Merawat Misi Keadaban Universitas: Marhaban UIN Sultan Qaimuddin Kendari
Penulis
Minggu, 04 Januari 2026 / 10:47 am
Dr. H. Muh. Ikhsan, S.Ag, M.Ag, Dosen IAIN Kendari. Foto: Ist.
Oleh: Dr. H. Muh. Ikhsan, S.Ag, M.Ag
Dosen IAIN Kendari
TRANSFORMASI IAIN Kendari menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Qaimuddin Kendari bukan sekadar perubahan nomenklatur institusional, melainkan lompatan epistemik, kultural, dan peradaban. Perubahan ini menandai fase baru perguruan tinggi keislaman di Indonesia Timur dalam merespons tantangan zaman: disrupsi teknologi, krisis ekologi, polarisasi sosial, dan degradasi etika publik.
Universitas, dalam makna klasik maupun kontemporer, adalah rumah peradaban (domus civilitatis)—ruang di mana ilmu, nilai, dan kemanusiaan dirawat secara berkelanjutan. Karena itu, kelahiran UIN Sultan Qaimuddin Kendari harus dibaca sebagai misi keadaban, bukan sekadar ekspansi akademik.
Fondasi Historis dan Simbolik Transformasi
Nama Sultan Qaimuddin, tokoh penting dalam sejarah Kesultanan Buton, merepresentasikan sintesis agama, budaya, dan kepemimpinan etis. Dalam falsafah Buton, dikenal prinsip _pobinci-binciki kuli_—saling menjaga martabat dan kemanusiaan—yang sejalan dengan _maq??id al-syar?‘ah_ dan etika Islam universal.
Dengan demikian, UIN Sultan Qaimuddin Kendari berdiri di atas tiga fondasi utama: spiritualitas Islam sebagai sumber nilai dan orientasi moral, kearifan lokal Sulawesi Tenggara sebagai basis kontekstualisasi, ilmu pengetahuan modern sebagai instrumen transformasi sosial. Inilah ciri khas UIN: integrasi iman, ilmu, dan peradaban.
Dari Mono-Disipliner, Integrasi Ilmu Hingga Transdisipliner
Peralihan dari IAIN ke UIN membuka ruang epistemologis yang lebih luas. Studi keislaman tidak lagi berdiri secara terisolasi, melainkan berdialog dengan sains, teknologi, ekonomi, politik, dan studi lingkungan.
Baca Juga: Penggundulan Demokrasi: Kerusakan Sistemik dalam Tubuh Bangsa
Paradigma integrasi-interkoneksi memungkinkan lahirnya sains yang beretika, teknologi yang berorientasi kemaslahatan, agama yang membumi dan solutif.
Dalam konteks ini, UIN Sultan Qaimuddin Kendari memiliki peluang strategis menjadi laboratorium Islam transdisipliner bukan hanya di kawasan timur Indonesia tetapi Asia Tenggara—mengembangkan kajian Islam maritim, fiqh lingkungan pesisir, ekonomi syariah berbasis UMKM, serta pendidikan Islam kontekstual masyarakat kepulauan.
Universitas dan Tanggung Jawab Keadaban Publik
Di tengah krisis kepercayaan publik terhadap otoritas moral dan intelektual, universitas dituntut tidak hanya mencetak sarjana, tetapi melahirkan insan beradab (ins?n k?mil dalam makna sosial).
Misi keadaban UIN Sultan Qaimuddin Kendari tercermin dalam etos akademik yang jujur dan kritis, dakwah intelektual yang mencerahkan, bukan menghakimi, pengabdian masyarakat berbasis pemberdayaan, bukan karitas sesaat.
Universitas Islam Negeri harus menjadi penjaga nurani publik, yang berani bersuara terhadap ketidakadilan, kerusakan lingkungan, dan dehumanisasi, seraya tetap menjunjung kearifan dan harmoni sosial.
Tantangan Transformasi Antara Kuantitas dan Kualitas
Perubahan status membawa tantangan serius: perluasan fakultas, pembukaan program studi umum, serta kompetisi global. Namun, bahaya terbesar adalah kehilangan ruh.
Baca Juga: Kasus Guru Mansur, Urgensi Undang-Undang Perlindungan Guru
Transformasi sejati menuntut peningkatan kualitas dosen dan riset, penguatan budaya akademik dan literasi, tata kelola universitas yang transparan dan berkeadilan, internasionalisasi tanpa tercerabut dari akar lokal.
Di sinilah pentingnya merawat misi, bukan sekadar membangun gedung. Atau dengan lain perkataan adalah penting membangun _house_ (eksoterik) tetapi jauh lebih urgen menghadirkan _home_ (esoterik).
Marhaban UIN, Marhaban Peradaban
Marhaban bukan hanya ucapan selamat datang, tetapi ikrar tanggung jawab. Menjadi UIN berarti siap memikul amanah sejarah: menghadirkan Islam sebagai rahmat, ilmu sebagai pencerah, dan universitas sebagai penopang keadaban.
UIN Sultan Qaimuddin Kendari diharapkan tumbuh bukan hanya sebagai pusat keunggulan akademik, tetapi juga mercusuar moral dan intelektual bagi Sulawesi Tenggara dan Indonesia. Dari Kendari untuk peradaban. Dari Islam untuk kemanusiaan. (*)
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS