Hujan Lebat di Wilayah RI saat Lebaran 2026, Begini Penjelasan BMKG
Reporter
Senin, 16 Maret 2026 / 10:56 am
BMKG memprediksi cuaca Lebaran 2026 didominasi berawan dengan potensi hujan lebat di sejumlah wilayah Indonesia. Foto: Repro Beritanasional
JAKARTA, TELISIK.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kondisi cuaca pada Hari Raya Idul Fitri 2026 masih dipengaruhi dinamika atmosfer yang memicu pembentukan awan hujan di berbagai wilayah Indonesia.
Kondisi ini membuat sebagian daerah berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat selama periode libur Lebaran.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa secara umum kondisi cuaca pada hari Lebaran diperkirakan didominasi langit berawan dengan peluang hujan di beberapa provinsi. Situasi ini terjadi karena sejumlah faktor atmosfer masih aktif di kawasan Indonesia selama Maret hingga awal April 2026.
“Kalau hujan lebat, tadi sudah saya sebutkan di beberapa provinsi yang dapat kita perhatikan, tapi pada saat Lebaran diperkirakan didominasi kondisi berawan hingga berpotensi hujan lebat,” kata Teuku Faisal Fathani seperti dikutip dari Antara, Senin (16/3/2026).
Menurut Faisal, peningkatan curah hujan pada Maret dipengaruhi oleh beberapa fenomena atmosfer global dan regional. Di antaranya adalah pengaruh monsun Asia yang membawa massa udara lembap ke wilayah Indonesia, aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang atmosfer, serta potensi terbentuknya bibit siklon tropis di wilayah selatan Indonesia.
Ia menjelaskan bahwa fenomena tersebut meningkatkan suplai uap air di atmosfer sehingga memicu pertumbuhan awan hujan. Dampaknya, sejumlah wilayah diperkirakan mengalami peningkatan intensitas hujan pada pertengahan Maret sebelum kemudian berangsur menurun pada periode berikutnya.
“Dengan demikian, di pekan kedua Maret ini ada potensi kenaikan curah hujan, tapi selanjutnya akan menurun,” terangnya.
BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi curah hujan sangat tinggi di beberapa wilayah. Tiga provinsi disebut memiliki peluang mengalami curah hujan ekstrem selama periode Maret 2026.
“Kita perlu mewaspadai tiga provinsi yang berpotensi mengalami curah hujan sangat tinggi, yaitu di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan,” kata Faisal.
Selain hujan lebat, BMKG juga mencatat kemungkinan munculnya awan Cumulonimbus yang sering memicu cuaca ekstrem. Awan jenis ini dapat menyebabkan hujan deras, badai guntur, kilat atau petir, serta hembusan angin kencang dalam waktu singkat.
Fenomena tersebut juga berpotensi mengganggu aktivitas transportasi, khususnya penerbangan. Pertumbuhan awan Cumulonimbus dapat memicu turbulensi di jalur udara serta memengaruhi kondisi operasional di bandara.
Untuk sektor kelautan, BMKG memprakirakan adanya gelombang laut dengan kategori sedang selama periode Maret hingga April. Tinggi gelombang diperkirakan berkisar antara 1,25 meter hingga 2,5 meter di sejumlah perairan Indonesia.
Wilayah yang berpotensi mengalami gelombang tersebut antara lain Samudra Hindia barat Aceh hingga barat Lampung, perairan selatan Jawa sampai Nusa Tenggara Timur, serta perairan utara Maluku hingga Papua. Kondisi ini perlu diperhatikan terutama oleh pelaku transportasi laut dan nelayan yang beraktivitas di wilayah tersebut.
BMKG juga mencatat adanya potensi banjir pesisir atau rob yang dipicu oleh kombinasi fenomena astronomi. Fase Bulan Baru pada 19 Maret 2026 dan fase Perigee pada 22 Maret 2026 diperkirakan meningkatkan pasang air laut di sejumlah wilayah pesisir Indonesia.
Kondisi tersebut dapat menyebabkan air laut meluap ke daratan di kawasan pesisir tertentu, terutama yang memiliki topografi rendah. Oleh karena itu, masyarakat yang tinggal di wilayah pantai diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan selama periode tersebut.
BMKG menyatakan akan terus memperbarui informasi prakiraan cuaca selama periode mudik dan arus balik Lebaran. Pembaruan informasi dilakukan untuk mendukung keselamatan aktivitas masyarakat di berbagai sektor transportasi.
“BMKG terus memperbarui informasi cuaca transportasi darat, laut, dan udara melalui System of Interactive Aviation Meteorology (INASIAM) untuk penerbangan, Indonesia Weather Information for Shipping (INA-WIS) untuk pelayaran, serta Digital Weather for Traffic (DWT) untuk transportasi darat,” kata Faisal.
Dengan kondisi cuaca yang masih berpotensi hujan di sejumlah wilayah, masyarakat diimbau memantau perkembangan prakiraan cuaca secara berkala melalui kanal resmi BMKG selama periode perjalanan Lebaran. Informasi tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat merencanakan perjalanan dengan lebih aman. (C)
Penulis: Ahmad Jaelani
Editor: Kardin
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS