Gejolak Harga Minyak Dunia, Purbaya Mau Pangkas Besar-besaran APBN 2026

Ahmad Jaelani

Reporter

Selasa, 17 Maret 2026  /  11:08 am

Harga minyak dunia bergejolak, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyiapkan efisiensi anggaran demi menjaga stabilitas APBN. Foto: Repro Detik

JAKARTA, TELISIK.ID - Pergerakan harga minyak dunia yang terus berfluktuasi mulai memengaruhi langkah fiskal pemerintah. Kementerian Keuangan menyiapkan skenario efisiensi anggaran sebagai langkah antisipasi agar stabilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tetap terjaga di tengah ketidakpastian global.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan pemerintah tengah menyiapkan langkah efisiensi anggaran menyusul fluktuasi harga minyak dunia yang terus terjadi. Kebijakan ini dibahas dalam koordinasi dengan berbagai kementerian dan lembaga teknis yang memiliki alokasi belanja negara dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

Purbaya menjelaskan bahwa Kementerian Keuangan telah meminta setiap kementerian dan lembaga untuk menyiapkan daftar program yang berpotensi dipangkas. Daftar tersebut mencakup rincian kegiatan yang dapat ditunda serta persentase pemangkasan anggaran yang memungkinkan untuk dilakukan apabila kondisi fiskal menuntut penyesuaian lebih lanjut.

"Ada tadi didiskusikan tadi kalau memang harga naik terus kan itu langkah pertama efisiensi. Kita sudah persiapkan langkah-langkah yang diperlukan," ujar Purbaya di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, seperti dikutip dari CNN Indonesia, Rabu (17/3/2026).

Menurut dia, sejumlah program pemerintah saat ini memperoleh tambahan anggaran belanja tambahan atau ABT yang menyebabkan total belanja meningkat. Dalam situasi tekanan eksternal seperti kenaikan harga minyak, pemerintah akan memprioritaskan penggunaan anggaran yang sudah tersedia.

Baca Juga: Purbaya Klaim Utang Whoosh dan Gejolak Minyak Mentah Dunia Tak Bikin APBN Goyang

Ia menegaskan bahwa tambahan anggaran tersebut untuk sementara tidak menjadi prioritas. Pemerintah akan menunda pencairan atau pelaksanaan ABT hingga kondisi fiskal dinilai lebih stabil dan memungkinkan untuk menambah belanja negara.

"Kita fokus ke anggaran yang ada, maksimalkan anggaran yang ada. Nanti mungkin dalam seminggu ke depan Kementerian Keuangan akan menentukan langkah awal mereka (kementerian dan lembaga teknis) untuk siap-siap," ujar Purbaya.

Purbaya yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan itu menyatakan pemerintah masih menghitung potensi nilai pemangkasan anggaran. Hingga kini Kementerian Keuangan belum menetapkan besaran pasti belanja yang akan dikurangi.

"Belum (ada angkanya). Jadi kita pertama jaga APBN terkendali. Nanti kalau enggak bisa lagi, harganya (minyak dunia) enggak terkendali, ya kita kerjakan yang lain," ucapnya.

Selain itu, ia menilai peluang lonjakan harga minyak hingga mencapai tingkat yang sangat tinggi relatif kecil. Menurutnya, harga minyak yang terlalu mahal justru berpotensi menekan perekonomian global dan memicu resesi di banyak negara.

Purbaya mencontohkan dinamika harga minyak pada periode sebelumnya. Pada 2013 harga minyak dunia sempat menembus sekitar 150 dolar Amerika Serikat per barel. Namun setelah periode tersebut harga minyak turun tajam hingga sekitar 15 dolar Amerika Serikat per barel sebelum kembali bergerak di kisaran 25 dolar Amerika Serikat pada periode 2017 hingga 2018.

Baca Juga: Selat Hormuz Ditutup Iran, Bahlil Klaim Cadangan Minyak Nasional Hanya Cukup 20 Hari

Ia menilai pelaku industri minyak global memahami bahwa lonjakan harga yang terlalu tinggi tidak selalu menguntungkan bagi produsen. Jika harga melonjak terlalu tinggi, permintaan energi dapat menurun akibat tekanan ekonomi di berbagai negara.

"Harusnya para juragan minyak juga mengerti akan itu. Dia enggak akan naik ke level yang terlalu tinggi yang menyebabkan resesi global. Kenapa? Akhirnya dia rugi banyak," ujar Purbaya.

Pemerintah saat ini terus memantau perkembangan harga minyak dunia sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan fiskal. Penyesuaian anggaran menjadi salah satu instrumen yang disiapkan untuk memastikan APBN tetap berjalan sesuai dengan kapasitas keuangan negara. (C)

Penulis: Ahmad Jaelani

Editor: Kardin

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS