New Normal, Transformasi Manusia Data dan Visi Kebangsaan

Aad Alief Rasyidi Baking

Penulis

Minggu, 12 Juli 2020  /  3:45 pm

Aad Alief Rasyidi Baking, Alumni Universitas Islam Indonesia. Foto: Ist.

Oleh: Aad Alief Rasyidi Baking, ST

Alumni Universitas Islam Indonesia

Tak dapat dielakan lagi munculnya pandemi virus corona telah berhasil mengocok ulang status quo kehidupan, semua tersapu tanpa terkecuali. Satu hal yang menjadi trend adalah penggunaan teknologi digital semakin lazim bagi semua kalangan, bagi generasi muda menggunakan ruangan virtual untuk melaksanakan proses belajar mengajar termasuk para pekerja yang menjalankan tugas yang semakin efesien melalui media virtual.

Di balik segala hal-hal yang merugikan, pandemi COVID-19 memulai lebih cepat proses revolusi industri berbasis data, hal tersebut didorong oleh kebutuhan protokol kesehatan yang mensyaratkan pembatasan perkumpulan secara fisik. Teknologi data dapat mengakomodir kebutuhan tersebut, sehingga ia terus relevan hingga saat ini.

Homo Datum

Kehidupan selalu dinamis menuju titik keseimbangannya, demikian nilai yang diyakini oleh Heraclitus seorang filsuf alam pra Socrates. Berawal dari proses revolusi industri awal di Eropa yang melahirkan mesin uap yang memiliki dampak terhadap lahirnya kapitalisme dimana menitikberatkan fackor efektivitas dan efisien dari proses indutri, demikian dengan Revolusi Industri 2.0 yang ditandai dengan hadirnya teknologi listrik dan memgkataliskan paham sosialisme dimana masyarakat memiliki waktu luang di malam hari untuk membaca sumber teks keilmuan, Sistem Automasi dan digitalisasi adalah anak kandung 3.0 juga menandai proses globalisasi lintas regional menjadi lebih cepat. Dan teranyar adalah Transmisi Industri periode ke empat yang dimotori oleh perkembangan Internet of Thing (IoT).

Perbedaan mendasar antara tipologi industri periode awal dan terbaru dalam kerangka politik adalah perubahan nilai kebajikan agung yang sepakati. Saat munculnya mesin uap, kebebasan individual adalah nilai utama dalam demokrasi sehingga kebenaran yang dipahami secara bersama adalah aspirasi dan hak. Aturan mainnya adalah masyarakat dapat melakukan apapun selama tidak menciderai hak asasi manusia lainnya. Kini di peradaban baru setelah manusia melalui proses social up-scalling indikator dari paradigma kebenaran ikut berubah dari informasi aspiratif menjadi informasi faktual dan real time.

Di dalam prosesnya menyerap informasi, IoT menggunakan instrumen algoritma berbasis mahadata dari objek tertentu, kemudian dianalisa pada machine learning (mesin pintar) dan kontekstualisasikan oleh kecerdasan buatan yang memiliki kemampuan belajar yang sangat cepat.

Hal yang menjadi luar biasa dari peradaban data ini adalah berpisahnya kesadaran dan kecerdasan dari manusia bijak (Homo Sapiens). Bagi manusia yang mengetahui keadaan jiwa dan fisiknya adalah diri sendiri, akan tetapi individu tersebut akan kesulitan memahami struktur organ dalam dirinya seperti detak jantung, aliran hormon cairan kimia, dan hubungannya dengan sikap yang dialami saat itu tanpa bantuan tenaga ahli.

Baca juga: TKA Datang, Peluang Bebas Kerja Rakyat Lokal?

Mahadata dibantu dengan instrumen teknologi pintar lainnya memahami kualitas masing-masing organ tubuh hingga pada struktur DNA individu tersebut yang hasilnya bisa diakses melalui jam tangan pintar.

Pada akhirnya, pilihan yang tepat adalah menyerahkan otoritas kita kepada mahadata untuk mendapatkan rekomendasi tindakan yang harus dilakukan untuk hidup yang sehat. Lebih lanjut, salah satu karakteristik dari mahadata yang objektif dari segala bentuk tekanan eksternal sehingga pengunaan algoritma mahadata digunakan secara lebih luas dalam beberapa sektor strategis dalam kehidupan manusia.

Di India misalnya 1,2 miliar penduduk dikodefikasi dalam bentuk data yang digunakan dalam keperluan kepemerintahan, subsidi dan informasi. Dan yang terbaru adalah keberhasilan Jepang dan Korea Selatan dalam menangulangi COVID 19 tidak lepas dari penggunaan teknologi mahadata, kedua negara tersebut mendeteksi gejala melalaui rekam biometrik penduduk yang dibaca oleh smartphone yang dimiliki. Demikian, hari ini kita adalah manusia data dalam mempertahankan sisi kemanusian yang mulia.

Kontestualiasasi Mahadata

Visi Indonesia emas 2045 terciptanya masyarakat yang berdaulat, maju, adil, dan makmur, telah ditetapkan sebagai acuan pemerintah. 100 tahun Indonesia diproyeksikan menjadi top five dalam besaran PDB sebesar  $23.199 serta menjadi negara maju yang telah keluar dari Middle Income Trap pada tahun 2036.

Salah satu pilar dari visi tersebut adalah pembangunan ekonomi berkelanjutan dimana sektor pertanian yang memiliki porsi penyerapan tenaga kerja sebesar 13% menjadi perhatian utama.

Sebagai negara pengekspor terbesar ke 10 pada tahun 2045, kesejahteraan petani diprediksi meningkat hampir 4 kali lipat dibanding dengan tahun 2015.

Peningkatan jumlah penduduk dunia menuju 9 Milyar jiwa berdampak eksponen terhadap kebutuhan konsumsi sebagai hal pokok dalam menyambung kehidupan. Tantangan hari ini adalah bagaimana sektor pertanian dapat mengurangi faktor yang menyebabkan gagal panen seperti pemilihan bibit yang sesuai dengan karakter tanah, pertahanan dalam menghadapi cuaca ekstrem sembari meningkatkan sistem produktivitas dari alur bisnis pertanian dengan memastikan kebutuhan pasar sesuai kualiatas dan kuantitas tanaman petani dan mengurangi rantai panjang penjualan.

Pandangan Mark Gorenberg penasehat Presiden AS bahwa kesejahtraan hari ini ditentukan oleh keahlian algoritma data dan domain keahlian sejalan dengan yang telah dilaksanakan di Selandia Baru, Kenya, dan Tanzania.

Kemampuan teknologi sensor dalam melakukan pengukuran di lahan petani diidentifikasi untuk disintesiskan dengan jumlah rumput yang tersedia di lumbung kandang sapi sehingga terdistribusi efektif saat pemberian makanan, memberikan peningkatan 478% ekspor daging sapi dari Selandia Baru ke mancanegara.

Aplikasi Grainy Bunch memonitor pembelian, penyimpanan, distribusi, dan konsumsi gandum di seluruh Tanzania. Juga aplikasi iCow dari Kenya memberikan informasi kesehatan hewan yang terkoneksi ke dokter hewan setempat, harga pasar, dan jumlah permintaan pasar sehingga rata-rata petani mendapatkan tambahan 77 dolar dari biasanya.

Aplikasi tersebut sangat aplikatif dengan kondisi masyarakat kita. Sebagai daerah penghasil kakao, jambu mete, dan kelapa yang besar, Sulawesi Tenggara bisa menggunakan Grainy Brunch versi Tanzania untuk mengetahui jumlah kebutuhan industri makanan dan rumah tangga terhadap komoditi tersebut, dan mensistesiskan teknologi sensor Selandia Baru dalam mendapatkan info kapasitas hasil panen lahan di daerah.

Hasil akhirnya adalah petani mendapatkan kepastian harga tanpa takut hasil panennya tanpa pembeli. Hal tersebut juga menjadi solusi jangka pendek atas kelangkaan pangan saat pandemi berlangsung, kekuatan kecerdasan buatan dan mahadata dapat mengindentifikasi titik dengan hasil pertanian yang melimbah dan titik kritis pangan serta volume pengiriman yang diperlukan dengan pertimbangan keberlanjutan hidup.

Kedatangan peradaban mahadata adalah keniscayaan, sikap kita dalam menghadapinya adalah dengan melakukan relevansi domain keahlian dimiliki dengan pengetahuan teknologi sehingga permasalahan sosial dapat diselesaikan tanpa takut dengan ancamanya seperti banyak ditampilkan film bergenre scince fiksi yang gagal memisahkan antara kesadaran dan kecerdasan teknologi masa depan. (*)