Apakah Emosi Bisa Merusak Organ Vital Tubuh Manusia?

Nur Khumairah Sholeha Hasan, telisik indonesia
Sabtu, 03 Juni 2023
0 dilihat
Apakah Emosi Bisa Merusak Organ Vital Tubuh Manusia?
Sebuah penelitian pengobatan tradisional China yang dipublikasikan di US National Institutes of Health's National Library of Medicine mengungkapkan bahwa emosi bisa memengaruhi kesehatan tubuh. Foto: Idntimes.com

" Mengutip Detik.com, sebuah penelitian pengobatan tradisional China yang dipublikasikan di US National Institutes of Health's National Library of Medicine mengungkapkan bahwa emosi bisa memengaruhi kesehatan tubuh, khususnya sistem saraf tepi bagian viseral "

KENDARI, TELISIK.ID - Apakah perasaan seperti marah, sedih, kecewa, khawatir ataupun takut bisa berdampak pada organ vital dalam kesehatan?

Mengutip Detik.com, sebuah penelitian pengobatan tradisional China yang dipublikasikan di US National Institutes of Health's National Library of Medicine mengungkapkan bahwa emosi bisa memengaruhi kesehatan tubuh, khususnya sistem saraf tepi bagian viseral.

Ada tujuh emosi yang disebutkan berkaitan dengan organ-organ vital manusia, yaitu kemarahan berkaitan dengan kesehatan hati, kebahagiaan berkaitan dengan kesehatan jantung, perhatian berkaitan dengan kesehatan jantung dan limpa.

Kesedihan berkaitan dengan jantung dan paru-paru, rasa sedih berkaitan dengan kesehatan jantung, ginjal, hati, dan kantung empedu, perasaan terkejut berkaitan dengan kesehatan jantung dan kantung empedu, serta kecemasan berkaitan dengan kesehatan jantung dan paru-paru.

Baca Juga: Begini Cara Tau Arah Kiblat dari HP

"Dengan demikian, penelitian ini memberikan bukti, dari perspektif kedokteran Asia Timur, bahwa emosi terkait dengan organ viseral, sebuah temuan yang berbeda dari perspektif kedokteran Barat di mana emosi dipahami dalam hal hubungannya dengan daerah otak tertentu, seperti sebagai amigdala," tulis penelitian tersebut.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa jantung berkaitan secara signifikan dengan sebagian besar emosi. Dalam pengobatan Asia Timur, jantung dianggap sebagain pusat pikiran dan emosi.

Selain itu, ahli kesehatan jiwa, dr Dharmawan SpKJ membenarkan bahwa seseorang yang menyimpan emosi atau amarah sehingga menyebabkan stress atau berpikiran negatif akan berpengaruh pada kesehatan organ dalam tubuh.

"Ya, karena akan meningkatkan hormon stress kortisol dan mengaktifkan sistem saraf otonom yang akan merangsang adrenalin dan non-adrenalin sehingga tekanan darah akan naik dan agregasi trombosit naik, aterosklerosis juga naik," ujarnya, dilansir dari Kompas.com.

Kortisol adalah salah satu hormon steroid dan dibuat pada kelenjar adrenal. Sebagian besar sel di dalam tubuh memiliki reseptor kortisol. Oleh karena itu, hormon ini banyak memengaruhi fungsi tubuh kita.

Menurut Dharmawan, hormon stress kortisol ini memicu penyakit-penyakit psikosomatik, seperti asma, neurodermatitis, serangan jantung, stroke, dan autoimun mudah terkena infeksi.

Gangguan psikosomatik atau dikenal sebagai gangguan psikofisiologis merupakan kondisi di mana tekanan psikologis yang berdampak buruk pada fungsi fisiologis (somatik) sampai pada titik stress. Hal ini akan berdampak pada kondisi disfungsi atau kerusakan struktural pada organ tubuh melalui aktivasi yang tidak tepat dari sistem saraf tak sadar dan kelenjar sekresi internal.

Dengan demikian, gejala psikosomatis muncul sebagai penyerta fisiologis dari keadaan emosional. Misalnya, saat seseorang dalam keadaan marah, tekanan darah orang tersebut cenderung meningkat dan denyut nadi serta frekuensi pernapasannya juga meningkat.

Ketika seseorang orang tersebut sudah tidak marah, proses fisiologis yang tadinya meningkat lambat-laun menjadi mereda dan kembali normal.

Baca Juga: Segini Biaya Persiapan Kuliah di Luar Negeri

Dharmawan mengatakan, gejala seseorang terkena penyakit psikosomatik yakni terlihat dari penyakit intinya. "Gejalanya sesuai nama penyakitnya, intinya karena masalah psiko jadi pengaruh pada kelainan di somatik (badan)," ujar Dharmawan.

Mengurangi kadar kortisol Untuk mencegah hormon stress kortisol meningkat, Dharmawan menyebutkan, dapat melakukan pengelolaan stress.

"Ya jangan stress, perlu pengelolaan stress karena stress adalah reaksi emosi terhadap persepsi kita. Persepsi atas suatu kejadian baik diri atau lingkungan kita," ujar Dharmawan. (C)

Penulis: Nur Khumairah Sholeha Hasan

Editor: Kardin

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Artikel Terkait
Baca Juga