Melirik Masalah Demokrasi di Akhir Masa Kampanye

Musdar

Reporter

Selasa, 24 November 2020  /  8:45 pm

Pilkada dan Politik Uang. Foto: Repro Berita Bali Online

KENDARI, TELISIK.ID - 10 hari lagi masa kampanye Pilkada 2020 berakhir dan memasuki masa tenang pada 6 Desember 2020.

Selama masa tenang yang berlangsung hingga 8 Desember, semua peserta pemilihan tidak lagi diperbolehkan melakukan kampanye, baik kampanye terbuka yang dihadiri massa maupun kampanye melalui media sosial setiap pasangan calon (Paslon).

Menanggapi hal tersebut, Pengamat Politik Sultra, Najib Husain mengatakan, masyarakat akan diperhadapkan dengan ''godaan'' money politik atau politik uang dari tim maupun dari Paslon.

 

Pengamat politik Sultra, Najib Husain. Foto: Ist.

 

Paslon yang ingin bermain bersih dan ingin terpilih tanpa money politik maka, kata Najib, langkah yang perlu dilakukan adalah melahirkan gerakan "tolak money politik" dan di dalam gerakan itu masyarakat ikut berpartisipasi.

"Gerakan seperti pernah dilakukan di Pilkada 2015 di Konawe Utara dan itu berhasil dilakukan," kata Najib, Selasa (24/11/2020).

Kendati ada upaya menolak money politik, tak bisa dipungkiri money politik sudah menjadi tradisi saat pesta demokrasi. Menjelang hari terakhir kampanye, dosen Ilmu Politik UHO ini menilai, besar kemungkinan praktek money politik akan terjadi. Utamanya bagi Paslon yang memiliki modal besar.

Baca juga: Ingin Alumni Pimpin Surabaya, IKBA ITATS Deklarasi Dukung Paslon ErJi

Praktek money politik, lanjut Najib, dapat berjalan mulus didukung dengan perilaku pemilih di Sultra yang cenderung yang masih tergiur dengan "serangan fajar".

Berdasarkan hasil riset, beber Najib, ada sekitar 60 persen pemilih menunggu untuk bisa mendapatkan serangan darri Paslon. 60 persen itu dibagi lagi menjadi tiga karakter.

Najib menyebutkan, pertama, menerima uang Paslon tapi tidak memilih calonnya. Kedua, menerima uang Paslon tapi melihat berapa besar uang yang diberikan, sedangkan ketiga berapapun yang diberikan Paslon maka akan diterima.

"Itu kondisi real yang terjadi," tegas Najib.

Sehingga, dengan kondisi seperti itu maka besar kemungkinan, pengaruh money politic yang dilakukan Paslon memberikan kesempatan untuk bisa terpilih di 2020.

"Semua daerah di Sultra berpeluang terjadi money politic," tutup Najib. (B)

Reporter: Musdar

Editor: Fitrah Nugraha

TOPICS