Terjajah dalam Kemerdekaan

Irwan Samad

Penulis

Sabtu, 29 Agustus 2020  /  10:56 am

Irwan Samad, S.PdI, M.Pd, Kepala MA Asy-Syafiiyah Kota Kendari. Foto: Ist.

Oleh: Irwan Samad, S.PdI, M.Pd

Kepala MA Asy-Syafiiyah Kota Kendari

INDONESIA kini telah berusia 75 tahun. Istimewa dari sebelumnya, tahun ini diperingati dalam keadaan pandemi. Sederhana, jauh dari kesan euforia. Nyaris sepi dari gegap gempita.

Upacara memperingati detik-detik kemerdekaan pun, harus beradaptasi dengan kebiasaan baru disertai protokol kesehatan. Tak heran, memakai masker dan physical distancing menjadi bagian tak terpisahkan dalam HUT RI kali ini.

Sebagai bangsa yang memiliki sejarah panjang, 75 tahun bukan waktu yang instan. Ibarat manusia, usia yang boleh disebut lebih dari cukup untuk ukuran kedewasaan dan kematangan.

Kemerdekaan sebagai Rahmat Allah Yang Maha Kuasa, harus diakui telah banyak memberikan transformasi dalam kehidupan berbangsa.

Namun, bukannya tak mensyukuri nikmat kemerdekaan ini, saya merasa agak ironi. Benar, negeri kita telah merdeka, akan tetapi aroma keterjajahan masih saja ada. Sikap kita kepada sesama anak bangsa kadangkala masih diskriminatif. Hukum terkesan hanya milik orang yang berpunya. Ibarat pisau, tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas.

Meskipun telah lepas dari cengkraman penjajah, tapi antara sesama masih saling mencurigai. Dendam tak berkesudahan, tak jarang pula berujung perpecahan. Konflik fisik beberapa tahun lalu, cukuplah menjadi bukti betapa simpul persaudaraan kita sesama anak bangsa perlahan mulai mengendur.  

Isu-isu tak produktif dan provokatif mengalir tanpa hentinya. Bahkan telah mempolarisasi persatuan dan kesatuan kita. Di linimasa media sosial saat ini, begitu banyak konten yang saling menghujat dan “nyinyir”. Bukankah semua itu hanya akan semakin melemahkan semangat persatuan bangsa?

Kesejahteraan dan keadilan sosial sebagai tujuan kemerdekaan itu, akhir-akhir ini justru berada dalam bayang-bayang semu. Terlebih lagi saat pandemi seperti saat ini, membuat bangsa kita kian terpukul. Resesi ekonomi pun menjadi kekhawatiran banyak pihak. Semoga saja tak terjadi.

Bekerja tanpa pamrih seolah-olah hari ini menjadi benda purbakala yang telah memudar di makan usia. Kepedulian dan gotong royong sebagai budaya bangsa, juga telah mengalami kerapuhan.  

Baca juga: Calon Perseorangan, Hukuman Kegagalan Partai Politik

Lihat saja ketika terjadi peristiwa kecelakaan di sekitar kita. Tabrakan misalnya, saksikan apa respon mereka? Alih-alih sigap menolong, justru mereka mengambil android sambil selfie, memalukan!

Sebagian dari kita hanya mau bekerja, menolong sesama jika ada imbalan keuntungan. Sungguh perilaku transaksional seperti ini telah menjadi lumrah. Padahal bukankah dulu para pahlawan kita dengan sukarela mempertaruhkan jiwanya hanya untuk kehidupan kita saat ini dan mendatang?

Saya tidak sedang berpolemik melihat bangsa kita yang kesusahan memikul beban penderitaan. Sebagai anak bangsa, Saya ikut merasakan keprihatinan bangsa kita yang semakin terdampak pandemi. 

Kedisiplinan Absurd

Sebagian dari kita acapkali bersikap ambigu. Dengan lantang kita menentang kekerasan, tapi laku kita justru bagian dari kekerasan itu sendiri. Kita menolak penjajahan, tapi tanpa disadari kita bagian dari “penjajah” itu sendiri. Absurd sekali, anehkan?

Merdeka Belajar begitu populer dalam dunia pendidikan, tapi tak jarang dalam prakteknya, kita tak ubahnya sedang menjajah hati dan perasaan peserta didik.  

Kita jejali kepala peserta didik dengan setumpuk pengetahuan teoritik tanpa peduli apakah mereka paham atau tidak. Kita lalai mengisi ruang hati dan pikiran mereka dengan kreativitas dan kebahagiaan. Kita lebih mengutamakan memberikan asupan pengetahuan, namun kita lupa menghiasi kepribadian mereka dengan akhlak. Akhirnya mereka pun mengalami split personality.

Sikap sebagai powerman dan memposisikan (sebagian) guru sebagai satu-satunya sumber kebenaran di sekolah adalah bagian dari upaya pengkerdilan potensi peserta didik. Kreativitas peserta didik menjadi terpasung oleh sikap kita sendiri. Hasil dari pola pendidikan itu lambat laun akan melahirkan produk pendidikan yang miskin kreativitas, tak mandiri dan hanya mampu menjadi generasi peniru.

Kita tak mampu membedakan antara sanksi dan bullying. Berapa banyak praktek di lembaga pendidikan yang dengan dalih penegakan kedisplinan, tega menjemur peserta didik di bawah terik matahari siang bolong? Berapa banyak praktek pendidikan untuk sebuah alasan pembinaan dengan cara berjalan jongkok sambil melipat tangan di atas.

Atau berapa banyak praktek pendidikan yang dengan alasan memberi pelajaran, menyuruh siswa berdiri dengan satu kaki di depan kelas? Atau dengan ayunan tamparan ke wajah peserta didik? Lalu apa bedanya kita dengan penjajah? Bukankah masih ada cara lain yang lebih edukatif dan humanis?

Tidak sedikit tindakan bullying justru terjadi di lingkungan pendidikan. Tempat yang seharusnya peserta didik menjadi terlindungi. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membeberkan dalam kurun waktu 9 tahun, dari 2011 hingga 2019 ada 37.381 pengaduan kekerasan kepada anak. Untuk bullying baik di pendidikan maupun sosial media, angkanya mencapai 2.473 laporan dan trennya terus meningkat (kpai.go.id).  

Baca juga: Merdeka Belajar untuk Indonesia Maju

Kemerdekaan Sejati

Memaknai kemerdekaan bukan diukur oleh upacara dari tahun ke tahun. Menghormati jasa para kusuma bangsa pun tak sekedar meletakkan karangan bunga atau hormat bendera. Apalagi kalau hanya diukur dari ada atau tidaknya lomba lari karung dan panjat pinang yang kerap terlihat setiap tahunnya. Kalau hanya itu yang ada dalam kepala kita, betapa sangat recehnya makna kemerdekaan itu.  

Kemerdekaan yang telah kita nikmati dari tetesan darah dan deraian air mata para pendahulu kita, seharusnya dapat diterjemahkan sebagai spirit untuk kemajuan bangsa. Semangat patriotisme para kusuma bangsa harus menjiwai aktivitas kita. Sikap pantang menyerah dan optimis harus dapat mewarnai kehidupan kita.

Bangsa kita saat ini sedang tertimpa ujian. Pembangunan di bidang hukum, ekonomi, sosial, kesehatan, pendidikan dan budaya masih perlu terus didorong demi kemajuan dan kesejahteraan bangsa.

Merdeka Belajar sebagai Solusi

Di masa digital seperti saat ini, praktek pendidikan yang berbau kekerasan sudah tidak relevan lagi. Pola-pola otoritarianisme ala “penjajah” yang diperankan dalam dunia pendidikan harus segera diakhiri.

Bukan hanya kontra produktif dengan konsep Merdeka Belajar, akan tetapi bertentangan dengan prinsip-prinsip paedagodik. Dimana tenaga pendidik dan peserta didik dapat saling berbagi untuk menciptakan pembelajaran interaktif, kolaboratif dan menyenangkan. Berbagi inspirasi untuk berkompetisi demi kemajuan bangsa.  

Merdeka Belajar mengusung pesan kemerdekaan dalam berinovasi dan kreatif untuk melayani pendidikan. Kini saatnya untuk bangkit. Saya berpandangan melalui jalur pendidikan kita dapat melakukan perubahan bangsa kita ke arah yang lebih baik.  

Pendidikan memiliki peluang sangat besar untuk menanamkan nilai-nilai karakter dan perubahan secara massif kepada generasi bangsa. Menerjemahkan Merdeka Belajar dalam praktek pendidikan kita. Jangan ada lagi praktek pendidikan yang mencederai nilai-nilai edukasi apalagi di alam kemerdekaan seperti saat ini.

Berikan kesempatan kepada para tenaga pendidik untuk mengembangkan kreativitasnya secara humanis dan inovatif. Karena tenaga pendidik yang kreatif, humanis dan inovatif menjadi kunci untuk meningkatkan kualitas pendidikan kita.  

Tanamkan pendidikan karakter yang jujur, bertanggung jawab, mandiri, peduli, sopan dan religius kepada peserta didik, agar kelak mereka dapat mewarisi kemerdekaan ini di masa yang akan datang, sehingga tidak ada lagi aroma keterjajahan dalam kemerdekaan. Semoga. (*)