Perempuan Ambisius Masih Dipandang Negatif, Akademisi Kritik Tren Tradwife
Erni Yanti, telisik indonesia
Kamis, 04 Juni 2026
0 dilihat
Ilustrasi seorang perempuan menyiapkan makanan di dapur rumah. Foto: shutterstok.com
" Tren tradwife (traditional wife), soft girl, dan feminine energy yang semakin populer di media sosial "

KENDARI, TELISIK.ID - Tren tradwife (traditional wife), soft girl, dan feminine energy yang semakin populer di media sosial menuai perhatian kalangan akademisi.
Di balik konten estetik yang menampilkan sosok ibu rumah tangga ideal, tren tersebut dinilai berpotensi membatasi ambisi perempuan dan memperkuat standar ganda dalam masyarakat.
Dilansir dari theconversation.com, Rabu (3/6/2026), Dosen Universitas Brawijaya, Fitri Hariana Oktaviani, mengulas fenomena tersebut dalam artikel yang diterbitkan The Conversation Indonesia pada 3 Juni 2026.
Menurutnya, tren tradwife bukan sekadar pilihan gaya hidup, melainkan dapat menjadi mekanisme sosial baru yang secara halus mengarahkan perempuan kembali pada peran domestik.
Konten tradwife umumnya menampilkan perempuan yang bangun pagi, menyiapkan sarapan untuk keluarga, mengurus rumah dengan tenang, hingga menyambut suami sepulang kerja.
Narasi yang menyertainya sering menekankan bahwa perempuan akan lebih bahagia jika meninggalkan tekanan dunia kerja dan kembali pada apa yang disebut sebagai "energi feminin".
Fitri menegaskan bahwa persoalan utamanya bukan pada pilihan perempuan menjadi ibu rumah tangga. Menurutnya, menjadi ibu rumah tangga merupakan pilihan yang sah dan patut dihormati.
Baca Juga: Italian Bob dan Boy Bob Jadi Tren Rambut Pendek Favorit 2026
Namun, masalah muncul ketika algoritma media sosial dan budaya digital memberikan apresiasi lebih terhadap model femininitas tertentu, sementara perempuan yang terbuka menunjukkan ambisi karier justru kerap dipandang negatif.
"Perempuan yang ambisius sering dianggap terlalu agresif, terlalu dominan, atau kurang feminin. Sementara laki-laki dengan karakter serupa justru dinilai visioner dan memiliki jiwa kepemimpinan," tulisnya.
Dalam kajian gender, kondisi tersebut dikenal sebagai double bind, yakni situasi ketika perempuan menghadapi dua tuntutan yang saling bertentangan. Di satu sisi mereka dituntut kompeten, tegas, dan mampu memimpin, tetapi di sisi lain harus tetap terlihat lembut, hangat, dan tidak mengintimidasi.
Fitri menilai tren tradwife dan feminine energy muncul sebagai respons terhadap kelelahan akibat budaya kerja modern yang kompetitif.
Namun, sebagian konten dinilai justru mengalihkan fokus dari kritik terhadap sistem kerja yang tidak ramah perempuan menjadi kritik terhadap perempuan yang memilih berkarier.
Ia menyebut fenomena tersebut sebagai bentuk neo-ibuisme digital", yakni kondisi ketika perempuan tetap diperbolehkan bekerja dan hadir di ruang publik, tetapi nilai mereka masih diukur berdasarkan kemampuan memenuhi standar domestik tertentu.
Menurutnya, konsep tersebut memiliki kemiripan dengan ideologi ibuisme negara pada era Orde Baru yang menempatkan perempuan terutama sebagai pendamping suami dan pengurus rumah tangga.
Bedanya, jika dahulu kontrol dilakukan melalui kebijakan negara, kini pengaruh tersebut hadir melalui algoritma media sosial, influencer, dan tren digital.
Fitri juga mengingatkan bahwa romantisasi kehidupan domestik dapat memengaruhi kondisi psikologis perempuan.
Tidak sedikit perempuan yang akhirnya merasa bersalah ketika mengejar karier atau takut dianggap terlalu ambisius karena khawatir dicap tidak feminin.
Baca Juga: Penuh Haru, Deretan Artis Indonesia Jalani Ibadah Haji 2026 di Tanah Suci
Padahal, menurutnya, ambisi bukanlah ancaman bagi keluarga maupun masyarakat. Ambisi merupakan dorongan yang memungkinkan seseorang berkembang, berkontribusi, dan mencapai potensi terbaik dalam hidupnya.
Karena itu, Fitri mendorong hadirnya narasi yang lebih sehat mengenai perempuan dan ambisi. Perempuan, kata dia, seharusnya memiliki kebebasan menentukan pilihan hidupnya sendiri, baik sebagai ibu rumah tangga maupun perempuan karier, tanpa tekanan sosial dan tanpa rasa bersalah.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa masyarakat perlu lebih kritis dalam menyikapi berbagai tren di media sosial, terutama yang secara tidak langsung dapat membatasi pilihan dan ruang gerak perempuan dalam kehidupan sosial maupun profesional. (C)
Penulis: Erni Yanti
Editor: Kardin
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS