Hepatirangga Warnai Malam Lailatul Qadar, Tradisi Turun-Temurun Jelang Idul Fitri di Wakatobi
Reporter
Rabu, 18 Maret 2026 / 9:06 pm
Tradisi mewarnai kuku (hepatirangga) dengan daun pacar di Wakatobi tetap lestari. Foto: Ist.
WAKATOBI, TELISIK.ID - Menjelang hari raya Idul Fitri 1447 H/2026, masyarakat di Pulau Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, memiliki tradisi unik yang masih terus dijaga hingga saat ini.
Tradisi tersebut dikenal dengan sebutan Hepatirangga, yaitu kebiasaan para perempuan mewarnai kuku menggunakan daun pacar sebagai bagian dari persiapan menyambut hari kemenangan.
Tradisi ini biasanya dilakukan pada malam-malam terakhir bulan Ramadan, terutama sekitar malam ke-27 hingga malam terakhir Ramadan, yang oleh masyarakat setempat sering dikaitkan dengan datangnya malam Lailatul Qadar.
Anak-anak hingga orang dewasa berkumpul untuk menyiapkan daun pacar yang akan digunakan untuk mewarnai kuku jari tangan maupun kaki.
Baca Juga: 3 Sosok Pemeran Link Video Viral Bule dan Ojol Digelandang Polisi, Mau Kabur ke Thailand
Proses Hepatirangga dilakukan dengan cara menghaluskan daun pacar. Sebagian warga menumbuk daun tersebut hingga halus, sementara sebagian lainnya mengunyahnya agar lebih lembut sebelum ditempelkan pada kuku.
Setelah itu, daun pacar yang sudah halus ditempelkan di kuku, kemudian dibungkus menggunakan daun tertentu atau plastik kecil dan diikat agar tidak terlepas.
Kuku yang telah dibungkus kemudian dibiarkan semalaman hingga pagi hari. Ketika plastik dilepas, kuku akan berubah warna menjadi merah alami yang khas.
Bagi masyarakat setempat, tradisi ini bukan hanya mempercantik kuku, tetapi juga menjadi simbol kebahagiaan dalam menyambut Idul Fitri setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh.
Seorang warga Wangi-Wangi, Gita (21), mengatakan Hepatirangga sudah menjadi kebiasaan turun-temurun yang selalu dilakukan menjelang Lebaran.
“Sejak kecil kami sudah biasa melakukan Hepatirangga. Biasanya dilakukan malam hari, daun pacar dihaluskan lalu ditempel di kuku, dibungkus plastik dan dibiarkan sampai pagi supaya warnanya bagus,” ujarnya, Rabu (18/3/2026).
Baca Juga: Kelangkaan Pertalite di Wakatobi Picu Kepanikan, Harga Tembus Rp 30 Ribu Per Botol
Hal senada juga disampaikan warga lainnya, Ona (24). Ia menuturkan tradisi tersebut biasanya dilakukan bersama keluarga atau teman-teman sehingga menjadi momen kebersamaan di akhir Ramadan.
“Biasanya kami kumpul sama keluarga atau tetangga untuk Hepatirangga. Anak-anak juga ikut, jadi suasananya ramai. Besok paginya kuku sudah merah dan itu menandakan kita sudah siap menyambut Lebaran,” katanya.
Selain sebagai tradisi mempercantik diri, Hepatirangga juga menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Wakatobi yang masih terus dipertahankan hingga sekarang.
Tradisi ini tidak hanya memperindah kuku, tetapi juga mempererat kebersamaan masyarakat dalam menyambut hari raya Idul Fitri. (B)
Penulis: Zulkifli Herman Tumangka
Editor: Mustaqim
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS