Menjahit Ukhuwah di Kain Perbedaan

Muh. Ikhsan

Penulis

Minggu, 22 Maret 2026  /  7:08 am

Dr H Muh. Ikhsan AR, M.Ag, Ketua Komisi Kerukunan Antar Umat Beragama MUI Sultra 2026-2031 dan Maheswara Utama Pembinaan Ideologi Pancasila BPIP RI. Foto: Ist.

Oleh: Dr H Muh. Ikhsan AR, M.Ag

Ketua Komisi Kerukunan Antar Umat Beragama MUI Sultra 2026-2031 dan Maheswara Utama Pembinaan Ideologi Pancasila BPIP RI

PERBEDAAN dalam Islam bukanlah penyimpangan, melainkan keniscayaan yang lahir dari keluasan ajaran itu sendiri. Sejak masa klasik, perbedaan ijtihad telah menjadi bagian dari dinamika keilmuan umat.

Namun, di era modern—terutama dalam lanskap digital—perbedaan perspektif sering kali berubah menjadi konflik identitas. Di sinilah urgensi ukhuwah (persaudaraan) diuji: apakah ia mampu bertahan di tengah ragam tafsir keislaman?

Untuk menjawabnya, kita dapat menengok pandangan para pemikir Muslim Indonesia yang telah lama bergulat dengan realitas pluralitas—baik dalam agama, pemikiran, maupun kebangsaan.

Ukhuwah sebagai Fondasi Kemanusiaan

Bagi Buya Hamka, Islam bukan hanya sistem hukum, tetapi juga sistem akhlak dan peradaban. Ia menekankan pentingnya membangun persatuan di atas nilai-nilai universal Islam, bukan sekadar identitas kelompok atau adat. Dalam kritiknya terhadap fanatisme sempit, Hamka mengingatkan bahwa jika umat terlalu terjebak dalam identitas golongan, maka ukhuwah akan terkikis oleh sekat-sekat sosial.

Semangat berpikir bebas yang diwarisi Hamka juga menunjukkan bahwa perbedaan pandangan bukanlah ancaman, melainkan ruang untuk memperkaya pemahaman—selama tetap dalam bingkai adab dan iman.

Baca Juga: Transformasi Mudik Kepulauan Jadi Poros Pariwisata Daerah

Ukhuwah sebagai Ta‘aruf

Ahmad Syafii Maarif melihat perbedaan sebagai bagian dari kehendak Tuhan yang harus disikapi dengan sikap ta‘aruf—saling mengenal, bukan saling menegasikan. Ia menekankan bahwa pluralitas adalah anugerah yang mendorong manusia untuk membangun persaudaraan universal.

Dalam kerangka ini, ukhuwah tidak hanya bersifat internal (antar-Muslim), tetapi juga meluas menjadi ukhuwah insaniyah (kemanusiaan). Prinsip seperti keadilan, egalitarianisme, dan toleransi menjadi fondasi dalam menjaga harmoni di tengah perbedaan.

Ukhuwah sebagai Kesadaran Tafsir

M. Quraish Shihab sering menekankan bahwa perbedaan dalam Islam banyak terjadi pada wilayah tafsir, bukan pada prinsip dasar. Karena itu, ia mengajak umat untuk membedakan antara ushul (pokok) dan furu’ (cabang).

Dalam perspektifnya, ukhuwah akan terjaga jika umat memiliki kesadaran epistemologis—bahwa kebenaran yang kita pahami seringkali merupakan hasil interpretasi, bukan kebenaran mutlak itu sendiri. Dengan kesadaran ini, ruang dialog akan terbuka, dan sikap saling menyalahkan dapat diminimalisir.

Ukhuwah sebagai Pluralisme Inklusif

Nurcholish Madjid (Cak Nur) membawa gagasan penting tentang pluralisme dan inklusivitas dalam Islam. Ia menegaskan bahwa pluralitas adalah realitas yang tidak bisa dihindari, dan karenanya harus direspon dengan sikap terbuka dan adil.

Menurutnya, toleransi bukan sekadar sikap pasif, tetapi komitmen aktif untuk menghormati dan menghargai perbedaan demi terciptanya kehidupan yang harmonis. Ia juga mengkritik fanatisme sempit yang mengklaim kebenaran secara eksklusif, karena hal itu justru bertentangan dengan semangat Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Ukhuwah sebagai Kesadaran Ilahiah Kontemporer

Dalam perspektif kontemporer, Muhammad Sabri AR. melihat ukhuwah sebagai kesadaran ilahiah yang harus hadir dalam ruang digital dan kehidupan modern. Perbedaan perspektif di era algoritma seringkali diperkeruh oleh bias informasi dan polarisasi media sosial.

Karena itu, menjaga ukhuwah hari ini bukan hanya soal akhlak interpersonal, tetapi juga literasi digital dan kedewasaan spiritual. Ukhuwah menuntut kemampuan untuk tidak reaktif, tidak mudah terprovokasi, serta mampu menghadirkan hikmah di tengah hiruk-pikuk opini.

Baca Juga: Jejak Takwa di Senja Ramadan

Refleksi: Dari Perbedaan Menuju Kedewasaan Iman

Dari para pemikir tersebut, kita belajar bahwa ukhuwah tidak menuntut keseragaman, tetapi kedewasaan. Ia bukan tentang menghapus perbedaan, melainkan mengelolanya dengan hikmah.

Perbedaan perspektif dalam Islam seharusnya menjadi ruang dialog, bukan medan konflik. Sebab, yang merusak ukhuwah bukanlah perbedaan itu sendiri, melainkan ego, fanatisme, dan hilangnya adab.

Akhirnya, menjaga ukhuwah di tengah perbedaan adalah bentuk tertinggi dari spiritualitas sosial. Ia menuntut kita untuk tidak hanya benar dalam pikiran, tetapi juga bijak dalam sikap. Karena dalam Islam, kebenaran tanpa kasih sayang bisa melukai, tetapi kasih sayang dalam kebenaran akan menyatukan.

"Ukhuwah bukan tentang siapa yang paling benar, tetapi siapa yang paling mampu menjaga hati—di tengah perbedaan yang tak terhindarkan." (*)

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS