Cerita Ustaz Digeruduk 3 PSK hingga Diteror Santet
Ahmad Jaelani, telisik indonesia
Minggu, 06 September 2026
0 dilihat
Ustaz Dudu Mardiana mengungkap pengalaman didatangi tiga PSK hingga menghadapi teror gaib di Ponpes Dar Al-Taubah Saritem. Foto: Repro Detik
" Ustaz Dudu Mardiana menceritakan pengalaman didatangi tiga PSK di Saritem hingga menghadapi teror gaib "

BANDUNG, TELISIK.ID - Ustaz Dudu Mardiana menceritakan pengalaman didatangi tiga PSK di Saritem hingga menghadapi teror gaib saat Ponpes Dar Al-Taubah baru berdiri.
Kawasan Saritem di Kota Bandung, Jawa Barat, dikenal sebagai salah satu kawasan lokalisasi yang telah ada sejak zaman kolonial Belanda. Pemerintah Kota Bandung kemudian menutup aktivitas lokalisasi tersebut pada 2007.
Namun, perjalanan mengubah citra Saritem tidak berhenti setelah penutupan lokalisasi. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menghadirkan Pondok Pesantren Dar Al-Taubah di kawasan tersebut.
Ponpes Dar Al-Taubah diresmikan pada 2 Mei 2000. Pesantren yang berada di Jalan Kebon Tangkil, Kelurahan Kebon Jeruk, Kecamatan Andir, Kota Bandung, itu didirikan untuk memberikan pendidikan agama sekaligus berdakwah di tengah lingkungan yang sebelumnya dikenal sebagai kawasan prostitusi.
"Pondok pesantren itu tempatnya orang-orang baik, dan tempat orang-orang yang tidak baik yang ingin menjadi baik," kata pengasuh Ponpes Dar Al-Taubah, Dudu Mardiana, seperti dikutip dari laman Detik, Minggu (6/9/2026).
Dudu merupakan alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor yang telah ikut mengelola Ponpes Dar Al-Taubah sejak awal berdiri. Ia diajak langsung oleh pendiri pesantren, almarhum KH Imam Sonhaji.
Menurut Dudu, pada masa awal berdiri, pesantren menghadapi berbagai tantangan. Sejumlah orang tua siswa bahkan sempat mempertanyakan keberadaan pesantren yang berada di lingkungan Saritem.
"Pas awal-awal berdiri, itu tantangannya banyak. Malah dari orang tua siswa enggak yakin ini anaknya nanti bagaimana. Tapi kita menanggapinya dengan cara membeberkan mulai dari kurikulum, sistem metode pendidikannya termasuk disiplin pondok buat santri di sini," ujarnya.
Seiring waktu, keberadaan pesantren mulai diterima masyarakat. Saat ini, sekitar 180 santri laki-laki dan perempuan tinggal di pesantren. Selain itu, terdapat sekitar 150 santri yang tidak menetap dan mayoritas berasal dari lingkungan sekitar.
"Kalau santri di sini total ada 180-an, laki-laki sama perempuan dan semuanya anak-anak sekolah. Itu yang mondok di sini, yang enggak mondok ada 150 dan mayoritas anak-anak yang rumahnya ada di kawasan ini," katanya.
Teror Gaib di Awal Berdirinya Pesantren
Di balik perjalanan Ponpes Dar Al-Taubah, Dudu menceritakan sejumlah kejadian yang menurut pengalamannya berkaitan dengan hal mistis. Peristiwa tersebut terjadi terutama pada tiga tahun pertama sejak pesantren berdiri.
"Kalau teror secara fisik Alhamdulillah enggak pernah, tapi secara magis memang betul ada. Itu saya rasakan sendiri sampai tahun ketiga pondok didirikan," ungkap Dudu.
Ia mengaku pernah menemukan kalajengking di kamar ketika sedang tidur. Tidak hanya dirinya, sejumlah santri juga disebut pernah menemukan kelabang dan kalajengking di bak mandi.
"Saya kan ikut dari awal di ponpes, pernah waktu itu lagi tidur tiba-tiba ada kalajengking di kamar. Kejadian seperti itu sering saya alamin, termasuk anak-anak santri lagi mandi tiba-tiba di bak banyak kelabang sama kalajengking," tuturnya.
Kejadian tersebut sempat membuat sejumlah santri merasa tidak nyaman. Sebagian bahkan memilih pulang karena mengaku tidak kuat menghadapi kejadian yang mereka alami.
"Di tahun pertama sampai ketiga itu santri banyak yang goncang. Ada yang sakit, yang pulang juga ada karena enggak kuat sering lihat penampakan kayak gitu," kata Dudu.
Menurut Dudu, situasi tersebut mulai mereda setelah memasuki tahun ketiga. Pendiri pesantren saat itu rutin menggelar istigasah setiap malam Jumat dan mengundang ulama dari berbagai wilayah di Kota Bandung.
"Sampai tahun ketiga yang berat, setelah itu Alhamdulillah enggak ada lagi. Karena dulu almarhum, pendiri, itu setiap malam Jumat selalu mengadakan istigasah di sini," ujarnya.
"Terus yang diundang juga ulama se-Kota Bandung. Jadi Alhamdulillah semuanya bisa dilalui," sambungnya.
Baca Juga: 3 Sosok Pemeran Link Video Paling Diburu Usai Kasir Indomaret Lylia Viral, Ada Yank Uwes Yank hingga Azka Coolmax Durian
Dudu juga mengaku pernah mendapat pengakuan dari seseorang yang disebut memiliki pengaruh di kawasan Saritem. Orang tersebut, menurut Dudu, mengaku pernah meminta bantuan sejumlah dukun untuk mengganggu pesantren.
"Jadi pernah ada orang, katakanlah dia punya pengaruh di sini. Itu dia bilang sendiri ke kami di pondok. Bahasa dia gini, hebat katanya orang-orang pesantren enggak tahu punya ilmu apa, padahal udah berapa dukun yang nyerang ke sini. Itu kata dia, dianya jujur bilang melakukan hal itu ke pondok," ungkapnya.
Tiga PSK Datang ke Pesantren
Selain cerita mengenai teror gaib, Dudu juga mengungkap pengalaman ketika tiga PSK datang langsung ke Ponpes Dar Al-Taubah.
Ketiga perempuan tersebut datang untuk meminta bantuan karena mengaku sudah lama tidak mendapatkan pelanggan. Dudu memilih menerima mereka dan tidak langsung menyinggung pekerjaan yang mereka jalani.
"Ini pengalaman pribadi ya, waktu itu enggak saya tolak, enggak saya suruh pulang. Malah saya kasih amalannya buat mereka," katanya.
Dudu kemudian memberikan amalan dan bacaan salah satu surat dalam Al-Qur'an. Ia meminta amalan tersebut dilakukan setelah salat fardu.
"Kalau orang lain bisa jadi bilangnya, loh kok ustaz ini malah diterima aja ada orang kayak gitu. Bagi saya enggak apa-apa, tetap saya layanin, bahkan saya kasih doa juga dan saya enggak singgung pekerjaan mereka ini seperti apa," tuturnya.
"Nah pas saya kasih doa-doa itu, mereka kan nanya ini diamalinnya kapan Pak Ustaz. Baru di sana saya bilang syaratnya wajib diamalin setelah salat fardu kata saya," tambah Dudu.
Seminggu kemudian, ketiga perempuan tersebut kembali mendatangi pesantren. Mereka menceritakan kepada Dudu bahwa telah mendapatkan pelanggan.
"Kok saya tahu ini efektif, soalnya seminggu kemudian mereka datang lagi, konsultasi lagi ke pondok. Bahasanya lebih lucu, katanya Pa Ustaz Alhamdulillah minggu ini saya dapat tamu," ujarnya.
Dudu mengatakan, beberapa waktu setelah pertemuan tersebut, ketiganya kembali datang. Kali ini mereka menyampaikan keinginan untuk meninggalkan pekerjaan di Saritem.
"Saya sendiri bingung, efek doa atau apa ini. Saya pribadi cuma bilang Alhamdulillah, tapi kan tujuan awalnya memang buat syiar," katanya.
"Di luar dugaan, beberapa waktu kemudian mereka ke sini lagi dan ngomong pamitan mau berhenti dari sini, Saritem. Nah ini kan secara tidak langsung mereka akhirnya sadar sendiri tanpa harus dipaksa sama kita di pondok," lanjutnya.
Pengalaman itu kemudian membuat Dudu menerapkan pendekatan serupa kepada perempuan yang datang meminta bantuan. Ia memberikan syarat agar mereka lebih sering datang ke pesantren sehingga dapat memperoleh pemahaman agama secara bertahap.
"Pokoknya kalau ada yang gitu, sekarang saya lebih bikin syarat. Kalau memang betul dapat, harus janji ke saya setelah itu harus sering datang ke pesantren," ungkapnya.
"Kalau sudah datang ke pesantren kan tinggal kita kasih pemahaman agama sedikit-sedikit. Dan itu Alhamdulillah efektif, banyak yang akhirnya berhenti dari sini," sambung Dudu.
Baca Juga: Mahasiswi Warga Buton Selatan Dirudapaksa Anak Teman Kerja hingga Hamil
Kini, hubungan Ponpes Dar Al-Taubah dengan masyarakat sekitar juga disebut semakin baik. Pesantren tidak hanya menjadi tempat belajar agama, tetapi turut membantu warga dalam berbagai kegiatan keagamaan, seperti tahlilan, khitanan, syukuran, hingga pemulasaran dan penyelenggaraan salat jenazah.
"Sekarang hubungan dengan masyarakat udah bagus. Ketika ada warga yang buat acara syukuran misalnya entah itu lahiran anak, khitanan ataupun tahlilan ada yang meninggal, mereka pasti ngonteknya ke kita," katanya.
"Termasuk pemulasaran sama menyolatkan jenazah, itu semua kita lakukan di sini dan gratis buat warga," lanjut Dudu.
Bagi Ponpes Dar Al-Taubah, dakwah di kawasan Saritem dilakukan secara perlahan. Dudu mengatakan perubahan citra kawasan tersebut membutuhkan proses panjang.
"Tujuan kita memang untuk syiar, untuk dakwah, jadi harus perlahan-lahan, kalau menghilangkan kan sulit ya. Tapi minimal anggapan orang-orang ke tempat ini di Gardujati itu bukan cuma tempat prostitusi saja, di sisi lain ada pesantren juga di sini," pungkasnya. (C)
Penulis: Ahmad Jaelani
Editor: Kardin