adplus-dvertising

Begini Cara Buang Air Kecil yang Benar Agar Terhindar dari Siksa Kubur

Haerani Hambali, telisik indonesia
Kamis, 20 Januari 2022
4252 dilihat
Begini Cara Buang Air Kecil yang Benar Agar Terhindar dari Siksa Kubur
Air kencing termasuk najis yang harus dibersihkan dengan menghilangkan zatnya dari kemaluan kita. Foto: Repro Sindonews.com

" Yang paling banyak menyebabkan seseorang mendapatkan azab kubur adalah karena tidak berhati-hati dalam kencing "

KENDARI, TELISIK.ID - Ketika hendak membuang hajat atau buang air kecil, terdapat aturan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.

Meski terkesan sepele, namun buang hajat atau kencing harus menjadi perhatian agar jangan sampai kotoran atau najis dari air kencing tersebut membuat ibadah salat tidak sah.  

Dikutip dari okezone.com melalui kanal YouTube Lensa Aswaja, Jumat (14/1/2022), kita hendaknya tidak kencing atau buang air kecil sambil berdiri.


Hal itu termuat dalam beberapa riwayat hadis dan fatwa sejumlah ulama.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata: "Siapa saja yang mengabarkan kepada kalian bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam buang air kecil sambil berdiri, janganlah kalian benarkan. Beliau tidaklah buang air kecil kecuali sambil duduk." (HR An-Nasa’i Nomor 29, At-Tirmidzi Nomor 12, dan Ibnu Majah Nomor 307, shahih).

Kemudian dalam riwayat lainnya menyebutkan, dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu: "Aku ingat ketika aku berjalan-jalan bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam, beliau lalu mendatangi tempat pembuangan sampah suatu kaum di balik tembok dan buang air kecil sambil berdiri sebagaimana kalian berdiri. Aku lalu menjauh dari beliau, namun beliau memberi isyarat kepadaku agar aku mendekat. Aku pun mendekat dan berdiri di belakang beliau hingga beliau selesai." (HR Bukhari Nomor 225 dan Muslim Nomor 273). Akan tetapi masih diperbolehkan jika terpaksa buang air kecil dalam keadaan berdiri, apabila memiliki uzur atau halangan. Misalnya seseorang memiliki penyakit, sehingga tidak bisa membuang air kecil dalam keadaan jongkok atau duduk.

Sementara itu, dilansir dari Republika.co.id, Pimpinan Pondok Pesantren Daarul Ma'arif Natar Lampung, KH. Ahmad Ghazali Assegaf, mengatakan bahwa kencing sambil berdiri bagi seorang laki-laki memang tidak dilarang.

Menurutnya, kencing sambil berdiri diperbolehkan jika ia tidak khawatir tidak terkena kotoran dari percikan air kencingnya dan jika ia tidak khawatir atau merasa aman dari penglihatan orang lain.

Dalil tentang dibolehkannya kencing sambil berdiri ini merujuk pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Dikatakan, bahwa suatu hari Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam datang ke sebuah kaum, lalu beliau kencing sambil berdiri. 

Akan tetapi, menurutnya, lebih afdhol (utama) jika kencing dilakukan sambil jongkok atau duduk. Sebagaimana dijelaskan oleh Aisyah r.a dalam hadis yang telah dituliskan di atas.

"Di sini mayoritas ulama mengatakan hukumnya makruh kencing sambil berdiri. Jika bisa duduk atau jongkok, maka lebih baik kencing sembari duduk atau jongkok," kata Ustaz Ahmad kepada Republika.co.id.

Selain lebih bersih dan aman dari najis, kencing sambil jongkok atau duduk juga lebih menyehatkan. Pasalnya, air kencing akan keluar lebih sempurna saat buang hajat dengan duduk atau jongkok serta mengurangi risiko dari penyakit prostat. 

Pada dasarnya, buang air kecil di dalam Islam harus dilakukan dengan tuntas hingga tetesan terakhir. Hal ini dilakukan agar air kencing tidak mengenai pakaian dan anggota tubuh. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bahkan pernah mengingatkan para sahabatnya agar menuntaskan dan membersihkan diri dari kencing. 

Seperti diriwiyatkan oleh Imam al-Daruquthni dari Anas bin Malik, Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Bersihkanlah diri kalian dari air kencing. Karena sesungguhnya kebanyakan siksa kubur berasal darinya."

Dari hadis tersebut bisa dipetik pelajaran bahwa buang air kecil pun tidak boleh dianggap sepele. Sebab, dari kencing yang tidak bersih rupanya bisa menjadi penyebab siksa kubur. 

Baca Juga: Hikmah di Balik Perintah Berbuat Baik Kepada Orang Tua

Karena itu, setelah kencing, Ustaz Ahmad mengatakan, dianjurkan untuk memastikan bahwa air kencing sudah tuntas sampai habis. Hal itu dapat dilakukan di antaranya dengan berdehem.

Dengan berdehem akan menekan bagian saluran pembuangan air kencing. Selain berdeham, juga dapat dilakukan dengan cara mengurut batang kemaluan.

"Dan dalam beberapa percobaan, jika buang air kecil sambil duduk maka dengan sedikit berdiri kemudian ia jongkok lagi. Jika itu sudah dilakukan, Insya Allah air kencingnya sudah habis," tambahnya. 

Dalam kitab Bidayatul Hidayah, Imam Ghazali mengatakan, "Dan hendaknya kamu menuntaskan air kencing dengan berdehem dan disentil sebanyak tiga kali, serta mengurutkan tangan kiri dari bagian bawah batang kemaluan." 

Sebuah riwayat menjelaskan mengenai seorang yang diazab di alam kubur karena menyepelekan urusan kencing.

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam telah mengabarkan hal tersebut dalam hadis berikut.

"Suatu hari Rasulullah pernah berjalan melewati dua makam, lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya penghuni kedua makam ini sedang menjalani siksaan. Mereka berdua disiksa bukan karena dosa besar. Salah seorang dari keduanya adalah orang yang selalu tidak bersih bersuci dari buang air kecil (kencing), sedangkan yang kedua adalah orang yang suka mengadu domba.” (HR. Al-Bukhari, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Baihaqi).

Baca Juga: Kekuatan Doa, Mengubah yang Mustahil Menjadi Mustajab, Ini Penjelasannya

Dari Abu Hurairah radhiyallahu an'hu diriwayatkan bahwa ia berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

"Yang paling banyak menyebabkan seseorang mendapatkan azab kubur adalah karena tidak berhati-hati dalam kencing," (Shahih Sunan Ibnu Majah (1/61) (278). (C)

Reporter: Haerani Hambali 

Artikel Terkait
Baca Juga