adplus-dvertising

Masya Allah, Ini Kesaksian Aisyah Tentang Salat Malam Rasulullah

Haerani Hambali, telisik indonesia
Jumat, 04 Februari 2022
3531 dilihat
Masya Allah, Ini Kesaksian Aisyah Tentang Salat Malam Rasulullah
Sungguh, sangat banyak yang harus disyukuri seorang hamba. Nikmat tersebut baru akan terasa nilainya ketika Allah Ta’ala mencabutnya. Foto: Repro bangkitmedia.com

" Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam tidak pernah meninggalkan salat malam, yang pahalanya sangat dahsyat dan derajatnya sangat tinggi dibandingkan salat-salat sunnah lainnya "

KENDARI, TELISIK.ID - Dalam sebuah hadis, Nabi Muhamamd Shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Batas antara kufur dan Islam itu salat."

Tiap Muslim diwajibkan mendirikan salat 5 waktu sehari semalam. Selain salat fardhu, ada banyak salat sunnah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah.

Salah satunya adalah salat malam atau salat tahajud yang pahalanya sangat dahsyat dan derajatnya sangat tinggi dibandingkan salat-salat sunnah lainnya.


Rasulullah tidak pernah meninggalkan salat malam. Tapi karena dianggap memberatkan umat karena sulit bagi banyak orang bangun tengah malam, maka salat ini tidak diwajibkan.

Mengutip Republika.co.id, Sallamah Muhammad Aby Al Kamal dalam Mukjizat Salat Malam menjelaskan, suatu hari, Aisyah ditemui 'Amr bin 'Ubaid dan 'Atha. Keduanya berkata kepada Aisyah, "Beritahukanlah kepada kami sesuatu yang paling mengesankan yang pernah engkau lihat pada Nabi Muhammad SAW?"

Aisyah berkata, "Adakah sesuatu yang tidak mengesankan pada diri beliau? Baiklah, ada satu hal yang paling mengesankanku. Pada suatu malam, beliau mendekat kepadaku hingga kulit beliau bersentuhan dengan kulitku. Lalu beliau berdiri dan berkata, "Hai, Aisyah biarkanlah aku beribadah kepada Tuhanku." Aku berkata, "Ya Rasulullah, demi Allah aku ingin dekat denganmu, tetapi aku tidak bisa mencegah keinginanmu."

"Beliau berdiri lalu salat dan menangis hingga air matanya membasahi janggutnya. Kemudian beliau rukuk dan menangis hingga air matanya membasahi pangkuannya. Lalu, beliau bersujud dan menangis hingga air matanya membasahi tempat sujudnya.

Baca Juga: Misi Utama Jin, Membuat Pasangan Suami Istri Bercerai

Setelah selesai aku berkata, ''Wahai Nabi, bukankah Allah telah mengampuni semua dosamu?'' Beliau menjawab, ''Hai Aisyah, apakah tidak boleh aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?'' (HR bukhari, Muslim, at-Tirmizi, al-Nasai, Ibnu Majah dan Ahmad).

Dikutip dari okezone.com, dalam riwayat lain disebutkan, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam melakukan salat begitu panjang sehingga kakinya bengkak.

Sebagian sahabat berkata, "Ya Rasulullah, mengapa engkau berletih-letih dalam mendirikan salat, padahal Allah Ta’ala telah mengampunimu?

Rasulullah bersabda, “Tidaklah sepatutnya aku menjadi hamba yang bersyukur. " (H.R Imam Bukhari).

Itulah kebiasaan yang dilakukan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam dalam melewati malamnya. Dan kebiasaan ini ditularkan Rasulullah kepada putrinya, Fatimah. Salah satu kebiasaan Rasulullah adalah selalu mengetuk pintu rumah Fatimah dan Ali pada malam hari. Kepada mereka, beliau selalu berkata, ''Bangunlah dan salatlah!'' Kebiasaan ini pun diikuti para sahabatnya.  

Baca Juga: Yuk, Gandeng Orang Tua Kita Masuk Surga dengan Melakukan Amalan Ini

Demikianlah Rasulullah mencontohkan hakikat dari ibadah bukanlah sebatas “pelunas utang” atau pembersih diri dari dosa. Ibadah adalah luapan rasa syukur kepada Allah.

Sungguh, sangat banyak hal-hal yang harus disyukuri seorang hamba. Nikmat tersebut baru akan terasa nilainya ketika Allah Ta’ala telah mencabutnya. Jadi, sebelum Allah mencabut nikmat itu, syukurilah keberadaannya.

"Dan, jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menghitungnya (karena banyaknya). Sesungguhnya, Allah benar-benar Maha Penyayang." (QS an-Nahl [16] : 18).

Ketika seorang hamba sudah mengetahui hakikat ibadahnya sebagai bentuk syukur, saat itulah ibadah bisa menjadi perisainya. Seorang yang menunaikan kewajibannya dan juga menambahnya dengan ibadah-ibadah sunnah akan bermuara pada kecintaan Allah. Ketika ia sudah mendapatkan cinta Allah, seluruh aktivitas yang ia jalani di muka bumi adalah restu dan rida dari Allah SWT. (C)

Reporter: Haerani Hambali

Artikel Terkait
Baca Juga