Konsumsi Antibiotik Tidak Sesuai Resep Dokter, Waspada Resistensi

Wa Ode Umratul Khazanah

Reporter

Jumat, 19 November 2021  /  9:44 am

Ilustrasi obat-obatan. Foto: Repro hellosehat.com

KENDARI, TELISIK.ID - Antibiotik salah salah satu jenis obat yang digunakan untuk membunuh dan menghambat pertumbuhan bakteri penginveksi di dalam tubuh.

La Ode Muhammad Fitrawan, sekretaris Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Cabang Kendari mengatakan, idealnya penggunaan antibiotik hanya dibolehkan atas resep dan petunjuk dokter.

"Harusnya ya, menurut peraturan undang-undang, antibiotik tidak bisa didapatkan secara bebas, karena antibiotik itu obat keras yang harus dikeluarkan dari resep dokter," ujarnya Kamis (18/19/2021)

Baca Juga: Waspada DBD di Musim Penghujan, Warga Kendari Diminta Lakukan Ini

Jika mengkonsumsi antibiotik tidak sesuai anjuran dokter, maka ini bisa menimbulkan efek samping, salah satunya adalah resistensi antibiotik.

Resistensi antibiotik itu sendiri, atau disebut juga resistensi mikroba adalah kondisi yang terjadi bila bakteri atau mikroorganisme lain, membentuk sebuah ketahanan, terhadap salah satu jenis antibiotik, sehingga membuat proses pengobatan menjadi tidak efektif.

Hal ini biasanya terjadi ketika mengkonsumsi obat-obatan antibiotik,  tidak sesuai dosis yang dianjurkan oleh dokter. Mengkonsumsi antibiotik tidak boleh dihentikan secara mendadak walau gejala infeksi sudah tidak lagi dirasakan. Jika obat antibiotik tidak dihabiskan, maka bakteri penyebab infeksi dapat menjadi kebal terhadap antibiotik tersebut.

"Antibiotik itu wajib dihabiskan. Kenapa? Karena ada namanya resistensi antibiotik, antibiotik itu kan untuk mengobati infeksi, jadi kalau tidak dihabiskan, nanti bakteri akan kebal terhadap antibiotik tersebut," jelasnya.

Selain kondisi resistensi, ada banyak efek samping dari penggunaan antibiotik tanpa resep dokter, di antaranya reaksi alergi dan gangguan pencernaan.

"Semua obat itu punya efek samping. Untuk antibiotik efek sampingnya selain itu tadi resistensi, biasanya juga ada alergi," tambahnya.

Secara umum, antibiotik cukup aman digunakan, asalkan mematuhi petunjuk penggunaan dari dokter.

Selain itu, Muhammad Fitrawan mengaku pihaknya bersama Ikatan Apoteker Indonesia terus mengampanyekan dan memberikan edukasi kepada masyarakat untuk bijak dalam menggunakan antibiotik.

Pihaknya juga terus mengimbau masyarakat untuk menjalankan program Dagusibu, yang artinya dapatkan, gunakan, simpan dan buang obat dengan benar.

Baca Juga: DBD di Kendari Meningkat hingga 176 Kasus, Fogging Bukan Solusi

"Program Dagusibu, itu programnya pemerintah, programnya Ikatan Apoteker Indonesia juga, untuk mencerdaskan masyarakat dalam mengkonsumsi obat," jelasnya.

"Sosialisasi dan penyuluhan di sekolah sekolah kami juga sering turun, ada apoteker cilik, jadi sejak dini kita tanamkan kepada masyarakat agar tahu bagaimana cara simpan obat yang benar, mendapatkan obat yang benar dan bagaimana membuang obat yang benar," pungkasnya. (C)

Reporter: Wa Ode Umratul Khazanah

Editor: Haerani Hambali