Ekspor Nikel Indonesia 2026 Anjlok Usai Deretan Smelter Terimbas El Nino
Reporter
Minggu, 06 September 2026 / 9:16 am
Ekspor nikel Indonesia 2026 terancam anjlok setelah El Nino menekan produksi sejumlah smelter di kawasan IMIP. Foto: Repro Bloomberg Technoz
JAKARTA, TELISIK.ID - Ekspor nikel Indonesia 2026 terancam turun setelah kekeringan akibat El Nino menekan produksi sejumlah smelter di kawasan IMIP, Morowali.
Kondisi kekeringan di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park atau IMIP, Sulawesi Tengah, berpotensi menekan produksi smelter hingga 30-40 persen.
Gangguan tersebut menjadi perhatian karena IMIP merupakan salah satu sentra industri nikel dan kawasan hilirisasi dengan aktivitas produksi yang terintegrasi.
Analis komoditas sekaligus Founder Traderindo Wahyu Laksono mengatakan kontribusi IMIP masih dominan terhadap total volume ekspor produk olahan nikel Indonesia.
Menurut Wahyu, berkurangnya pasokan dari kawasan industri tersebut berpotensi membuat nilai dan volume pengiriman produk nikel ke pasar internasional melambat dalam jangka pendek.
Namun, dia belum dapat memperkirakan secara pasti volume ekspor produk turunan nikel yang berpotensi terdampak. Besaran dampak masih bergantung pada tingkat penurunan produksi serta komoditas yang mengalami gangguan.
“Penurunan kapasitas operasional hingga 40% di salah satu pusat hilirisasi terbesar Indonesia ini secara langsung akan menggerus volume pasokan produk olahan nikel siap ekspor, seperti nickel pig iron (NPI) atau feronikel,” kata Wahyu, seperti dikutip dari Bloomberg Technoz, Minggu (6/9/2026).
Wahyu juga menilai gangguan produksi di IMIP berpotensi memengaruhi pasokan nikel global. Menurutnya, Indonesia memiliki peran penting dalam perdagangan komoditas nikel dunia.
“Penurunan suplai dari Indonesia berpotensi memperketat ketersediaan bahan baku nikel global. Terutama untuk kebutuhan industri baja nirkarat dan rantai pasok baterai kendaraan listrik, sehingga memaksa pembeli internasional untuk mencari alternatif pasokan yang terbatas atau mengandalkan cadangan yang ada,” ujarnya.
Ekspor Sulawesi Tengah Didominasi Besi, Baja, dan Nikel
Data Badan Pendapatan Daerah Sulawesi Tengah mencatat nilai ekspor provinsi tersebut sepanjang 2025 mencapai US$22,32 miliar.
Nilai tersebut tumbuh 5,14 persen dibandingkan ekspor pada 2024 yang mencapai US$21,22 miliar.
Kabupaten Morowali menjadi salah satu pusat aktivitas perdagangan luar negeri Sulawesi Tengah. Pelabuhan Bahodopi dan Morowali mencatat nilai ekspor gabungan sebesar US$18,08 miliar atau sekitar 81 persen dari total ekspor Sulawesi Tengah pada 2025.
Dari sisi komoditas, ekspor Sulawesi Tengah masih didominasi produk besi dan baja dengan pangsa 61,31 persen. Sementara itu, komoditas nikel memiliki pangsa 16,59 persen.
Feronikel atau FeNi, nickel pig iron atau NPI, serta berbagai produk turunan logam termasuk dalam komoditas utama ekspor Sulawesi Tengah.
Sementara itu, dua produk berbasis nikel yang menjadi komoditas andalan kawasan IMIP adalah baja nirkarat dan mixed hydroxide precipitate atau MHP.
Ekspor Produk Nikel Indonesia Capai 1,16 Juta Ton
Pada tingkat nasional, Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat volume ekspor produk nikel Indonesia pada Januari-Juli 2026 mencapai 1,16 juta ton.
Produk nikel yang tercatat dalam kode HS 75 atau nickel and articles thereof sebagian besar dikirim ke China.
Sepanjang Januari-Juli 2026, ekspor produk nikel Indonesia ke China mencapai sekitar 1,07 juta ton. Jumlah tersebut setara dengan 92,73 persen dari total ekspor produk nikel Indonesia pada periode tersebut.
Baca Juga: ESDM Setujui Revisi RKAB 2026, Tambang Nikel dan Batu Bara Bisa Produksi Lagi
China menjadi pasar utama ekspor produk nikel Indonesia berdasarkan volume pengiriman tersebut.
El Nino Tekan Produksi Smelter IMIP
Manajemen IMIP sebelumnya mengakui kawasan industri berbasis nikel di Sulawesi Tengah terdampak fenomena El Niño. Kondisi cuaca yang lebih kering menyebabkan pasokan air di wilayah Morowali ikut terpengaruh.
Head of Media Relations IMIP Dedy Kurniawan mengatakan kekeringan di Morowali berdampak terhadap operasional sejumlah fasilitas industri yang membutuhkan air dalam proses produksinya.
Menurut Dedy, sumber daya air menjadi salah satu komponen penting dalam operasional smelter nikel hidrometalurgi berbasis high pressure acid leaching atau HPAL.
Air juga diperlukan untuk mendukung operasional pabrik produksi kokas atau coke serta pembangkit listrik tenaga uap atau PLTU.
“Mengenai faktor El Nino, kondisi cuaca yang lebih kering dan panjang diketahui menyebabkan penurunan potensi curah hujan di Indonesia, termasuk di lingkup Kecamatan Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah sebagai lokasi operasional industri IMIP. Hal ini karena El Nino memengaruhi debit air sungai,” kata Dedy, Rabu 2 September 2026.
Menurut dia, kondisi tersebut turut memengaruhi laju produksi industri di kawasan IMIP.
“Ditaksir dari keseluruhan operasional industri di IMIP, El Nino melambatkan laju produksi hingga mengakibatkan 30%–40% penurunan produksi,” tegasnya.
Meski produksi terdampak, Dedy mengatakan kondisi tersebut belum membuat operasional smelter di kawasan IMIP terhenti.
Dia juga memastikan gangguan tersebut tidak menyebabkan pengurangan tenaga kerja.
“Kendala dari ekses gangguan iklim masih dapat dikontrol tanpa berimbas lebih besar bagi kesejahteraan pekerja,” ungkap Dedy.
Produksi Kokas di IMIP Ikut Terdampak
Dampak kekeringan juga dirasakan sejumlah produsen kokas di kawasan IMIP. MySteel melaporkan beberapa produsen mengalami penurunan produksi akibat terbatasnya pasokan air yang berkaitan dengan fenomena El Nino.
Berdasarkan survei MySteel, sejumlah produsen menerapkan tambahan pembatasan produksi sebesar 10-20 persen di atas pengurangan produksi yang telah terjadi sebelumnya.
Akibatnya, tingkat produksi kokas di kawasan IMIP hanya berada pada kisaran 50-60 persen dari kapasitas produksinya.
“Produsen kokas, yang mengoperasikan pabrik di Kawasan Industri Tsingshan di Provinsi Sulawesi Tengah, makin memperdalam pemangkasan produksi seiring kekeringan yang terkait dengan fenomena El Niño yang makin memperketat pasokan air yang dibutuhkan untuk produksi, menurut survei terbaru Mysteel,” tulis MySteel dalam risetnya.
IMIP Jadi Sentra Industri Nikel
PT IMIP merupakan perusahaan pengelola kawasan industri berbasis nikel yang berlokasi di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.
Kawasan tersebut memiliki kegiatan industri yang terintegrasi dengan produk utama berupa nikel, baja nirkarat, baja karbon, serta bahan baku baterai kendaraan listrik atau electric vehicle.
Kawasan Industri IMIP merupakan hasil kerja sama Bintang Delapan Group dari Indonesia dengan Tsingshan Steel Group dari China.
Baca Juga: Sawit hingga Nikel Bakal Punya Bursa Sendiri, Pemerintah Siapkan Icomex Mulai 2027
Struktur kepemilikan IMIP didominasi Shanghai Decent Investment Group dengan porsi 49,69 persen. PT Sulawesi Mining Investment atau SMI memiliki 25 persen saham, sedangkan PT Bintang Delapan Investama menguasai 25,31 persen.
Sejak awal pengembangan proyek industri nikel tersebut, nilai investasi di kawasan IMIP telah mencapai US$7,1 miliar.
Di kawasan tersebut terdapat sedikitnya 11 smelter nikel dengan kapasitas 40 lini produksi.
Berdasarkan data Auriga Nusantara, sedikitnya terdapat sembilan perusahaan asal China yang beroperasi di kawasan IMIP. Perusahaan tersebut bergerak dalam pengolahan dan pemurnian nikel, produksi baja nirkarat, serta bahan baku baterai kendaraan listrik.
Perusahaan tersebut antara lain PT Indonesia Guang Ching Nickel and Stainless Steel Industry atau GCNS, Indonesia Tsingshan Stainless Steel atau ITSS, Tsingshan Steel Indonesia atau TSI, Indonesia Ruipu Nickel and Chrome Alloy atau IRNC, PT Dexin Steel Indonesia atau DSI, Hengjaya Nickel Industry atau HNI, Ranger Nickel Industry atau RNI, Huayue Nickel & Cobalt atau HYNC, PT Gunbuster Nickel Industry, serta Qing Mei Bang New Energy Materials Indonesia atau QMB. (C)
Penulis: Ahmad Jaelani
Editor: Kardin