adplus-dvertising

PDIP Ancam Kerahkan Massa, Ray Rangkuti: Tidak Perlu Disikapi Berlebihan

Rahmat Tunny, telisik indonesia
Jumat, 26 Juni 2020
716 dilihat
PDIP Ancam Kerahkan Massa, Ray Rangkuti: Tidak Perlu Disikapi Berlebihan
Direktur Lingkar Madani, Ray Rangkuti. Foto: Internet

" Tokh, ini bukan kali pertama kekecewaan masyarakat atas hasil legislasi di DPR. Sejak penetapan UU KPK yang baru, pembahasan RUU KUHP, RUU Cipta Lapangan Kerja, UU Minerba dan kemarin rencana pembahasan RUU HIP. Semua dilakukan dengan menerabas berbagai kritik dan keberatan publik. "

JAKARTA, TELISIK.ID - Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan lewat Ketua Umumnya Megawati Soekarnoputri meminta seluruh kader partai rapatkan barisan, untuk menuntut pelaku pembakaran bendera partai saat aksi demonstrasi penolakan RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP) di Gedung DPR, MPR-RI pada, Rabu (24/6/2020).

Seruan ini sontak mendapat respon dari berbagai pihak, termasuk Direktur Lingkar Madani Ray Rangkuti. Menurut Rangkuti, pembakaran bendera PDIP pada aksi tolak RUU HIP baiknya tidak perlu disikapi karena akan meruncingkan suasana antar sesama anak bangsa.

"Pembakaran bendera PDIP pada aksi tolak RUU HIP tidak perlu disikapi berlebihan, apalagi disikapi dengan pengerahan massa atau membawanya ke ranah hukum. Sikap berlebihan hanya akan meruncingkan suasana," kata Ray Rangkuti lewat pesan tertulisnya yang diterima Telisik.id di Jakarta, Jumat (26/6/2020).


Padahal, kata Rangkuti, Presiden Joko Widodo alias Jokowi berulangkali menyatakan agar seluruh warga saling menahan diri, untuk menjaga kondusifitas negara dari pada memperuncing suasana.

"Tokh, ini bukan kali pertama kekecewaan masyarakat atas hasil legislasi di DPR. Sejak penetapan UU KPK yang baru, pembahasan RUU KUHP, RUU Cipta Lapangan Kerja, UU Minerba dan kemarin rencana pembahasan RUU HIP. Semua dilakukan dengan menerabas berbagai kritik dan keberatan publik," ucapnya.

Baca juga: Sejarah Masjid Raya Medan Menjadi Daya Tarik Wisatawan

"Sosialisasi minim, etika legislasi sering diabaikan, dan minim partisipasi. Jika dilihat dalam kerangka panjang dan besar ini, maka kekecewaan demonstran itu bisa dipahami. Kekecewaan sekaligus ketakutan bahwa partai-partai di DPR akan terus mengabaikan protes dan kritik publik," sambungnya.

Untuk itu, lanjut Rangkuti, ini adalah akumulasi dari berbagai kekecewaan dan kekhawatiran masyarakat. Tentu di samping subtansi RUU yang dipersoalkan, sikap keras menghadapi aspirasi warga tidak akan menghasilkan kesejatian bangsa.

"Alih-alih kesejatian, yang muncul adalah warga yang terus merasa terabaikan, terpinggirkan dan tentu saja rasa tidak puas yang dalam," jelasnya.

Oleh karena itulah, baiknya demonstrasi dan juga pembakaran bendera salah satu partai itu dilihat dalam rangka tidak maksimalnya pendekatan partai terhadap rakyat.

"Dan terbentuknya jarak yang makin dalam antara partai dengan rakyat," tutup Rangkuti.

Reporter: Rahmat Tunny

Editor: Sumarlin

Baca Juga