Puber Kedua Dimulai Usia 40 Tahun dan Dorongan Hubungan Ranjang Deras? Begini Fakta Medisnya

Ahmad Jaelani

Reporter

Jumat, 30 Januari 2026  /  11:49 am

Memasuki usia 40 tahun, perubahan emosi dan lonjakan hasrat seksual kerap disebut puber kedua, meski medis membantah. Foto: Repro iStockphoto.

JAKARTA, TELISIK.ID - Memasuki usia 40 tahun, sebagian orang merasakan perubahan emosional, fisik, dan dorongan hubungan ranjang yang meningkat, sering disebut puber kedua.

Meski populer di masyarakat, istilah ini tidak dikenal medis. Dokter menjelaskan fenomena tersebut terkait krisis paruh baya, perubahan hormon, kondisi psikologis, serta dinamika relasi dan kesehatan pada usia dewasa menengah.

Memasuki usia paruh baya sering kali membawa perubahan yang tidak hanya terasa pada kondisi fisik, tetapi juga pada cara seseorang memandang hidup, relasi, dan dirinya sendiri.

Fenomena yang disebut puber kedua sering dikaitkan dengan usia 40 tahun ke atas. Pada fase ini, individu dianggap kembali mengalami kegelisahan seperti saat remaja, mulai mempertanyakan keputusan hidup, hingga muncul keinginan melakukan perubahan besar.

Namun, dalam dunia medis, istilah puber kedua sebenarnya tidak dikenal sebagai suatu kondisi biologis yang berdiri sendiri.

Dalam kajian kesehatan, masa pubertas hanya terjadi sekali, yakni pada masa kanak-kanak menuju remaja akibat perubahan hormon reproduksi. Pubertas umumnya berlangsung pada usia 8 hingga 14 tahun dan ditandai dengan perkembangan organ seksual, perubahan suara, pertumbuhan rambut tubuh, serta perubahan siklus menstruasi pada perempuan.

Baca Juga: Ini Bahan Alami Andalan untuk Kulit Sehat dan Bebas Masalah

Puber Kedua dalam Tinjauan Medis

Melansir Alodokter, Jumat (30/1/2026) dalam dunia medis, perubahan yang dialami orang berusia 40 tahun ke atas lebih tepat disebut sebagai krisis paruh baya atau midlife crisis. Kondisi ini lazim terjadi pada rentang usia 40 hingga 65 tahun dan berkaitan erat dengan faktor psikologis, sosial, serta perubahan hormonal, bukan proses pubertas baru.

Midlife crisis sering muncul ketika seseorang mulai menyadari keterbatasan waktu, perubahan peran sosial, serta pergeseran tujuan hidup. Kesadaran akan bertambahnya usia dan mendekatnya fase lanjut sering memicu refleksi mendalam terhadap pencapaian, relasi, dan arah hidup yang telah ditempuh selama bertahun-tahun.

Berbeda dengan pubertas remaja yang bersifat biologis dan universal, krisis paruh baya tidak dialami oleh semua orang dengan cara yang sama. Ada individu yang melewati fase ini secara ringan, namun ada pula yang merasakan tekanan emosional cukup berat hingga memengaruhi aktivitas sehari-hari.

Faktor Penyebab Munculnya Puber Kedua

Krisis paruh baya dapat dipicu oleh berbagai perubahan besar dalam kehidupan seseorang. Peristiwa seperti perceraian, kehilangan pasangan atau orang tua, perubahan pekerjaan, hingga kondisi kesehatan yang menurun sering menjadi pemicu utama munculnya fase ini.

Selain faktor psikososial, perubahan hormon juga turut berperan. Pada perempuan, penurunan kadar estrogen dan progesteron akibat perimenopause atau menopause dapat memengaruhi suasana hati, energi, serta hasrat seksual. Sementara pada laki-laki, penurunan testosteron secara bertahap dapat memicu kelelahan, perubahan mood, dan penurunan kepercayaan diri.

Penurunan kemampuan fisik akibat penyakit tertentu juga kerap memperkuat perasaan cemas dan ketidakpuasan. Kondisi tersebut membuat seseorang merasa tidak lagi seproduktif sebelumnya, sehingga muncul dorongan untuk kembali merasa muda, baik melalui perubahan gaya hidup maupun penampilan.

Tanda-Tanda yang Kerap Menyertai Puber Kedua

Salah satu ciri utama fase ini adalah munculnya keraguan terhadap hidup yang telah dijalani. Individu mulai mempertanyakan pilihan karier, hubungan, serta keputusan besar yang dibuat pada masa lalu. Keraguan ini sering disertai penurunan kebahagiaan dan kepuasan hidup secara umum.

Perubahan suasana hati juga menjadi tanda yang cukup menonjol. Seseorang dapat menjadi lebih mudah marah, sedih, atau merasa gelisah tanpa sebab yang jelas. Di sisi lain, ada pula yang tiba-tiba ingin mencoba hal baru, mencari tantangan berbeda, atau merasa terdorong melakukan perubahan drastis.

Perubahan pola makan dan konsumsi minuman beralkohol juga dapat terjadi, disertai fluktuasi hasrat seksual yang signifikan. Pada sebagian kasus, muncul pula ketertarikan terhadap relasi baru, termasuk ketertarikan pada pasangan dengan usia jauh lebih muda, meski tidak selalu berujung pada tindakan nyata.

Baca Juga: 4 Racikan Kuno Diklaim Ampuh Dongkrak Gairah Hubungan Ranjang

Dampak Positif dan Cara Menghadapi Puber Kedua

Meski kerap dipandang sebagai fase yang penuh gejolak, puber kedua atau krisis paruh baya tidak selalu berdampak negatif. Fase ini justru dapat menjadi momentum refleksi diri, membuka ruang untuk mengenal diri lebih dalam, serta menata ulang tujuan hidup dengan lebih realistis.

Beberapa langkah dapat dilakukan untuk menghadapi fase ini secara sehat. Menerima perasaan yang muncul dan membagikannya kepada orang terpercaya menjadi langkah awal yang penting. Meluangkan waktu untuk merenungkan perjalanan hidup juga dapat membantu seseorang memahami kebutuhan dan keinginannya saat ini.

Menetapkan tujuan baru, menjalani hobi yang disukai, serta memperkuat relasi dengan pasangan dan keluarga dapat membantu menjaga keseimbangan emosional. Namun, jika perubahan yang dialami dirasa mengganggu pekerjaan, hubungan sosial, atau keseharian, berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater menjadi langkah yang dianjurkan. (C)

Penulis: Ahmad Jaelani

Editor: Kardin

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS