Heboh Kebutuhan 19 Ribu Sapi di Program MBG, Begini Reaksi Bos BGN

Ahmad Jaelani

Reporter

Kamis, 23 April 2026  /  9:06 am

Isu kebutuhan 19 ribu sapi di program MBG mencuat, BGN menegaskan hanya simulasi perhitungan, bukan kebutuhan harian. Foto: Repro Kompas

JAKARTA, TELISIK.ID - Isu kebutuhan 19 ribu sapi dalam program Makan Bergizi Gratis mencuat luas, BGN memberikan klarifikasi bahwa angka tersebut hanyalah simulasi, bukan kebutuhan riil harian.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana meluruskan informasi yang beredar terkait kebutuhan hingga 19 ribu ekor sapi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ia menegaskan bahwa angka tersebut tidak mencerminkan kebutuhan aktual di lapangan, melainkan sekadar simulasi perhitungan dalam kondisi tertentu.

Penjelasan itu disampaikan menyusul munculnya kekhawatiran publik mengenai potensi tekanan terhadap pasokan dan harga daging sapi jika angka tersebut benar-benar menjadi kebutuhan harian program.

Dadan menekankan bahwa asumsi tersebut dibuat dalam konteks seluruh dapur MBG memasak menu berbahan dasar daging sapi secara bersamaan, yang pada praktiknya tidak terjadi.

"Ini hanya pengandaian. Jadi, satu SPPG, kalau dia masak daging sapi maka dia butuh satu ekor. Kalau misalnya SPPG hari ini mau masak daging sapi, kalau seluruh SPPG kita perintahkan nanti tanggal sekian kita mau masak sapi, itu tinggal dijumlahkan berapa jumlah SPPG kalikan satu ekor sapi," ujar Dadan dalam keterangan resmi di Bekasi, seperti dikutip dari CNN Indonesia, Kamis (23/4/2026).

Baca Juga: Temuan KPK saat Kaji Tata Kelola MBG hingga Diminta Evaluasi, Berikut 8 Poin Krusialnya

Ia menjelaskan bahwa dalam satu kali proses memasak di satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), kebutuhan daging sapi dapat mencapai ratusan kilogram.

Perhitungan tersebut menjadi dasar simulasi kebutuhan satu ekor sapi untuk satu dapur dalam satu kali memasak menu berbasis daging sapi.

"Kalau ini masak daging sapi, maka butuh 350 kilogram sekali masaknya berarti satu ekor sapi. Jadi, satu kali masak daging sapi butuh 382 kilogram, itu artinya satu ekor sapi, dagingnya saja," ujarnya.

Namun demikian, Dadan menegaskan bahwa menu dalam program MBG tidak bersifat tunggal atau seragam. Selain daging sapi, program tersebut juga mengandalkan sumber protein lain seperti telur, ayam, dan ikan yang disesuaikan dengan kondisi daerah masing-masing.

BGN, lanjutnya, tidak menetapkan kebijakan menu nasional yang seragam untuk seluruh wilayah. Pendekatan ini dipilih guna menghindari lonjakan permintaan terhadap satu komoditas tertentu yang berpotensi memicu kenaikan harga di pasar.

Pengalaman sebelumnya menjadi bahan evaluasi dalam penyusunan kebijakan tersebut. Dadan mencontohkan peristiwa saat peringatan ulang tahun Presiden Prabowo Subianto pada 17 Oktober, ketika kebutuhan telur meningkat secara signifikan dalam waktu singkat.

Baca Juga: Gaji Pegawai Dapur Tak Berubah Meski MBG Sudah Dipangkas 5 Hari, Begini Penjelasan Resmi BGN

"Hari itu butuh 36 juta butir telur atau sekitar 2.200 ton. Dampaknya harga telur sempat naik Rp3.000," ungkapnya.

Berdasarkan pengalaman itu, BGN kini menerapkan pendekatan yang lebih fleksibel dalam penyusunan menu MBG. Setiap daerah diberikan ruang untuk menyesuaikan menu dengan potensi sumber daya lokal serta preferensi masyarakat setempat.

"Karena kita ingin memberdayakan potensi sumber daya lokal dan juga kesukaan masyarakat lokal. Supaya juga tekanan terhadap konsumsinya tidak terlalu tinggi. Jadi kalau kita perintahkan menu nasional, pasti tekanannya tinggi, pasti harga naik," ujar Dadan. (C)

Penulis: Ahmad Jaelani

Editor: Kardin

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS