Geogea Group Perkuat Sistem dan Integritas Hadapi Persaingan Tambang 2026

Ana Pratiwi

Reporter

Kamis, 19 Februari 2026  /  1:46 pm

HC Geogea Group Ahmad Fadhlan, S.Tr.Par. D.Ing.Sc (Baju Putih) dan HC Geogea Laboratory Anisa Syahruddin, S.Psi (baju hitam). Foto: Ana Pratiwi/Telisik

KENDARI, TELISIK.ID - Menghadapi ketatnya regulasi pertambangan dan persaingan laboratorium di era hilirisasi, Geogea Group menargetkan penguatan proyek tambang, eksplorasi, serta pembenahan sistem manajemen pada 2026.

Perusahaan yang berbasis di Kota Kendari ini menegaskan profesionalisme dan integritas sebagai strategi utama menjaga kepercayaan klien.

Human Capital Geogea Group, Ahmad Fadhlan menjelaskan, perusahaan memiliki sejumlah unit usaha strategis yang saling terintegrasi.

Di antaranya Geogea Mineralindo (GGM) di bidang pertambangan, Geogea Laboratory (GGL) di jasa laboratorium dan pengujian, Geogea Services dan Geogea Equipment di sektor alat berat, serta Bintang Timur Mineral di bidang logistik.

Khusus Geogea Laboratory, saat ini telah beroperasi di Kendari, Morowali dan Maluku Utara. Menurut Fadhlan, kepercayaan klien dibangun dari akurasi dan konsistensi hasil analisis.

“Kita dipercaya karena paling akurat dan tidak ada permainan. Itu yang membuat klien terus menggunakan jasa kami,” ujarnya kepada telisik.id, Senin (2/2/2026).

Memasuki 2026, fokus utama perusahaan adalah proyek pertambangan dan eksplorasi, sekaligus peningkatan jumlah pelanggan laboratorium.

Persaingan di sektor ini dinilai semakin ketat, baik dari sisi kontraktor tambang maupun laboratorium pengujian.

“Persaingan luar biasa. Karena itu mutu harus terus kami maintenance dan upgrade agar tetap terjamin,” kata Fadhlan.

Baca Juga: Warga Puuwatu Minta Polresta Kendari Bersihkan Rumah Korban Pembunuhan

Di usia enam tahun, manajemen menilai fondasi sistem perusahaan perlu diperkuat. Pembenahan dilakukan pada manajemen mutu, tata kelola operasional, produksi, hingga pengelolaan karyawan.

“Perusahaan ini masih muda. Kami ingin membangun sistem yang lebih profesional agar ke depan semakin matang,” jelasnya.

Ia menegaskan, prinsip memanusiakan manusia menjadi dasar kebijakan internal. Hak dan kebutuhan karyawan diprioritaskan sebelum perusahaan berbicara soal target produksi.

Sebagai wujud profesionalisme, karyawan teknis terutama di laboratorium wajib mengikuti sertifikasi kompetensi melalui Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP).

Di sektor pertambangan, mekanik dan operator pengeboran juga rutin mengikuti pelatihan, baik di dalam maupun luar daerah, dengan biaya ditanggung perusahaan.

“Kami ingin mereka lebih profesional dalam pekerjaan. Itu investasi perusahaan,” ujarnya.

Manajemen juga merencanakan pemberian beasiswa bagi karyawan berprestasi untuk jenjang S1 maupun S2.

Fadhlan mengakui tantangan terbesar berada pada sektor pertambangan, terutama menghadapi ketatnya regulasi dan perizinan menjelang 2026.

Di sisi lain, persaingan dengan kontraktor besar di Sulawesi Tenggara juga semakin kompetitif.

Karena itu, Geogea berupaya menjaga kepercayaan pemilik IUP melalui administrasi yang tertib, kinerja profesional, serta komitmen terhadap standar operasional.

Selain aspek bisnis, perusahaan menjalankan program tanggung jawab sosial di wilayah lingkar tambang, termasuk penghijauan dan rehabilitasi lingkungan di Konawe Utara. Perusahaan juga memprioritaskan penyerapan tenaga kerja lokal selama memenuhi kualifikasi.

“Perusahaan ini tidak hanya mengambil keuntungan, tetapi juga harus memberi dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar,” tegasnya.

Sejalan dengan strategi grup, Human Capital Geogea Laboratory, Anisa Syahruddin, menegaskan bahwa integritas menjadi fondasi utama layanan laboratorium di tengah tren hilirisasi tambang yang memicu pertumbuhan laboratorium baru.

Geogea Laboratory mengusung visi Speed and Quality dengan tiga nilai utama yaitu Integrity, Precision, dan Humanity.

“Kami menjaga integritas dan independensi. Banyak permintaan untuk menaikkan kadar hasil uji, tapi kami tidak mengubah hasil analisa sesuai fakta laboratorium,” tegas Anisa.

Ia menjelaskan, GGL telah mengantongi akreditasi ISO 17025 untuk jasa laboratorium dan ISO 17020 sebagai lembaga inspeksi.

Saat ini, perusahaan juga tengah mengurus izin LHV (Laporan Hasil Verifikasi), yang di Indonesia baru dimiliki sekitar 10–11 laboratorium.

Sertifikat LHV menjadi syarat legalitas pengiriman dan produksi hasil tambang sebelum diizinkan berlayar.

Dalam persaingan tersebut, sejumlah perusahaan seperti Carsurin dan Sucofindo telah lebih dahulu memiliki izin LHV. Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus motivasi bagi GGL untuk meningkatkan standar layanan.

“Integritas tetap prioritas kami, meskipun itu berisiko kehilangan klien,” katanya.

Baca Juga: Tempat Cukur Madura dengan Harga Terjangkau Jadi Pilihan Warga Kota Kendari

Memasuki usia enam tahun, Geogea Group menilai pendekatan human capital menjadi fondasi utama pertumbuhan perusahaan.

Tingkat pergantian karyawan relatif rendah karena manajemen menempatkan kesejahteraan dan pengembangan manusia sebagai prioritas.

Geogea Laboratory juga memberikan layanan analisis gratis bagi mahasiswa yang melakukan penelitian.

Biaya uji yang umumnya mencapai ratusan ribu rupiah per sampel digratiskan sebagai bentuk kontribusi terhadap dunia pendidikan.

Selain itu, perusahaan membuka ruang magang dan kunjungan industri sebagai dukungan pengembangan SDM lokal.

Di tengah stigma negatif terhadap industri tambang, Geogea berupaya menunjukkan bahwa aktivitas pertambangan dapat berjalan beriringan dengan kepatuhan regulasi, tanggung jawab sosial, serta kepedulian terhadap lingkungan.

Dengan penguatan sistem, peningkatan kompetensi SDM, dan komitmen terhadap integritas, Geogea Group menatap 2026 dengan strategi yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.

Penulis: Ana Pratiwi

Editor: Kardin

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS