Musim Kemarau 2026 Berlangsung Lebih Lama, Berikut Penyebaran Daerah Berdampak Terkering

Ahmad Jaelani

Reporter

Kamis, 05 Maret 2026  /  11:47 am

BMKG memprediksi musim kemarau 2026 datang lebih awal di Indonesia dan berlangsung lebih panjang. Foto: Repro Kalderanews

JAKARTA, TELISIK.ID - Musim kemarau tahun 2026 diperkirakan datang lebih awal di berbagai wilayah Indonesia dan berlangsung lebih lama dari kondisi normal berdasarkan analisis terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 akan datang lebih awal di sejumlah wilayah Indonesia.

Selain itu, sebagian besar daerah juga diperkirakan mengalami kondisi kemarau yang lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologis.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan lembaganya secara rutin menyampaikan informasi iklim yang dapat dimanfaatkan berbagai sektor pembangunan.

Informasi tersebut mencakup prediksi hujan bulanan, buletin iklim, prediksi musim hujan dan kemarau, serta layanan iklim sektoral lainnya yang digunakan sebagai dasar perencanaan.

Ia menyampaikan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada periode April hingga Juni 2026. Prediksi tersebut disusun berdasarkan pemantauan terhadap ratusan zona musim yang menjadi acuan analisis klimatologi nasional.

“Awal musim kemarau bahwa sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi masuk musim kemarau pada periode April yaitu ada 114 zona musim atau sekitar 16,3 persen dari seluruh zona musim yang ada di Indonesia sejumlah 699,” kata Teuku dalam konferensi pers dikutip dari Kompas TV, Kamis (5/3/2026).

Data BMKG menunjukkan sebanyak 114 zona musim atau sekitar 16,3 persen wilayah diperkirakan telah memasuki musim kemarau pada April 2026.

Baca Juga: Unggah Menu MBG di Medsos Berujung Orang Tua Kena Pidana? Begini Penjelasan Bos BGN

Zona musim merupakan wilayah yang memiliki pola iklim relatif seragam dan menjadi dasar analisis dalam pemetaan kondisi cuaca dan iklim di Indonesia.

Selanjutnya pada Mei 2026, jumlah wilayah yang mulai memasuki kemarau diperkirakan meningkat. BMKG memproyeksikan sebanyak 184 zona musim atau sekitar 26,3 persen wilayah akan menyusul mengalami awal musim kemarau.

Memasuki Juni 2026, sebanyak 163 zona musim atau sekitar 23,3 persen wilayah diprediksi mulai mengalami kondisi serupa. Pergerakan musim kemarau tersebut diperkirakan berlangsung secara bertahap dari wilayah timur menuju bagian barat Indonesia.

Teuku menjelaskan pola pergeseran musim kemarau umumnya dimulai dari wilayah Nusa Tenggara, kemudian bergerak ke arah barat hingga menjangkau berbagai wilayah lainnya di Indonesia. Pola ini merupakan karakter umum sistem monsun yang memengaruhi iklim di kawasan Nusantara.

Jika dibandingkan dengan rata-rata klimatologis periode 1991–2020, sebagian besar wilayah diperkirakan mengalami awal musim kemarau lebih cepat dari biasanya.

BMKG mencatat sebanyak 325 zona musim atau sekitar 46,5 persen wilayah diprediksi mengalami kemarau yang datang lebih awal dari kondisi normal.

Sementara itu, sebanyak 173 zona musim atau sekitar 23,7 persen wilayah diperkirakan mengalami awal musim kemarau yang relatif sama dengan kondisi rata-rata klimatologis pada periode sebelumnya.

Selain datang lebih cepat, sifat musim kemarau tahun ini juga diprediksi lebih kering dibandingkan kondisi normal. BMKG memperkirakan akumulasi curah hujan pada periode kemarau di banyak wilayah akan berada di bawah rata-rata.

“Akumulasi curah hujan pada periode musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia yaitu di 451 zona musim atau 46,5 persen dari seluruh zona musim diprediksi pada kategori bawah normal atau mudahnya lebih kering dari biasanya,” jelas Teuku.

Prediksi tersebut menunjukkan hampir setengah wilayah zona musim di Indonesia berpotensi mengalami kondisi kemarau dengan curah hujan yang lebih rendah dibandingkan rata-rata tahunan.

Sementara itu, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 di sebagian besar wilayah Indonesia. BMKG mencatat sekitar 429 zona musim atau sekitar 61,4 persen wilayah akan mencapai puncak kemarau pada bulan tersebut.

Jika dibandingkan dengan kondisi normal, sebanyak 410 zona musim atau sekitar 58,7 persen wilayah diperkirakan mengalami puncak musim kemarau lebih awal. Sedangkan 142 zona musim atau sekitar 20,3 persen wilayah diprediksi memiliki waktu puncak kemarau yang relatif sama dengan rata-rata klimatologis.

Baca Juga: THR PNS dan PPPK hingga TNI-Polri 2026 Resmi Dicairkan Pemerintah, Berikut Besaran dan Komponennya

Selain waktu kedatangan dan sifat kemarau, BMKG juga menyoroti durasi musim kemarau tahun ini yang diperkirakan lebih panjang. Berdasarkan analisis klimatologi, sekitar 400 zona musim atau sekitar 57,2 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami musim kemarau dengan durasi yang lebih lama dari biasanya.

“Ini perlu dicatat bahwa musim kemarau yang akan kita hadapi di tahun 2026 itu akan lebih panjang dari normalnya,” terang Teuku.

BMKG menyampaikan bahwa informasi prediksi musim kemarau tersebut diharapkan dapat menjadi acuan bagi pemerintah daerah, sektor pertanian, pengelola sumber daya air, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya dalam menyusun langkah mitigasi.

“Kami berharap informasi prediksi musim kemarau 202au 2026 ini dapat menjadi panduan umum dalam penetapan perencanaan langkah mitigasi dan antisipasi serta kebijakan jangka panjang bagi berbagai sektor yang terdampak iklim,” ungkapnya. (C)

Penulis: Ahmad Jaelani

Editor: Kardin

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS