Pasar Minyak Global Masuk Zona Merah hingga Krisis Energi Awal Juli 2026, Begini Penjelasannya
Reporter
Minggu, 24 Mei 2026 / 7:47 am
Kapal minyak dunia terancam terganggu saat IEA memperingatkan krisis energi global mulai Juli 2026. Foto: Repro Kumparan
JAKARTA, TELISIK.ID - Ketegangan di Timur Tengah mulai mengguncang pasar energi global. IEA memperingatkan stok minyak dunia menipis dan ancaman krisis energi membesar mulai Juli 2026.
Pasar minyak dunia diperkirakan memasuki “zona merah” pada Juli hingga Agustus 2026 seiring menurunnya cadangan minyak global akibat terganggunya pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Peringatan itu disampaikan Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA), Fatih Birol, saat berbicara di lembaga think tank Chatham House, London, Inggris, Kamis, 21 Mei 2026.
Kondisi tersebut dipicu berlanjutnya konflik Iran yang berdampak langsung terhadap distribusi minyak dunia, termasuk jalur strategis Selat Hormuz yang menjadi titik penting perdagangan energi internasional.
Birol menjelaskan, permintaan minyak global mengalami peningkatan tajam akibat musim liburan dan tingginya aktivitas perjalanan internasional. Pada saat bersamaan, suplai baru dari Timur Tengah belum kembali normal.
“Ini bisa menjadi sulit dan kita mungkin memasuki zona merah pada Juli-Agustus jika kita tidak melihat adanya perbaikan,” ujar Birol, sebagaimana dikutip dari laman Kompas, Minggu (24/5/2026).
Menurut dia, situasi pasar energi saat ini jauh lebih berat dibandingkan tiga krisis energi besar sebelumnya, yakni krisis minyak 1973, 1979, dan krisis energi global pada 2022 setelah invasi Rusia ke Ukraina.
IEA mencatat gangguan distribusi energi telah menghilangkan sekitar 14 juta barel minyak per hari dari pasar global. Kondisi itu mulai memengaruhi stabilitas harga energi di berbagai negara.
Baca Juga: Cetak Biru APBN Prabowo 2027, Berikut Daftar Lengkap Target Ekonomi hingga Nilai Tukar Rupiah
Sebagai langkah penanganan, IEA menilai pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh menjadi faktor penting untuk menstabilkan kembali pasar minyak dunia.
Namun, Birol memperkirakan pemulihan produksi minyak secara penuh belum akan terjadi dalam waktu dekat. Bahkan, menurut dia, pemulihan tersebut kemungkinan membutuhkan waktu setidaknya satu tahun, termasuk di Uni Emirat Arab.
Untuk mengantisipasi situasi yang semakin memburuk, negara-negara anggota IEA disebut siap melepas cadangan minyak strategis mereka ke pasar internasional.
Birol menyebut hingga saat ini sekitar 80 persen cadangan kolektif IEA masih tersimpan dan belum digunakan.
Selain tekanan terhadap pasar global, industri minyak Iran juga diperkirakan menghadapi persoalan serius akibat keterbatasan kapasitas penyimpanan minyak nasional mereka.
Negara-negara penghasil minyak yang sangat bergantung pada sektor energi untuk menopang anggaran negara, seperti Irak, diprediksi akan mengalami kesulitan melakukan investasi baru di sektor produksi minyak beberapa tahun mendatang.
Di tengah kondisi tersebut, banyak negara diperkirakan mulai meninjau ulang strategi energi nasional mereka. Sejumlah negara disebut akan mempercepat transisi menuju energi terbarukan, energi nuklir, hingga meningkatkan produksi energi domestik.
Birol juga menyoroti pengaruh geopolitik yang semakin kuat terhadap sektor energi dunia.
“Saya belum pernah melihat pengaruh geopolitik terhadap sektor energi sedalam dan selama ini,” katanya.
Sementara itu, proses diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat yang dimediasi Pakistan masih mengalami kebuntuan. Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi dilaporkan masih berada di Teheran untuk melanjutkan proses komunikasi kedua negara.
Baca Juga: 9 Relawan WNI GSF Disiksa hingga Disuruh Sujud Tentara Israel, Begini Reaksi Menlu Sugiono
Di sisi lain, Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Marsekal Lapangan Asim Munir menunda kunjungannya ke Teheran yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung Kamis, 21 Mei 2026.
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei juga kembali menegaskan sikap negaranya terkait program nuklir nasional.
Mojtaba menyatakan Iran tidak akan mengizinkan stok uranium dengan tingkat pengayaan tinggi diekspor ke negara lain, termasuk Rusia.
Berdasarkan data International Atomic Energy Agency (IAEA), Iran saat ini memiliki sekitar 440,9 kilogram uranium dengan tingkat pengayaan mencapai 60 persen. (C)
Penulis: Ahmad Jaelani
Editor: Kardin
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS