Suasana kawasan Manggrove Kendari Beach yang ada di Jl Lahundape, Kecamatan Kendari Barat. Foto: Erni Yanti/Telisik
KENDARI, TELISIK.ID - Sejumlah kawasan wisata di Kota Kendari yang sebelumnya ramai dikunjungi warga, kini mulai terlihat sepi. Kondisi tersebut tampak di kawasan Bungkutoko dan Mangrove Kebi yang aktivitas pengunjungnya tidak seramai sebelumnya.
Pantauan di kawasan Bungkutoko, Jumat (21/8/2026), menunjukkan suasana yang berbeda dibandingkan sebelumnya. Area yang dahulu ramai dikunjungi warga, terutama pada sore hari, kini terlihat lengang.
Di sejumlah titik tampak sampah berserakan. Beberapa bagian kawasan hanya ditumbuhi bunga, sementara fasilitas tempat duduk yang sebelumnya menjadi lokasi warga bersantai tidak lagi terisi.
Bungkutoko sebelumnya dikenal sebagai salah satu lokasi warga menikmati suasana sore. Anak-anak juga kerap bermain di kawasan tersebut, sementara lapak-lapak pedagang mulai ramai pada malam hari.
Namun, kondisi saat ini tampak berbeda. Hanya satu-dua lapak pedagang yang terlihat buka malam hari. Beberapa pengunjung masih datang, tetapi jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan kondisi sebelumnya.
Baca Juga: Lestarikan Budaya hingga Dorong UMKM, Harmawati Ungkap Konsep Lomba IWSS Sultra
Seorang warga Bungkutoko, Ilham yang sehari-hari berprofesi sebagai tukang ojek mengatakan, kawasan tersebut sudah lama tidak seramai sebelumnya. Menurutnya, kondisi mulai terasa sepi setelah munculnya kawasan wisata Papalimba.
“Sudah lama tidak ramai sejak adanya wisata Papalimba. Pedagang juga sudah banyak yang tidak jualan. Ada yang buka, tapi yang datang hanya satu-dua orang. Kami yang ojek juga sepi,” ujar Ilham.
Seorang pengunjung juga menilai, suasana Bungkutoko kini berbeda dibandingkan sebelumnya.
“Kalau dulu sore ramai, banyak orang datang dan anak-anak bermain. Sekarang lebih sepi, jadi tidak banyak yang duduk lama,” katanya.
Kondisi tak jauh berbeda juga terlihat di kawasan Mangrove Kebi. Beberapa orang masih terlihat datang dan duduk menikmati suasana, tetapi jumlahnya tidak seramai sebelumnya.
Lingkungan wisata tampak sepi dan tidak lagi memberikan kesan nyaman seperti sebelumnya ketika pengunjung masih ramai berdatangan.
Salah satu pengunjung Rahmat berharap, kawasan Mangrove Kebi kembali mendapat perhatian, terutama dalam hal kebersihan, fasilitas dan aktivitas yang dapat menarik pengunjung.
“Dulu ramai sekali, termasuk beberapa komunitas yang datang olahraga. Sekarang masih ada yang datang duduk, tetapi tidak seramai dulu,” ujarnya.
Di tengah kondisi tersebut, Kepala Dinas Pariwisata Sulawesi Tenggara, Ridwan Badallah mengatakan, pengembangan pariwisata tidak hanya berfokus pada wisata bahari, tetapi juga mencakup kawasan perkotaan, budaya, heritage, hiburan dan ruang rekreasi.
“Pariwisata itu berkelanjutan. Kalau kemarin dibangun, seharusnya berkelanjutan. Kalau tidak berkelanjutan, berarti ada yang salah,” kata Ridwan.
Baca Juga: Pengabdian S1 Farmasi Universitas Pelita Ibu Perkuat Kader Posyandu Dampingi Pasien Prolanis
Menurut Ridwan, pengelolaan kawasan wisata seperti Bungkutoko dan Mangrove Kebi berada pada pemerintah kota, sementara Dinas Pariwisata Sultra berperan dalam pembinaan.
Ia menilai, destinasi wisata yang dibangun perlu dikelola secara berkelanjutan agar tetap memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Kalau terkait itu, pemerintah kota yang kelola. Kami cuma membina. Kenapa tidak berkelanjutan, itu perlu dipertanyakan kenapa bisa,” ujarnya.
Ridwan juga mengatakan, perkembangan pariwisata saat ini semakin luas dan tidak hanya mengandalkan kegiatan atau event. Menurutnya, promosi melalui media sosial serta kolaborasi dengan komunitas menjadi bagian penting dalam menggerakkan sektor pariwisata.
“Hari ini pariwisata booming karena kami melibatkan pentahelix. Kita tidak hanya bicara event. Kita berkolaborasi dengan komunitas,” katanya. (A)
Penulis: Erni Yanti
Editor: Kardin
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS