adplus-dvertising

3 Sebab Seseorang Tidak Mendapat Syafaat di Hari Kiamat

Haerani Hambali, telisik indonesia
Jumat, 19 November 2021
3030 dilihat
3 Sebab Seseorang Tidak Mendapat Syafaat di Hari Kiamat
Ada tiga sebab seseorang tidak mendapatkan syafaat di hari kiamat. Foto: Repro jadwalkajian.com

" Dalam ilmu kalam, syafaat diartikan sebagai sebuah pertologan yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW kepada umatnya di hari kiamat untuk mendapatkan keringanan atau kebebasan dari hukuman Allah SWT "

KENDARI, TELISIK.ID - Dalam ilmu kalam, syafaat diartikan sebagai sebuah pertologan yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW kepada umatnya di hari kiamat untuk mendapatkan keringanan atau kebebasan dari hukuman Allah SWT.

Dikutip dari kumparan.com, dalam Ensiklopedi Akhirat, Mahir Ahmad Ash-Syufiy (2007:127), syafaat adalah pertolongan atau bantuan yang diberikan kepada orang lain yang mengharapkan pertolongannya. Syafaat juga dapat diartikan sebagai usaha dalam memberikan suatu manfaat bagi orang lain atau mengelakkan suatu mudharat bagi orang lain.

Menurut keyakinan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, syafaat ada berbagai macam. Ada syafaat yang khusus diberikan oleh Rasulullah SAW dan ada juga yang diberikan oleh selain Rasulullah SAW.


Baca Juga: 7 Golongan Manusia Berada di Bawah Naungan Allah SWT Pada Hari Kiamat, Siapa saja?

Berikut ini macam-macam syafaat, dilansir dari kumparan.com:

1. Syafaat Asy-Syafaatul ‘Uzma atau syafaat teragung. Syafaat ini dilakukan oleh Rasulullah SAW dan diberikan saat manusia merasakan dahsyatnya Padang Mahsyar di mana manusia mendatangi Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Isa namun mereka tidak bersedia memberikan syafaat. Akhirnya manusia datang kepada Nabi Muhammad SAW.

2. Syafaat yang kedua adalah syafaat bagi penduduk surga untuk masuk surga.

3. Syafaat ketiga adalah syafaat bagi penduduk surga untuk ditinggikan derajatnya di surga.

4. Syafaat keempat adalah syafaat bagi ahli tauhid yang berada di neraka agar keluar dari neraka.

5. Syafaat kelima adalah bagi kaum yang pantas masuk neraka agar tidak masuk neraka.

6. Syafaat keenam adalah syafaat khusus Rasulullah SAW untuk Abu Thalib, hingga dia diringankan dari azabnya.

Dikutip dari Republika.co.id, sedikitnya ada tiga seban yang membuat seseorang terhalang dari mendapatkan syafaat di hari kiamat.

Pertama adalah ketika seorang Muslim terjebak pada kesyirikan atau melakukan perbuatan yang menyekutukan Allah SWT. Perbuatan ini menjadi halangan untuk memperoleh syafaat. 

Dalam Al-Qur'an, Allah SWT menegaskan bahwa dosa syirik tidak akan diampuni. Sedangkan salah satu syarat mendapatkan syafaat adalah diampuni dosa-dosanya.

Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar." (QS An-Nisa: 48).

Kedua, penyebab terhalangnya syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat, yaitu karena saat menjadi pemimpin tidak bersikap adil kepada rakyatnya, dan bersikap berlebih-lebihan dalam beragama. 

Dalam hadis Abu Umamah disebutkan, Rasulullah SAW menyampaikan bahwa ada dua macam umatnya yang tidak akan mendapatkan syafaat darinya. 

Baca Juga: Besarnya Keutamaan Puasa Sunnah Senin-Kamis

"(Yaitu) pemimpin yang zalim, dan orang yang bersikap berlebih-lebihan (dalam beragama)." (HR Ath-Thabrani dalam Al-Mu'jam Al-Kabir. Al-Haitsami menyebut perawinya tsiqah).

Hadis Abu Hurairah menyebutkan, bahwa pemimpin yang adil itu termasuk tujuh orang yang akan diberikan keteduhan pada Hari Kiamat kelak. Rasulullah SAW bersabda: 

"Tujuh orang akan dinaungi Allah SWT pada Hari Kiamat di bawah bayang-bayang-Nya, (sebab) pada hari itu tidak ada bayangan kecuali bayangan-Nya, yaitu (pertama) pemimpin yang adil.." (HR Bukhari).

Ketiga adalah menyangkal kebenaran syafaat. Hadits riwayat Anas bin Malik menyebutkan, siapa yang menyangkal syafaat maka dia tidak mendapatkan bagian dari syafaat. Sanad hadis ini disahihkan al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya Fath Baari. (C)

Reporter: Haerani Hambali

Editor: Fitrah Nugraha

Artikel Terkait
Baca Juga