Perang di Selat Hormuz Terus Berkecamuk, Bahlil Mau Induksi 120 Juta Motor Listrik Nasional
Reporter
Sabtu, 07 Maret 2026 / 11:18 am
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengumumkan rencana konversi 120 juta motor listrik. Foto: Repro Kementerian ESDM
JAKARTA, TELISIK.ID - Pemerintah menyiapkan langkah percepatan program transisi energi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik yang berdampak pada pasokan minyak dunia.
Situasi konflik di kawasan Timur Tengah yang memengaruhi jalur distribusi energi global menjadi salah satu pertimbangan dalam mempercepat kebijakan konversi kendaraan bermotor berbahan bakar minyak ke kendaraan listrik.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menyampaikan pemerintah akan membentuk satuan tugas atau Satgas transisi energi.
Satgas tersebut disiapkan untuk mempercepat implementasi berbagai program energi nasional, termasuk konversi sepeda motor konvensional menjadi motor listrik dalam jumlah besar.
Program yang disiapkan pemerintah mencakup konversi sekitar 120 juta unit sepeda motor berbahan bakar minyak menjadi sepeda motor listrik. Langkah ini dipersiapkan bersamaan dengan kondisi pasokan minyak dunia yang terancam akibat konflik di Timur Tengah serta potensi gangguan distribusi energi melalui Selat Hormuz.
Dalam keterangannya di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Bahlil menjelaskan bahwa pembentukan Satgas merupakan arahan langsung dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Baca Juga: Selat Hormuz Ditutup Iran, Bahlil Klaim Cadangan Minyak Nasional Hanya Cukup 20 Hari
Satgas tersebut diberi mandat untuk mempercepat pelaksanaan kebijakan energi yang telah dirumuskan pemerintah.
"Bapak Presiden membentuk tim Satgas untuk bisa melakukan percepatan ini. Tadi kami diberikan tugas oleh Bapak Presiden (Presiden Prabowo Subianto) kepada saya sebagai Ketua Satgas untuk menjalankan dan menerjemahkan kebijakan ini secara cepat," ujar Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, seperti dikutip dari Republika, Sabtu (7/3/2026).
Menurut Bahlil, Presiden menargetkan implementasi program tersebut dapat berjalan maksimal dalam kurun waktu tiga hingga empat tahun. Pemerintah bahkan membuka kemungkinan percepatan jika proses implementasi dapat dilakukan lebih cepat dari target yang telah ditetapkan.
"Bapak Presiden sangat berkeinginan agar implementasinya dilakukan segera dan insya Allah kita akan melakukannya dalam kurun waktu yang tidak lama. Bapak Presiden tadi menyampaikan bahwa maksimal tiga sampai empat tahun, bahkan kalau bisa lebih cepat lagi," jelasnya.
Selain percepatan konversi sepeda motor konvensional, Satgas transisi energi juga akan menangani berbagai program lain yang berkaitan dengan transformasi energi nasional. Salah satunya adalah pengembangan pembangkit listrik tenaga surya atau PLTS dengan kapasitas hingga 100 gigawatt.
Program pengembangan energi terbarukan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat ketahanan energi nasional. Diversifikasi sumber energi dinilai penting agar ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dapat berkurang secara bertahap, terutama ketika kondisi geopolitik global memengaruhi stabilitas pasokan minyak.
Bahlil menjelaskan bahwa percepatan transisi energi juga memiliki dampak terhadap efisiensi anggaran negara. Pemerintah menilai perubahan sistem pembangkitan listrik dapat menekan beban subsidi energi yang selama ini cukup besar dalam struktur anggaran.
Baca Juga: Harga BBM Pertamina Naik Maret 2026, Berikut Rincian Lengkapnya
Salah satu langkah yang direncanakan adalah konversi pembangkit listrik tenaga diesel atau PLTD menjadi pembangkit listrik tenaga surya. Perubahan tersebut diharapkan mampu mengurangi penggunaan bahan bakar diesel sekaligus meningkatkan pemanfaatan energi bersih.
"Sudah barang tentu orientasinya adalah transisi energi bisa kita lakukan dengan cepat, tetapi juga kita bisa mengurangi subsidi. Dengan mengonversi PLTD berbahan diesel ke PLTS akan terjadi efisiensi terhadap subsidi listrik kita sekaligus mendorong percepatan penggunaan motor dan mobil listrik," jelas Bahlil.
Program konversi motor berbahan bakar minyak menjadi motor listrik sebelumnya telah diperkenalkan pemerintah melalui sejumlah uji coba teknologi. Dalam beberapa kesempatan, Kementerian ESDM juga menampilkan motor hasil konversi sebagai bagian dari sosialisasi program elektrifikasi kendaraan kepada masyarakat.
Dengan pembentukan Satgas transisi energi, pemerintah menargetkan koordinasi antarinstansi dapat berjalan lebih efektif. Satgas tersebut juga diharapkan mampu mempercepat penerjemahan kebijakan pemerintah ke dalam langkah teknis di lapangan, termasuk percepatan program konversi kendaraan bermotor dan pengembangan energi terbarukan di Indonesia. (C)
Penulis: Ahmad Jaelani
Editor: Kardin
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS