PT GKP Catat Kinerja Lingkungan Positif Sepanjang 2025, Kualitas Air Limbah 100 Persen Penuhi Baku Mutu
Reporter
Selasa, 20 Januari 2026 / 4:55 pm
Area operasi reklamasi pasca penambangan oleh PT GKP di Pulau Wawonii. Foto: Ist
WAWONII, TELISIK.ID – PT Gema Kreasi Perdana (GKP) mencatatkan sejumlah capaian penting dalam pengelolaan lingkungan sepanjang tahun 2025 di Pulau Wawonii.
Melalui penguatan sistem pengelolaan air, kepatuhan terhadap regulasi, rehabilitasi hutan dan daerah aliran sungai (DAS), reklamasi lahan, hingga penanaman mangrove, perusahaan menegaskan komitmennya menjalankan praktik pertambangan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Salah satu capaian utama PT GKP adalah kualitas air limbah tambang yang tercatat 100 persen memenuhi baku mutu lingkungan sepanjang 2025.
Pencapaian ini didukung oleh penguatan infrastruktur pengelolaan air, termasuk perluasan settling pond yang dilakukan secara bertahap sejak 2023.
“Pengelolaan air menjadi prioritas utama kami. Sepanjang 2025, seluruh hasil pemantauan menunjukkan kualitas air limbah tambang PT GKP konsisten berada di bawah ambang batas baku mutu yang ditetapkan oleh regulasi pemerintah,” ujar Badrus Soleh, Environment & Forestry Superintendent PT GKP.
Baca Juga: Viral Link TikToker Cantik Saylviee yang Vulgar Beredar, Begini Awal Videonya Ramai Dicari
Hingga Desember 2025, total luas settling pond PT GKP telah mencapai 4,88 hektare. Menurut Badrus, perluasan tersebut bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan bagian dari sistem pengendalian lingkungan untuk memastikan aktivitas tambang tidak berdampak pada perairan sekitar.
“Air adalah sumber daya dasar bagi kehidupan. Karena itu, wajib bagi kami untuk mengelola dan menjaganya dengan sangat baik,” tambahnya.
Atas konsistensi kinerja lingkungannya, PT GKP juga berhasil meraih penghargaan PROPER Biru dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI untuk periode 2023–2024.
Penghargaan ini mencerminkan kepatuhan perusahaan terhadap regulasi lingkungan, upaya pelestarian keanekaragaman hayati, serta komitmen terhadap praktik bisnis berkelanjutan.
Di sektor kehutanan, PT GKP merealisasikan Rehabilitasi DAS seluas 743 hektare sepanjang 2025 yang tersebar di Kabupaten Konawe Kepulauan dan Konawe Selatan.
Kegiatan penanaman bibit pohon telah mencapai 100 persen dan dilanjutkan dengan bimbingan teknis pemeliharaan tahun pertama (P1) bersama BPDAS Konaweha.
“Rehabilitasi DAS tidak berhenti pada penanaman. Kami memastikan tanaman dapat tumbuh dan berfungsi secara ekologis. Karena itu, kerja sama dengan BPDAS menjadi bagian penting dari keberlanjutan program ini,” jelas Badrus.
Sementara pada aspek reklamasi, hingga akhir 2025 PT GKP telah mereklamasi lahan seluas 19,77 hektare. Untuk mendukung kegiatan tersebut, perusahaan memproduksi 15.054 bibit tanaman di nursery internal yang digunakan untuk reklamasi dan penghijauan area tambang.
Komitmen lingkungan PT GKP juga menyasar wilayah pesisir. Di sepanjang Pantai Wawonii, perusahaan telah melakukan penanaman 10.000 bibit mangrove sebagai upaya menjaga ekosistem pesisir sekaligus melindungi garis pantai dari abrasi.
Strategic Communication Manager PT GKP, Hendry Drajat, menegaskan bahwa seluruh capaian ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk tumbuh bersama lingkungan dan masyarakat sekitar.
Baca Juga: Judi Online dan Mabuk Picu Kenaikan Perceraian di Wakatobi
“Kami memahami bahwa pertambangan hanya bisa berjalan secara berkelanjutan jika lingkungan dan masyarakat ikut terlindungi. Transparansi dan kinerja lingkungan menjadi fondasi utama operasional kami. Praktik pertambangan yang bertanggung jawab bukan sekadar wacana, tetapi diwujudkan melalui kerja nyata dan terukur,” ujarnya.
Dampak program lingkungan tersebut juga dirasakan langsung oleh masyarakat. Sumarni, warga Desa Teporoko, mengaku melihat perubahan positif terutama di wilayah pesisir.
“Saya terlibat langsung dalam penanaman mangrove dan melihat bagaimana perusahaan melakukan reklamasi dan kegiatan lingkungan lainnya. Upaya ini penting untuk terus dilanjutkan karena manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang, termasuk untuk generasi ke depan,” katanya.
Pandangan serupa disampaikan Guru Besar Jurusan Kehutanan Universitas Halu Oleo (UHO) sekaligus Ketua Umum Asosiasi Mikoriza Indonesia (AMI), Prof. Dr. Ir. Hj. Husna, MP. Ia menilai capaian PT GKP sebagai langkah positif dalam praktik pertambangan nikel di Pulau Wawonii.
“Terjaganya kualitas ekologi dan biodiversitas di Pulau Wawonii merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, hingga sektor swasta. Kepedulian terhadap lingkungan menjadi kunci utama dalam menjaga keseimbangan kelestarian Pulau Wawonii,” jelasnya. (D-Adv)
Penulis: Ana Pratiwi
Editor: Mustaqim
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS